Desember 15, 2018

Nostalgia, Apologia


Aku selalu menganggap seluruh diriku adalah sebagian dari dirimu, meskipun diam-diam kau tidak.

---
Kuperhatikan gurat-gurat waktu seusia tujuh dekade di kulit wajahmu yang hanya berusia 55 tahun. Warna putih yang menerjang rambut hitammu secara tidak merata, seperti buih ombak membasahi sepetak pasir tapi membiarkan sepetak di sebelahnya kering. Keringat membasahi sekujur tubuhmu yang membujur tak berdaya di atas ranjang pasien, dengan berbagai kabel dan pipa bergelayutan di dada dan lenganmu, sementara masker oksigen terpasang di atas hidung dan mulutmu—rasa sentuhan semuanya kuingat secara samar-samar saja.

Tapi lalu tertangkap olehku matamu yang memandangku, yang memerah oleh lelah dan menguning oleh kondisi kesehatanmu yang compang-camping. Muncul sorot yang telah lama hilang, yang kusadari telah lama pula kurindukan. Mungkin aku hanya membayangkannya, karena aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali pandangan kita bertemu secara sengaja. Tapi aku berusaha memancarkan sorot yang sama dari mataku, sebagai usahaku agar apabila itu adalah hal terakhir yang kau pancangkan dalam ingatanmu, maka kuharap itu akan memberimu kedamaian.

Sementara itu, kedamaian di dalam diriku entah ada di mana dan harus kucari.

Aku mencebur dan menyelam di kedalaman hati, menyeruak di antara lapisan dingin dan sepi, mencari-cari sekelumit rasa hangat yang dulu pernah memenuhi kedalaman ini, sebelum digusur oleh dinginnya dendam dan sepinya amarah. Dendam yang kusimpan perlahan-lahan hingga ia mendingin dan membeku, dan amarah yang kupendam diam-diam sehingga ia takkan bersuara—semuanya berkumpul dan mengerak nyaris di kedalaman terbawah hati ini—kecuali apabila di bawah kerak itu, di lapisan terbawah yang melindungi sang Inti, masih tersisa rasa hangat yang damai itu, yang pernah ada dan berhasil merayu kita untuk menjelajahi belantara perkawinan selama 30 tahun, meskipun pada akhirnya ia hanya terucap lisan selama 10 tahun pertama kemudian entah tersesat atau malah buyar diguyur hujan badai yang tak hentinya mendera belantara itu.

Tapi, kerak dingin itu terlalu tebal dan kuat, mengintip ke baliknya pun aku tak bisa. Aku tak tahu apakah rasa itu masih ada di sana, atau segalanya hanya sugesti yang kudapatkan dari konsumsi berlebihan romantisme yang dijual di televisi. Aku tahu bahwa dengan sedikit usaha, seharusnya aku bisa menjebol kerak itu. Tapi, apakah usaha itu layak untuk dilakukan? Di dalam kerak itu adalah ketidakpuasanku atas pengkhianatanmu terhadap janji pernikahan kita—untuk selalu saling mencinta, menghargai, dan menjaga kebahagiaan satu sama lain. Pada satu titik, kau mulai menyimpan banyak rahasia. Rahasia menimbulkan kecurigaan, kecurigaan memancing ketidakpercayaan, dan sungguh betapa mudah benih kebencian itu tumbuh, merambat cepat dan subur bagaikan rumput liar. Waktu kebersamaan kita telah lama hilang, lalu rasa saling percaya kita pun terkikis, hingga tanpa kau sadari, anak-anak kita pun kau renggut dari hidupku. Lihatlah kamar ini, bahkan dengan kondisimu yang kritis seperti ini, tak satu pun dari mereka datang menengok. Keduanya sedang menempuh pendidikan di luar negeri, dan tidak saja mereka tak sampai hati merogoh kocek untuk membeli tiket pesawat pulang, meneleponmu sejak kau dirawat di rumah sakit pun tidak.

Mungkin kau dan aku telah bersalah. Kau bersalah sebagai suami dan ayah, aku bersalah sebagai istri dan ibu. Ini adalah kekhilafan kita sebagai pasangan suami-istri dan orang tua, yang akan kita bawa sampai ke liang lahat, atau bahkan ke dunia setelahnya seandainya tempat itu memang ada.

Malam itu, sebelum aku pulang ke rumah, kau memandangku sedemikian rupa seakan ini kencan pertama kita. Esoknya saat aku datang lagi, kau telah pergi meninggalkan segala yang ada di dunia, dalam diam dan sendirian, tanpa seorang pun menemani di samping ranjangmu, tanpa sepatah pun penjelasan untuk sedetik kemesraan dalam tatapan terakhirmu.

Pada hari Kamis pagi, suamiku meninggal dunia.

---

Pemandangan di luar jendela sungguh luar biasa.

Pesawat kecil yang kutumpangi telah melayang turun, dan kendatipun guncangannya begitu besar, tak mengurangi minatku untuk menikmati hamparan hijau sawah dan pepohonan, bentang biru laut yang melenggak-lenggok menepi kepada pantai, dan garis-garis sungai yang malang-melintang memanjang di daratan, serta segelintir warna bata genteng rumah-rumah yang mulai terlihat tak terhalang awan.
Beberapa saat kemudian, pesawat telah mendarat di Bandara Aek Godang, dan untuk pertama kalinya setelah 25 tahun, aku kembali menghirup udara di tanah kelahiranmu, kabupaten Tapanuli Selatan, provinsi Sumatra Utara.

Bandara Aek Godang merupakan bangunan sederhana, bertembok putih dan berukuran tak lebih besar daripada kantor balai desa di sebuah kampung kecil. Para penumpang yang baru turun berjalan sedikit menyeberangi lintasan pesawat untuk masuk ke area kedatangan. Di antara area lintasan pesawat dan jalan di luarnya hanya dibatasi bentangan kawat, sehingga aku takkan heran kalau suatu waktu ada kucing atau anak iseng kalah taruhan yang menerobos kawat itu dan dengan sengaja atau tidak berpotensi mengakibatkan masalah besar di bandara ini.

Seperti sudah kuduga, area kedatangan sangat sempit dan ban berjalan bagasi juga sangat pendek, sehingga kami harus berdesakan saat menunggui koper. Setelah menyambar koper, aku segera melesat keluar sebelum ada seseorang yang mengajakku berbasa-basi—kegiatan itu jadi terasa menyebalkan sejak kepergianmu, karena apabila seseorang bertanya untuk apa aku ada di sini dan kujawab karena suamiku berasal dari sini, orang itu akan bertanya lagi sampai pada akhirnya aku harus menjelaskan kematianmu dan segala tetek-bengeknya, dan sungguh semua itu masih terasa menyakitkan bagiku.

Sudah hampir enam bulan sejak kematianmu. Sorot mata terakhirmu sebelum kau pergi dalam bisu masih menghantuiku sampai sekarang, bagaikan sebuah misteri yang harus kupecahkan. Setelah berbagai usaha sia-sia untuk mengalihkan pikiranku darinya, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan perjalanan ini—sebuah perjalanan nostalgia untuk menjemput kembali ingatan yang telah terbang, kisah masa muda yang kita titipkan pada pohon, sungai, dan bebatuan, karena mereka pintar menjaga rahasia.

Rencana perjalanan untuk tiga hari sudah disusun, keluarga sudah diberi tahu, tempat menginap sudah dipastikan. Belum pernah aku begitu terorganisir dalam membuat rencana—seandainya masih hidup, kau pasti akan terkejut. Kau selalu memarahi ketidakbecusanku dalam membuat keputusan, yang tentu saja aku sesali karena hal-hal kecil seperti itu kerap berakhir dalam pertengkaran besar. Mungkin, sebagian diriku dulu sengaja bersikap plin-plan sebagai usaha untuk menarik perhatianmu, meskipun perhatian itu datang dalam bentuk permusuhan. Kenapa pula aku harus begitu kelabakan untuk mencari perhatianmu, aku tak tahu. Apakah perhatian yang hilang pertanda cinta yang hilang? Ah, sudah terlambat untuk memikirkan itu. Kali ini saja, aku ingin melakukan sesuatu untuk diriku sendiri, dan bukan untukmu. Untuk mencari ketenangan demi diriku sendiri, bukan untuk mencari pengakuanmu. Pada akhir perjalanan ini, yaitu besok lusa, aku akan mengucapkan selamat tinggal padamu beserta segala misterimu.

Setelah sepuluh menit saling tawar harga dengan sopir mobil carteran—ha! Aku bahkan berdebat dengan sopir preman bandara! Seandainya kau lihat semua keberanian yang mendadak muncul ini—aku akhirnya berangkat meninggalkan bandara sederhana itu dan akan menempuh perjalanan sejauh kurang lebih satu jam menuju desa Pintu Padang Raya, kecamatan Batang Angkola, tempat aku akan menginap selama berada di sini.

Mataku tak lepas dari jendela sepanjang perjalanan. Pepohonan dan sawah mendominasi, membentuk garis seperti ombak—pepohonan, sawah, pepohonan, sawah, sesekali rumah, begitu seterusnya. Tak lama kemudian, kami melewati kota yang agak gersang. Pertokoan dan pasar di kanan kiri jalan sama sekali tak menarik perhatian. Aku tak tahu di mana itu dan tak berusaha bertanya pada Pak Sopir, karena aku ingin meyakinkan dia bahwa aku betul-betul tak mau diajak bicara.

Tak lama kemudian, pemandangan hijau kembali menyerbu mataku. Ah, memang inilah yang kusukai dari tempat ini—rasa tenang pemberian makhluk Tuhan yang paling penurut dan tak pernah menuntut: alam semesta. Pohon, sawah, sungai, gunung, laut, semuanya ada di tempat ini. Di sepanjang jalan, rumah-rumah penduduk mulai terlihat, anak-anak sekolah berlarian—beberapa naik sepeda atau becak. Ibu-ibu berjalan membawa sisa dagangan dari pasar, dan bapak-bapak duduk-duduk di depan rumah sambil merokok.

Lalu rumah-rumah kampung berganti menjadi apa yang kulihat sebagai hutan. Di saat yang bersamaan, permukaan tanah yang kami lewati menjadi semakin tidak rata sehingga mobil berguncang keras. Kata Pak Sopir, ini pertanda kami sudah dekat.

Dan benar saja, setelah sekitar 15 menit tersungkur sana-sini digoyang permukaan tanah yang dilupakan pemerintah dan melewati jembatan kecil yang kelihatannya kelewat rapuh, mobil akhirnya berhenti. Aku membayar sopir sesuai harga negosiasi lalu berdiri di pinggir jalan, memandangi rumah yang kau tempati bersama keluargamu sebelum merantau ke pulau Jawa.

Rumah itu adalah sebuah rumah panggung yang cukup besar dan artistik, yang keseluruhannya terbuat dari kayu. Di bawah panggung tidak ada apa-apa, hanya selasar untuk duduk-duduk dan sebuah gudang penyimpanan. Untuk masuk ke rumah, kita harus menaiki tangga ke atas panggung. Di atas, di bagian rumah yang sebenarnya, terpasang dua jendela kayu besar yang terbuka keluar. Seseorang menjulurkan kepala dari salah satu jendela itu, melihatku, lalu berlari turun untuk menyambutku.

“Lama nya naik mobil dari bandara, Mbak?” tanya Pak Abet riang dengan logat Batak yang kental sambil membawakan koperku. Pak Abet adalah seorang pria paruh baya yang menjaga tempat ini setelah semua penghuninya merantau ke berbagai tempat.

“Lumayan, Pak. Satu jam.” jawabku dengan logat Jawa Timur yang super medok. Aku mengikutinya menaiki tangga dan memasuki serambi rumah. Kulihat dua ekor anjing kampung besar sedang makan sesuatu yang sepertinya hanya nasi putih.

“Ini Black, yang itu Brown,” jelas Pak Abet menunjuk kepada anjing hitam lalu anjing coklat. Entah mana yang membuatku lebih kaget—melihat ada anjing di sini, di rumah almarhum ibumu yang tidak suka hewan, atau fakta bahwa Pak Abet menamai mereka dengan bahasa Inggris. Penjelasan Pak Abet berikutnya menjawab kekagetanku yang pertama, “mereka di sini buat jaga kebun durian.”

Saat itulah aku melayangkan pandangan ke sekitaran rumah itu. Di sisi jalan ini, nyaris tak ada rumah lain, tapi sejauh mata memandang, aku bisa melihat pohon-pohon durian—buahnya yang besar dan ranum terlihat sangat menggemaskan. Ya, aku teringat saat kau membuatku berpindah aliran menjadi kaum pemakan durian. Di keluargaku tak ada yang suka durian, jadi aku pun secara otomatis antipati terhadap buah berduri itu bahkan sebelum mencobanya. Tapi, kau dengan mudah meruntuhkan pendirianku saat kau membawakan durian di hari ulang tahunku. Waktu itu aku sebal sekali, karena durian itu sama sekali tidak romantis. Tapi, melihatmu makan dengan nikmatnya, aku pun ikut makan—dan kontan saja segala yang ada di dunia ini menjadi tak berarti lagi—durian ternyata luar biasa enak!

Aku mendengus tertawa mengingat itu, dan membatin seberapa banyak aku bisa mempercepat kematianku sendiri apabila aku hidup di sini dan memakan semua durian di kebun ini setiap hari.

Pak Abet menunjukkan ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, ruang tengah, tempat mesin cuci dan jemuran, serta balkon rumah seakan aku belum pernah berada di sana. Kubiarkan saja ia menjelaskan karena memang ada beberapa posisi tempat yang berubah. Setiap ruang membangkitkan lamunan yang berasal dari tempat yang jauh sekali di dasar kepalaku, seakan itu bukan berasal dari ingatanku sendiri. Ruang tamu tempatmu memperkenalkan aku pada orang tuamu, ruang tengah tempat kita bersama-sama menonton televisi setelah menikah, dapur tempat ibumu mengajariku berbagai masakan Sumatra Utara. Awalnya, aku yang pemalas ini paling maksimal hanya bisa memasak oseng tempe, tapi ibumu prihatin dengan situasi itu dan akhirnya bersikeras menyuruhku agar belajar memasak untukmu, putra pertama kebanggaannya. Pada akhirnya, bukankah hanya itu yang tersisa dalam hubungan timbal-balik kita? Kau memberiku nafkah. Sebagai gantinya, aku memasakkan makan pagi dan malam.

Setelah mengobrol sebentar, Pak Abet pamit untuk mengunjungi teman-temannya di warung kopi kecil di seberang rumah. Lalu aku menghabiskan sisa hari itu dengan menelusuri halaman demi halaman album foto yang kutemukan di kamar itu. Meskipun albumnya sudah sangat berdebu dan beberapa halamannya berlubang dilahap rayap, foto-fotonya yang sudah bebercak dan menguning masih bisa dilihat. Sebagian besar adalah fotomu sejak kecil sampai awal masa kuliah—foto-foto setelahnya tentu saja lebih banyak tersimpan di lemari kita di rumah.

Wajah senyummu menyapa dari tiap halaman. Dulu kau begitu kurus tapi senyummu terlihat begitu tulus. Melihatnya memicu kemunculan berbagai ekspresi wajahmu dalam ingatanku, bergerak-gerak seperti video animasi. Tapi, sudah lama aku tak melihat senyum yang kau tujukan hanya padaku, dan aku merindukannya. Maka aku menggali kuburan kenangan dan mencari saat-saat kau memberi senyum itu, lalu memutarnya berulang-ulang di dalam kepalaku agar aku dapat memimpikannya saat jatuh tertidur.

---

Pada saat matahari terbit keesokan harinya, aku sudah dalam perjalanan menuju pasar di dekat rumah. Betapa misterius cara kerja ingatan manusia—sementara kejadian seminggu lalu sudah kulupakan, jalan menuju pasar di kampungmu yang terakhir kukunjungi seperempat abad lalu masih kuingat. Mungkin karena hangat tanganmu saat menggandengku melewati tanah becek, tanah berbatu, hutan, dan jalan raya itu masih samar terasa. Atau suara berceritamu yang terbawa angin masih sayup terdengar.

Ternyata, pasar itu tak banyak berubah. Sementara banyak pasar tradisional di Jawa yang mulai meninggikan levelnya—berlantai semen bahkan ubin dan beratap genteng—pasar itu berlantai tanah dan beratap tenda. Tapi, tentu saja para pedagang pasar itu tidak mengeluh—mengeluh adalah kegiatan orang yang tahu pilihan dan bisa memilih, dan para pedagang pasar di pedesaan yang sepi ini tak punya banyak pilihan.

Aku mengitari pasar untuk mengagumi berbagai jenis ikan asin. Konon ikan asin paling enak dan bergengsi di Sumatra Utara ini berasal dari daerah pantai Sibolga, dan sebagian besar dagangan orang di pasar ini bisa jadi bukan berasal dari sana, tapi tetap saja variasi jenis dan rasanya lebih enak daripada yang bisa kita temukan di pulau Jawa. Sebagai orang yang dibesarkan di daerah tambak, sejak kecil aku menyukai ikan dan udang. Maka sama seperti saat aku berpindah ke agama durian, aku langsung jatuh cinta ketika kau pertama kali mengenalkanku pada ikan asin Sibolga yang kita makan ramai-ramai di rumah ibumu dulu. Ada teri tawar, teri beras, ikan aso-aso—sejenis ikan kembung yang dikeringkan, ikan limbat—sejenis lele yang diasap, ebi—udang kecil yang dikeringkan, dan mungkin berbagai jenis lain yang jarang kita beli, semuanya begitu sedap dipadu dengan sambal balado, nasi hangat, dan kacang panjang rebus. Meskipun menyukai semuanya, favoritku adalah ikan limbat, sedangkan favoritmu adalah ikan aso-aso. Waktu itu, dengan pengalaman memasakku yang cetek, menggoreng ikan aso-aso adalah sebuah tantangan besar karena betul-betul membutuhkan kalkulasi waktu dan panas api yang tepat—jika salah perhitungan, hasil gorengan akan menjadi keras dan tidak nikmat. Aku berguru pada ibumu lalu berulang kali mencoba menggoreng ikan aso-aso sendiri dan berulang kali gagal. Lalu, pada percobaan entah ke-berapa di tahun pernikahan kita yang mulai menua, aku akhirnya bisa menaklukkan ikan asin banyak gaya itu di penggorengan. Rasa asinnya pas, renyahnya sempurna. Dan saat itu, di tengah dinginnya hubungan kita, kau memujiku. Aku senang sekali.

Selepas menikmati sarapan lontong sayur di pasar, aku langsung mencarter mobil yang kudapatkan dari koneksi Pak Abet dan meluncur menuju tempat wisata air terjun Silima-lima yang terletak di kecamatan yang berbeda, sehingga harus menempuh perjalanan cukup jauh melewati Jalan Lintas Tengah Sumatra dan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Di kabupaten tempat sungai-sungai bersimpangan ini sebenarnya aku bisa mencari lokasi air terjun yang jauh lebih dekat. Air Terjun Aek Sijorni, misalnya, hanya berjarak 20 menit dari rumah dan merupakan tempat wisata yang relatif baru. Tapi, bukan di sana tempat kita pernah berfoto sebagai pengantin baru.

Berlokasi di daerah perbukitan, berjalan kaki dari tempat peristirahatan sampai ke area air terjun itu sendiri membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan cara menuruni tangga semen berpegangan pagar besi. Pernah ada masanya orang harus melewati hutan sambil menebas sulur-sulur pohon seperti dalam film petualangan untuk sampai ke air terjun itu, sehingga adanya tangga dan cuaca cerah merupakan anugerah terbesar yang bisa kudapatkan hari ini untuk perjalanan ini.

Pemandangan di kanan-kiri sepanjang menuruni tangga sungguh luar biasa, dipenuhi pepohonan hijau, kelebatan langit biru, dan udara yang begitu segar. Dulu, aku agak setengah hati mengikutimu ke tempat ini karena aku kurang menikmati perjalanan jauh dan segala macam wisata yang membuatku harus membawa baju ganti. Tapi, begitu deru air mulai terdengar jelas dan percik buih airnya yang menabrak bebatuan mulai terlihat, kekagumanku terhadap persembahan alam yang satu ini ternyata tidak berkurang sedikitpun dari waktu itu.

Air terjun itu begitu tinggi dan megah. Air jernih bertanding menuruni tebing, dipaksa berkelok oleh lekukan-lekukan alam, dan jatuh bertubi-tubi memukul bebatuan sungai beberapa puluh meter di bawahnya. Air yang telah terhempas-hempas itu lalu melanjutkan perjalanan entah kemana, mungkin mencari kebebasan. Air terjun berwarna putih bersih itu terlihat sangat kontras dengan biru langit di atasnya, hijau pepohonan di sekitarnya, dan kelabu bebatuan yang muncul dan tenggelam di bawahnya. Semua tokoh alam, semua suara, semua warna memainkan perannya dengan baik, seperti yang dijanjikan Tuhan akan keindahan sebuah surga.

Tanpa sadar, aku menitikkan air mata. Di atas salah satu batu besar itulah dulu kita berfoto, tangan kita bertaut dan kepala kita beradu—tak menghiraukan apapun kecuali hangat tubuh satu sama lain. Aku masih menyimpan foto itu sampai sekarang, karena itu adalah satu dari sedikit bukti bahwa kita memulai perjalanan ini dengan tulus dan bukan karena harus, seperti yang kurasakan belakangan.

Tiba-tiba saja rasa rindu menggelegak dari dasar perutku, mendadak aku tak ingin berada di sini dan ingin bertemu anak-anakku. Kupaksakan kakiku menaiki tangga untuk kembali ke atas meskipun aku belum lama menikmati air terjun itu. Cukup sekian nostalgia hari ini. Air terjun itu rupanya menjadi stimulus yang terlalu kuat. Tapi, mungkin justru itu yang kubutuhkan untuk menyadari bahwa mulai sekarang dan seterusnya, kau bukan lagi prioritasku. Kau sudah menuruni tebing dan terhempas di kelok-kelok bebatuan, dan saat ini sedang mengalir menuju kebebasan. Sedangkan aku masih tertinggal di suatu tempat di atas tebing, mengalir pelan menunggu giliran.

Kewajibanmu sudah selesai, demikian pula kewajibanku terhadapmu. Saatnya aku menjemput kebahagiaan yang ada pada anak-anakku.

---

Tibalah hari terakhir aku berada di Pintu Padang. Hari terakhir kuhabiskan dengan mendatangi anggota keluargamu yang masih tersisa di sini: paman, bibi, dan sepupu jauh—sebagian besar dari mereka belum bertemu lagi denganku sejak kita menikah, beberapa bahkan belum mengenalku sama sekali. Jujur saja, bertemu keluarga yang jauh saat ini terasa lebih menyegarkan karena mereka tidak memiliki harapan tertentu terhadapku dan pernikahan kita. Mereka menyambutku dengan hangat dan menyuguhkan berbagai masakan favoritmu yang juga kusuka—gulai daging, berbagai macam balado, taoco pete dan bunga pepaya, gulai jengkol dan daun ubi muda. Sambil menyantap semuanya dengan lahap, dalam hati aku bertanya-tanya akankah aku bisa menikmati semua masakan yang luar biasa ini seandainya aku tak menikahimu.

Bagiku, menikahimu adalah takdir. Berbahagia denganmu dan anak-anak kita adalah takdir. Menjauhnya kau dan anak-anak dariku adalah takdir. Kehilanganmu adalah takdir. Perjalanan nostalgia ini pun adalah takdir. Aku menerima semuanya, menyusun kesadaran-kesadaran itu ke dalam lapisan-lapisan hati. Yang lembut, yang mengerak. Yang lembut itu cinta dan yang mengerak itu benci—keduanya melapisi Inti hati. Keduanya adalah perasaanku padamu.

Inilah apologiaku—pengakuan kesalahanku.

Aku tak bisa memaafkanmu, dan aku mencintaimu. Dan, sungguh, Tuhan, aku berharap kehidupan setelah kematian itu ada, agar aku bisa mencarimu dan menuntut apologiamu, kemudian kita akan memabukkan diri dengan nostalgia, karena sorot mata yang terakhir kau tujukan padaku adalah cinta, dan seandainya aku salah, maka biarkanlah aku.

Biarkanlah aku hidup berpegang keyakinan bahwa kau pergi dalam keadaan mencintaiku.

---

Aku selalu menganggap seluruh diriku adalah sebagian dari dirimu, dan kuharap kau pun diam-diam begitu.

(selesai)

Kematian yang Merupakan Kesalahpahaman


Bagaimana seandainya kata-kata tidak memiliki makna? Seandainya jalinan sejumlah huruf yang membentuk sebuah kata tidak merupakan penanda bagi sebuah benda atau kata lain? Apa yang akan terjadi apabila layaknya memilih baju, kita bisa memilih kata apapun untuk menandakan benda apapun? Tentunya takkan terjadi komunikasi yang setara, manusia takkan bisa memahami satu sama lain. 

Tapi, bukankah dengan kata-kata yang telah dilekati makna definit pun, dua orang manusia tak juga bisa saling mengerti? Kesalahpahaman, perdebatan, diskusi, negosiasi—betapa banyak cara bagi manusia untuk gagal melakukan koneksi, kemudian berusaha untuk menyambungnya kembali, hanya untuk mendapati kegagalan yang sama lagi, dan seterusnya proses yang berulang-ulang. Betapa banyak waktu dan tenaga yang manusia habiskan dalam hidupnya untuk bermain-main dengan definisi, dalam berbagai usahanya untuk membuat hidup ini lebih dari sekadar makan dan buang tahi. 

Bayangkan seandainya kemampuan berbahasa manusia terbatas layaknya hewan, mungkin kedua spesies itu takkan menjadi banyak bedanya—membunuh dan mencuri sebagai ganti komunikasi. Lho, bahkan dengan kemampuan berbahasa yang tinggi dan konon kecerdasan yang melebihi segala makhluk di muka bumi, bukankah manusia memang sudah melakukan itu semua tanpa perlu mengubah spesifikasi diri menjadi seperti hewan? Lalu, apa gunanya? 

Pikiran Maya masih mengembara lebih jauh lagi seiring gulir air dari keran wastafel membasuh kedua tangannya lalu mengalir ke lubang pembuangan setelah berubah warna menjadi merah. Tanpa ia sadari, di belakangnya sebuah sosok datang mendekat.

“Wah, pantas ada bau amis.”

Terkejut, Maya menoleh dan melihat kucing betina belang tiga miliknya, Mina, telah duduk manis di belakangnya. Ekornya bergoyang-goyang tanda senang.

“Diam, kau, Cing!” bentak Maya, menggosok-gosok telapak tangannya lebih kuat dan mencungkil sisa-sisa kotoran dari bawah kukunya, “kenapa tadi kau tidak membantuku!?”

“Memangnya aku bisa apa?” jawab Mina manja, menggesekkan tubuhnya ke kaki-kaki meja makan, lalu berjalan mengitari Magenta yang terkapar di antara meja makan dan meja dapur, berhati-hati agar kaki kecilnya tidak menginjak genangan darah segar yang mengalir dari perut laki-laki itu. Ia lalu menggesekkan lagi tubuhnya, kali ini ke kaki Maya, “tapi, akhirnya, kau bisa melakukannya. Aku bangga padamu.”

Maya mendesah lalu mengangkat Mina dan mendudukkannya di atas meja dapur di samping wastafel, tempat ia kini sedang mencuci pisau dapur ukuran besar yang biasanya ia gunakan untuk mengiris daging rendang. Beberapa menit lalu, entah karena sengaja atau kecelakaan, sepertinya pisau itu menancap di tempat yang tidak biasanya, yaitu sisi sebelah kanan perut Magenta, dan sebelah kiri, dan juga mungkin dadanya—setelah tusukan pertama, yang lain jadi tidak terlalu berarti. 

Mencuci pisau itu membawa ingatan Maya pada saat-saat ia mengiris daging untuk memasak rendang kesukaan suaminya. Masakan itu begitu rumit, menyita banyak sekali waktu dan tenaga. Mulai dari berbelanja bahan-bahan di pasar, mengiris dan menghaluskan bumbu, memeras santan, mencampur ke dalam kuali, dan mengaduk semua bahan sampai kering mungkin membutuhkan waktu dari sejak ayam jago keluar kandang untuk berkokok sampai saatnya ia dimasukkan kandang lagi oleh pemiliknya yang keburu berangkat salat magrib. Tentu saja Maya melakukan semuanya sendirian, karena suaminya yang jebolan keluarga patriarkat garis keras itu haram hukumnya untuk sekadar memegang wajan, apalagi mengaduk kuah santan—meskipun pada akhirnya dialah yang akan memakan semua hasil jerih payah istrinya itu.

“Dari lidah turun ke hati.” 

Begitulah selalu ia katakan dengan penuh wibawa setiap kali Maya mengeluhkan seluruh tubuhnya yang pegal-pegal setelah seharian memasak—belum lagi ditambah berbagai macam pekerjaan rumah lain. 

Mengingat itu membuat kemarahan kembali menggelegak dalam diri Maya yang sedang mencuci pisau. Ia berbalik menatap mayat suaminya lalu dengan cekatan membuka mulutnya, memotong lidahnya, dan menjejalkan potongan lidah itu ke salah satu luka tusukan di dada tempat hati berada.

“Dari lidah turun ke hati,” ujar Mina khidmat, “betapa sederhananya kalimat itu apabila diterjemahkan secara harfiah.”

Maya mendengus puas dan kembali mencuci pisaunya yang kembali berlumuran darah, namun ingatannya soal rendang tidak berhenti sampai di situ. Pada kesempatan lain, Maya memberikan sepotong daging rendang kepada Mina, karena ia selalu melakukan itu—memberikan sepotong dari apapun yang ia masak kepada kucing kesayangannya. Ia tak keberatan sekalipun kucing itu menghabiskan semua yang ada di atas meja makan, tapi rupanya Magenta berpikiran sebaliknya. Ia benar-benar tidak terima makanan kesukaannya—yang sebetulnya keseluruhannya dimasak sendirian oleh Maya—diberikan pada makhluk bodoh tak berguna yang dulu setuju ia pelihara sebagai salah satu syarat yang diberikan Maya agar mau menikahinya. 

Keputusan Maya memberikan sepotong daging rendang pada Mina itu menghadiahkan beberapa luka memar di pahanya setelah Magenta menyeretnya jatuh dari kursi makan, dan lebam di pipi dan matanya setelah Magenta mendaratkan beberapa pukulan dan tamparan. Itu bukan kali pertama Maya dipukuli suaminya, dan jelas bukan pula yang terakhir. Maya tak pernah membalas, hanya menangis sambil memeluk Mina setelah kemarahan suaminya mereda dan ia menemukan kegiatan lain yang lebih menarik daripada memukuli perempuan yang dulu ia janjikan kebahagiaan sampai mati itu.

Magenta selalu pintar berbicara—mungkin kelebihan itu juga lah yang dulu melemparkan Maya ke dalam jurang bernama cinta. Pada masanya, Magenta adalah apa yang dikatakan orang sebagai “pria romantis”—menghujani Maya dengan puisi dan frasa-frasa puitis nan eksotis tanpa memberi kesan gombal atau murahan. Tapi, tentu saja, Maya pada saat itu juga hanya seorang gadis muda yang naif, yang berkeyakinan bahwa seorang lelaki yang pintar menggunakan mulutnya tentu takkan dengan mudah mengayunkan tinjunya. Apa ada hubungannya? Menurut Maya muda, manusia yang telah berevolusi secara genetik dan empiris melalui berbagai macam asupan gizi dan jejalan pendidikan itu seharusnya tahu lebih baik daripada binatang—bahwa melakukan kekerasan dalam bentuk apapun tidak sesuai dengan peri kemanusiaan, yang apabila dilakukan, akan menurunkan derajat seseorang sebagai manusia. Kenaifan itu dikritik oleh tak lain kucingnya sendiri, yang beberapa bulan terakhir Maya sadari bisa berbicara dengannya.

“Kau tahu, suamimu itu bodoh.” kata Mina suatu hari sambil menjilati luka memar di pipi Maya, kali ini karena ia sedikit teledor mencampur satu kain berwarna dengan kemeja putih suaminya, mengakibatkan kemeja itu akhirnya tak lagi putih, melainkan merah pudar yang sesungguhnya cukup indah.

Maya terkejut bukan kepalang, karena ini pertama kalinya ia mendengar Mina berbicara dalam bahasa yang ia mengerti. Mereka berpandangan sesaat. 

“Kau bisa bicara?” tanya Maya.

“Tentu saja,” jawab Mina, “tapi cuma kamu yang mengerti.”

“Kenapa?” tanya Maya lagi, bingung, “kalau kau bisa bicara bahasa manusia, bukankah artinya semua manusia bisa mengerti?”

Ck, ck, Maya,” sahut Mina sambil menggeleng, “diperlukan lebih dari sekadar kesamaan bahasa untuk bisa mengerti satu sama lain. Lihat saja,” ia mengedikkan kepalanya ke arah Magenta yang sedang mengetik di ruang kerja, “kalian bicara dengan bahasa yang sama. Kau sudah menjelaskan keteledoranmu sendiri, meminta maaf, bahkan berjanji untuk membelikan kemeja baru. Apa dia bisa mengerti?”

Maya tidak menjawab.

“Kalau dia mengerti, kenapa dia memukulimu?” lanjut Mina.

“Karena dia marah.” jawab Maya.

“Benar,” sahut Mina, “dan ada banyak cara untuk marah. Saat dia mencintaimu, dia mendeklarasikan puisi. Tapi kenapa saat dia marah, dia tidak melakukan hal yang sama?”

“Mana ada orang marah baca puisi.” gerutu Maya.

“Tentu saja ada,” kata Mina, “seperti halnya ada orang yang mencintai dengan cara memukul.”

“Mana ada orang cinta memukul.” gerutu Maya lagi.

“Jadi menurutmu Magenta tidak mencintaimu?” tanya Mina. Maya tidak menjawab. Mina melanjutkan, “Aku menyaksikan saat Magenta dengan lihai menjeratmu dengan banyak bujuk rayu, juga saat ia dengan dramatis menyatakan cinta padamu dan melamarmu, juga saat kalian saling bertukar janji cinta sehidup semati. Juga sekarang, saat ia mengingkari itu semua dan lebih banyak menggunakan tinjunya daripada mulutnya. Kau tahu, seandainya kau lebih cerdas sedikit, menurutku kau bisa melihat kecenderungan ini sejak dulu.”

“Oh, jadi sekarang kamu lebih tahu daripada aku!?” sindir Maya.

“Tentu saja. Seperti kata mitos, nyawaku ada sembilan. Setiap nyawa kuhabiskan dalam 20 tahun, dan ini adalah nyawaku yang ke-8. Hitung sendiri umurku sekarang berapa. Aku kucing, tak perlu lah belajar perkalian.”

“Setiap aku mati, aku akan terlahir kembali di tempat lain dengan tubuh lain,” lanjut Mina, “tapi, ingatan kehidupan sebelumnya masih ada. Aku mengenal manusia, Maya, mungkin lebih daripadamu.”

“Kau tahu, salah satu senjata terkuat manusia adalah kata-kata. Bagi kau yang masih muda, Magenta terlihat begitu memesona dengan kelihaiannya menjalin kata. Kata-kata itu menjerat perhatianmu begitu kuat, kau hanya bisa melihat mereka sebagai pembawa kebaikan. Kau lupa, bahwa sama halnya dengan puisi dan nyanyian romantis, penipuan dan manipulasi pun adalah jalinan kata-kata. Penggunaan mereka, sama halnya dengan cara seseorang mengartikannya, sungguh tidak terbatas, Maya.” 

“Sekarang, setelah Magenta bukan lagi sang raja yang bisa memuaskan kepekaan telingamu, bukankah lebih baik ia dijadikan sunyi?”

“Maksudmu?” tanya Maya.

“Saat ini kau lebih berharga daripada dia, Maya,” lanjut Mina, “kau tahu apa yang kami lakukan kepada makhluk yang derajatnya lebih rendah dari kami?”

Maya diam.

“Tenang saja, aku akan membantumu.”

Tapi, tentu saja dia tidak membantuku, pikir Maya dongkol setelah pisau dapurnya kembali kinclong dan ia letakkan di rak cuci piring. Satu-satunya hal yang Mina lakukan adalah secara abstrak mencetuskan satu gagasan yang kemudian Maya tanamkan sendiri dalam kepalanya dan sisanya adalah hasil keputusan dia sendiri. 

Maya dan Mina sama-sama memandang mayat Magenta sejenak. Maya tidak merasakan apa-apa. Tidak senang, tidak juga sedih. Sedikit lega, mungkin. Tapi, seperti yang ia pikirkan tadi, bagaimana seandainya tidak diperlukan kata-kata untuk melabeli tiap perasaan? Senang, sedih, marah, cinta, benci—tentu saja ia memiliki semuanya, dan kali ini ia tidak memiliki semuanya. Mungkin label-label perasaan pun hanya sebuah permainan kata, seperti yang Magenta lakukan selama ini terhadapnya.

“Sunyi, ya.” kata Maya.

“Memesona, ya,” sahut Mina, “kau tahu, aku sudah mati tujuh kali. Kurasa mati itu hanya sebuah kesalahpahaman besar. Siapa tahu yang mati itu sebenarnya hidup, dan kita yang hidup ini sebenarnya sedang mati.”

“Mungkin.” sahut Maya.

“Jadi, kematian Magenta ini pun hanyalah salah satu dari kesalahpahaman yang kalian miliki sepanjang perkawinan kalian.”

“Mungkin.” 

“Kata ‘mungkin’ itu memang sangat praktis, ya.”

“Mungkin.”

Mina tertawa. Matahari di luar sedang terbenam, warna kuningnya menerobos jendela dapur dan memantul di genangan darah Magenta, membaur dan menghasilkan warna yang begitu indah, Maya merasa tidak dapat menemukan kata-kata untuk itu.

Tersenyum, Maya mengangkat Mina lalu keduanya pergi menghilang untuk selamanya.

(Selesai)