Juni 16, 2012

Awal dari Sebuah Mimpi Besar: Bagian Satu


Aku bermimpi mendirikan sekolah.

Untuk mengingat kembali apa yang sebenarnya mendasari mimpi besarku ini, aku perlu mundur beberapa tahun ke kisah-kisah masa silam. Mungkin akan panjang jadinya kisah ini, maka akan kubagi ke dalam beberapa potongan.

----------------------------------------------------------------------------------------------


Satu

Sepanjang yang kuingat, aku tak pernah menyukai yang namanya ‘sekolah’. Aku pernah masuk Taman Kanak-kanak (disingkat TK, kalau kau masih ingat) ketika berusia lima tahun, dan masa-masa itu sama sekali bukan masa yang menyenangkan bagiku. Waktu itu, aku sudah mempelajari semua yang diajarkan di TK dari ibuku. Beliau mengajariku membaca, menulis, menggambar, mewarnai, dan menyusun balok jauh hari sebelum aku masuk TK. Mungkin ini terkesan sangat nggaya, tapi aku jadi merasa luar biasa bosan di TK setiap hari, mempelajari hal yang sama berulang-ulang. Ditambah lagi karena badanku yang gendut (dan unyu sangat sebenarnya =33) aku jadi sering diejek oleh teman-temanku yang badannya bengkring-bengkring kayak bambu. Waktu TK, aku sering di-bully, atau dalam bahasa Sastra Jepang yang sering kupakai sekarang—di’ijime’. Semakin malas lah aku ke TK. Padahal kalau kupikir-pikir lagi sekarang, sebenarnya tak ada alasan dulu aku harus diijime. Kenapa aku tidak pernah terinspirasi oleh film-film Amerika dimana anak berbadan besar lah yang mengijime teman-temannya? Kenapa di Indonesia lebih sering terjadi anak berbadan gendut diijime oleh teman-teman kecilnya yang sebenarnya sekali sentil bisa terbang jungkir balik? Aneh memang, mengingat betapa pengecutnya diriku dulu. Dan semua itu membuatku sama sekali tidak menikmati masa TK, hingga akhirnya aku membolos nyaris setiap hari. Ibuku tahu aku memang sudah menguasai semua yang diajarkan, maka dibiarkannya saja aku.

Selain tidak menikmati pelajaran dan teman-temannya, aku juga tidak pernah menyukai suasana dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang terjadi di sana. Aku tak suka keramaian, maka aku selalu menjadi yang paling akhir ketika mereka semua berebutan mengambil snack siang hari. Aku selalu menjadi yang paling akhir ketika mereka semua berebutan mengambil krayon dalam kotak yang diberikan Ibu Guru setiap pelajaran menggambar. Aku selalu menjadi yang paling akhir ketika mereka semua berebutan mengambil balok-balok kayu saat kami bermain. Aku tidak suka berebut. Lebih baik tidak usah mendapatkan apa-apa daripada harus berebut. Saat itu pun aku selalu mendapat sisa, namun aku tahu bahwa aku selalu bisa membuat sesuatu yang lebih daripada teman-temanku yang lain, dan itu membuatku menjadi sedikit sombong. Tak kurasakan lagi perlunya aku datang ke tempat itu.

Aku masih ingat benar bahwa total kehadiranku di kelas saat TK hanya selama tiga bulan. Sisanya, aku membaca, menulis, menggambar, mewarnai, dan menyusun balok sendiri di rumah. Hanya seperti itulah aku melewatkan masa TK-ku. Dan tanpa melewati kelas Nol Besar—kalau kau masih ingat, aku langsung lompat masuk ke SD di usia 6,5 tahun.

Tiga bulan. Tak berkesan, bahkan tak kusesali sama sekali ketidakhadiranku di tempat itu.


Tapi ini baru awalnya. 


-to be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar