Juni 25, 2012

Awal dari Sebuah Mimpi Besar: Bagian Dua


Aku bermimpi mendirikan sekolah.

Untuk mengingat kembali apa yang sebenarnya mendasari mimpi besarku ini, aku perlu mundur beberapa tahun ke kisah-kisah masa silam. Mungkin akan panjang jadinya kisah ini, maka akan kubagi ke dalam beberapa potongan. 

Sebelumnya:

---------------------------------------------------------------------------------------


Dua

Masa SD-ku pun tak jauh berbeda dengan masa TK. Hanya saja, ketika SD, aku mulai mengenal yang namanya ‘teman’. Sebelumnya aku hanya memandang orang lain yang sekelas denganku sebagai ‘kenalan’, orang lain yang kebetulan punya urusan yang sama denganku di tempat itu. Tapi semua itu berubah ketika aku menemukan sebuah kenyamanan dalam hubungan antar manusia yang memiliki sedikit-banyak kesamaan dalam memandang segala sesuatu. Aku menemukan orang-orang yang bisa kupanggil teman.

Pada akhir kelas 1 SD, aku menyadari adanya pembedaan kelas di sekolahku, yaitu kelas A dan kelas B. Murid-murid kelas A adalah anak-anak rajin belajar dengan nilai akademik tinggi dan memiliki prestasi yang menjanjikan di bidang-bidang lain, sedangkan kelas B adalah—yah, sisanya. Entah karena kebetulan atau keberuntungan, aku masuk dalam kelas A. Aku sama sekali tak ambil pusing terhadap pembedaan kelas ini, sebenarnya. Aku tidak peduli masuk yang mana, yang penting sekolah. Sampai suatu hari ketika pertemuan orang tua, aku datang bersama ibuku, dan—sebagai makhluk sosial—ibuku terlibat dalam percakapan dengan orang tua murid lain, dan kira-kira beginilah percakapan yang kudengar di sana-sini saat itu:

Ortu A: “Ibu anaknya yang mana?”
Ibuku: (menggandeng tanganku) “Ini, namanya Sarah. Kelas 2.”
Ortu A: “Oh, sama, ini anak saya juga kelas 2. Namanya (silakan isi nama apapun, soalnya aku lupa =P). Alhamdulillah, kelas 2A. Kalau Sarah ini kelas 2 apa, Bu?”
Ibuku: (bingung, lalu menoleh padaku) “Kelas apa, nak?”
Aku: “2A.”
Ortu A: “Waaah, sama dong. Pinter dong berarti, Bu. Yang masuk kelas A kan cuma yang pinter-pinter, yang nilainya bagus.”

Lalu barulah aku menyadari hal itu, bahwa pembedaan kelas ini adalah big deal. Aku mendengar percakapan-percakapan serupa di sana-sini antara orang tua lain. Saling memamerkan keberhasilan anaknya masuk kelas A, beberapa menyanjung-nyanjung anaknya yang mengikuti beberapa macam les dalam sehari, beberapa membanggakan rangking kelas anaknya cawu—singkatan caturwulan, kalau kau masih ingat—lalu. Kenyataan ini menghampiriku dengan telanjang hingga aku tersentak. Tak pernah terpikir di otak-kelas-2-SD-ku bahwa “nilai mata pelajaran yang tinggi” adalah sesuatu yang penting. Lihat betapa ibuku kebingungan ketika ditanya aku masuk kelas apa? Ibuku pun tak pernah menanyakan hal-hal teknis macam itu soal sekolah. Ibuku hanya menyiapkanku sebelum berangkat, menyambutku pulang, dan menanyakan soal hal baru apa yang kudapatkan pada hari itu dan bagaimana teman-temanku, tapi sungguh TIDAK PERNAH SEKALIPUN ibuku meributkan soal nilai ulangan—sebutan untuk ujian kala itu. Kalaupun menanyakannya, dan aku menjawabnya, tidak pernah terjadi penghakiman apakah nilai itu “bagus” atau “buruk”. Ibuku menerima semua nilai-nilaiku—yang kalau kuingat-ingat lagi sekarang, nggak bagus-bagus amat—begitu saja tanpa banyak berkomentar. Terbiasa seperti itu, aku menjadi acuh terhadap nilai, yang setelah mengetahui esensi sebenarnya dari pembedaan kelas 2 itu, mengubah pandanganku terhadap banyak hal.

Aku mulai melakukan sedikit usaha untuk meraih nilai tinggi, karena aku menyadari bahwa—lepas dari tidak adanya tuntutan dari orang tuaku—dapat meraih nilai tinggi memberiku sebuah kepuasan. Kepuasan karena aku berusaha, dan aku mendapatkan hasil dari usaha tersebut. Aku belajar untuk tiap mata pelajaran, dan aku menyadari bahwa aku bagus di pelajaran bahasa dan IPS, tapi sangat payah di pelajaran matematika dan IPA. Aku masih ingat bahwa aku pernah mendapat nilai 2 untuk ulangan matematika. Nilai 2 dari 10. Teman-temanku yang lain bisa nangis jerit-jerit nggak mau pulang karena takut dimarahi orang tuanya kalau dapat nilai segitu. Tapi aku, sekali lagi, tidak peduli.

Namun ketidakpedulian itu tidak bisa berlanjut lama. Seiring aku naik kelas, semakin kurasakan adanya beban yang kuemban sebagai murid kelas A. Setelah mengetahui adanya sebuah prestise yang dibawa nama “A” ini, aku merasa harus mempertahankannya. Padahal kuberi tahu kau, teman-teman sekelasku ketika SD adalah, seperti biasa kubilang, adalah para monster. Monster-monster berotak luar biasa yang diiringi dengan mental juara. Mental rangking sepuluh besar. Aku ingat ada beberapa temanku yang langganan ikut lomba ini-itu, bahkan sampai jadi juara olimpiade-di-jakarta-entah-apa-aku-lupa yang menuntut mereka belajar terus-terusan sampai ada yang sakit. Aku sekelas dengan orang-orang luar biasa. Bukan anak SD biasa.

Ada banyak sekali waktu dimana aku merasa sangat minder. Rendah diri. Merasa tidak yakin apakah aku memang pantas berada di situ, duduk dalam ruangan yang sama dengan mereka. Kepercayaan diriku runtuh di luar kuasaku. Aku jadi sangat membenci sekolah. Aku benci karena seberapapun aku berusaha, nilai matematika-ku tak pernah bagus. Aku benci karena payah dan selalu menjadi bahan tertawaan saat pelajaran olahraga. Aku benci karena banyak sekali pelajaran yang tidak kusukai tapi harus kupelajari. Aku benci karena hanya libur di hari minggu. Aku menemukan banyak sekali hal yang membuatku jadi enggan ke sekolah. Ketika ayahku ke luar kota dan hanya ada ibu di rumah, biasanya aku membolos saja. Ibuku selalu membolehkan aku membolos, asal perilaku-ku di sekolah baik-baik saja dan aku tetap naik kelas. Tapi kalau ada ayah, aku tak pernah berani coba-coba. Pernah sekali aku membolos sepengetahuan ayahku, dan ia bahkan tak segan-segan mengambil ikat pinggang dari kulit untuk memukuliku. Mengerikan. Aku hanya bolos kalau ayahku sedang tidak di rumah.

Apa yang terjadi? Apa yang salah?

Meskipun mulai memiliki teman, aku belum menemukan hal menyenangkan dari sistem “wajib belajar” ini. Aku tidak menemukan masa depanku darinya ketika itu. Belajar selama enam tahun di SD hanya memberiku banyak sekali pertanyaan tak terjawab akan ketidakpuasan dan kekecewaan yang kurasakan. Patutkah aku merasa seperti itu? Atau sebenarnya aku hanya seorang anak SD kelewat melankolis yang terlalu mengada-ada?

Entahlah, toh aku berhasil lulus dengan nilai lumayan—lumayan bagiku, setidaknya. 8,33 untuk matematika dan 9,33 untuk Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Lihat? Belajar selama enam tahun pun hanya ketiga pelajaran itu yang pada akhirnya menjadi penting. Bingung aku.

Dengan membawa kebingungan, aku melanjutkan masuk SMP. Beberapa pemikiran telah muncul dalam benakku, namun belum bisa kususun.


Ini pun masih awalnya, meskpun aku mulai bisa melihat sesuatu. 




-to be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar