Desember 15, 2018

Kematian yang Merupakan Kesalahpahaman


Bagaimana seandainya kata-kata tidak memiliki makna? Seandainya jalinan sejumlah huruf yang membentuk sebuah kata tidak merupakan penanda bagi sebuah benda atau kata lain? Apa yang akan terjadi apabila layaknya memilih baju, kita bisa memilih kata apapun untuk menandakan benda apapun? Tentunya takkan terjadi komunikasi yang setara, manusia takkan bisa memahami satu sama lain. 

Tapi, bukankah dengan kata-kata yang telah dilekati makna definit pun, dua orang manusia tak juga bisa saling mengerti? Kesalahpahaman, perdebatan, diskusi, negosiasi—betapa banyak cara bagi manusia untuk gagal melakukan koneksi, kemudian berusaha untuk menyambungnya kembali, hanya untuk mendapati kegagalan yang sama lagi, dan seterusnya proses yang berulang-ulang. Betapa banyak waktu dan tenaga yang manusia habiskan dalam hidupnya untuk bermain-main dengan definisi, dalam berbagai usahanya untuk membuat hidup ini lebih dari sekadar makan dan buang tahi. 

Bayangkan seandainya kemampuan berbahasa manusia terbatas layaknya hewan, mungkin kedua spesies itu takkan menjadi banyak bedanya—membunuh dan mencuri sebagai ganti komunikasi. Lho, bahkan dengan kemampuan berbahasa yang tinggi dan konon kecerdasan yang melebihi segala makhluk di muka bumi, bukankah manusia memang sudah melakukan itu semua tanpa perlu mengubah spesifikasi diri menjadi seperti hewan? Lalu, apa gunanya? 

Pikiran Maya masih mengembara lebih jauh lagi seiring gulir air dari keran wastafel membasuh kedua tangannya lalu mengalir ke lubang pembuangan setelah berubah warna menjadi merah. Tanpa ia sadari, di belakangnya sebuah sosok datang mendekat.

“Wah, pantas ada bau amis.”

Terkejut, Maya menoleh dan melihat kucing betina belang tiga miliknya, Mina, telah duduk manis di belakangnya. Ekornya bergoyang-goyang tanda senang.

“Diam, kau, Cing!” bentak Maya, menggosok-gosok telapak tangannya lebih kuat dan mencungkil sisa-sisa kotoran dari bawah kukunya, “kenapa tadi kau tidak membantuku!?”

“Memangnya aku bisa apa?” jawab Mina manja, menggesekkan tubuhnya ke kaki-kaki meja makan, lalu berjalan mengitari Magenta yang terkapar di antara meja makan dan meja dapur, berhati-hati agar kaki kecilnya tidak menginjak genangan darah segar yang mengalir dari perut laki-laki itu. Ia lalu menggesekkan lagi tubuhnya, kali ini ke kaki Maya, “tapi, akhirnya, kau bisa melakukannya. Aku bangga padamu.”

Maya mendesah lalu mengangkat Mina dan mendudukkannya di atas meja dapur di samping wastafel, tempat ia kini sedang mencuci pisau dapur ukuran besar yang biasanya ia gunakan untuk mengiris daging rendang. Beberapa menit lalu, entah karena sengaja atau kecelakaan, sepertinya pisau itu menancap di tempat yang tidak biasanya, yaitu sisi sebelah kanan perut Magenta, dan sebelah kiri, dan juga mungkin dadanya—setelah tusukan pertama, yang lain jadi tidak terlalu berarti. 

Mencuci pisau itu membawa ingatan Maya pada saat-saat ia mengiris daging untuk memasak rendang kesukaan suaminya. Masakan itu begitu rumit, menyita banyak sekali waktu dan tenaga. Mulai dari berbelanja bahan-bahan di pasar, mengiris dan menghaluskan bumbu, memeras santan, mencampur ke dalam kuali, dan mengaduk semua bahan sampai kering mungkin membutuhkan waktu dari sejak ayam jago keluar kandang untuk berkokok sampai saatnya ia dimasukkan kandang lagi oleh pemiliknya yang keburu berangkat salat magrib. Tentu saja Maya melakukan semuanya sendirian, karena suaminya yang jebolan keluarga patriarkat garis keras itu haram hukumnya untuk sekadar memegang wajan, apalagi mengaduk kuah santan—meskipun pada akhirnya dialah yang akan memakan semua hasil jerih payah istrinya itu.

“Dari lidah turun ke hati.” 

Begitulah selalu ia katakan dengan penuh wibawa setiap kali Maya mengeluhkan seluruh tubuhnya yang pegal-pegal setelah seharian memasak—belum lagi ditambah berbagai macam pekerjaan rumah lain. 

Mengingat itu membuat kemarahan kembali menggelegak dalam diri Maya yang sedang mencuci pisau. Ia berbalik menatap mayat suaminya lalu dengan cekatan membuka mulutnya, memotong lidahnya, dan menjejalkan potongan lidah itu ke salah satu luka tusukan di dada tempat hati berada.

“Dari lidah turun ke hati,” ujar Mina khidmat, “betapa sederhananya kalimat itu apabila diterjemahkan secara harfiah.”

Maya mendengus puas dan kembali mencuci pisaunya yang kembali berlumuran darah, namun ingatannya soal rendang tidak berhenti sampai di situ. Pada kesempatan lain, Maya memberikan sepotong daging rendang kepada Mina, karena ia selalu melakukan itu—memberikan sepotong dari apapun yang ia masak kepada kucing kesayangannya. Ia tak keberatan sekalipun kucing itu menghabiskan semua yang ada di atas meja makan, tapi rupanya Magenta berpikiran sebaliknya. Ia benar-benar tidak terima makanan kesukaannya—yang sebetulnya keseluruhannya dimasak sendirian oleh Maya—diberikan pada makhluk bodoh tak berguna yang dulu setuju ia pelihara sebagai salah satu syarat yang diberikan Maya agar mau menikahinya. 

Keputusan Maya memberikan sepotong daging rendang pada Mina itu menghadiahkan beberapa luka memar di pahanya setelah Magenta menyeretnya jatuh dari kursi makan, dan lebam di pipi dan matanya setelah Magenta mendaratkan beberapa pukulan dan tamparan. Itu bukan kali pertama Maya dipukuli suaminya, dan jelas bukan pula yang terakhir. Maya tak pernah membalas, hanya menangis sambil memeluk Mina setelah kemarahan suaminya mereda dan ia menemukan kegiatan lain yang lebih menarik daripada memukuli perempuan yang dulu ia janjikan kebahagiaan sampai mati itu.

Magenta selalu pintar berbicara—mungkin kelebihan itu juga lah yang dulu melemparkan Maya ke dalam jurang bernama cinta. Pada masanya, Magenta adalah apa yang dikatakan orang sebagai “pria romantis”—menghujani Maya dengan puisi dan frasa-frasa puitis nan eksotis tanpa memberi kesan gombal atau murahan. Tapi, tentu saja, Maya pada saat itu juga hanya seorang gadis muda yang naif, yang berkeyakinan bahwa seorang lelaki yang pintar menggunakan mulutnya tentu takkan dengan mudah mengayunkan tinjunya. Apa ada hubungannya? Menurut Maya muda, manusia yang telah berevolusi secara genetik dan empiris melalui berbagai macam asupan gizi dan jejalan pendidikan itu seharusnya tahu lebih baik daripada binatang—bahwa melakukan kekerasan dalam bentuk apapun tidak sesuai dengan peri kemanusiaan, yang apabila dilakukan, akan menurunkan derajat seseorang sebagai manusia. Kenaifan itu dikritik oleh tak lain kucingnya sendiri, yang beberapa bulan terakhir Maya sadari bisa berbicara dengannya.

“Kau tahu, suamimu itu bodoh.” kata Mina suatu hari sambil menjilati luka memar di pipi Maya, kali ini karena ia sedikit teledor mencampur satu kain berwarna dengan kemeja putih suaminya, mengakibatkan kemeja itu akhirnya tak lagi putih, melainkan merah pudar yang sesungguhnya cukup indah.

Maya terkejut bukan kepalang, karena ini pertama kalinya ia mendengar Mina berbicara dalam bahasa yang ia mengerti. Mereka berpandangan sesaat. 

“Kau bisa bicara?” tanya Maya.

“Tentu saja,” jawab Mina, “tapi cuma kamu yang mengerti.”

“Kenapa?” tanya Maya lagi, bingung, “kalau kau bisa bicara bahasa manusia, bukankah artinya semua manusia bisa mengerti?”

Ck, ck, Maya,” sahut Mina sambil menggeleng, “diperlukan lebih dari sekadar kesamaan bahasa untuk bisa mengerti satu sama lain. Lihat saja,” ia mengedikkan kepalanya ke arah Magenta yang sedang mengetik di ruang kerja, “kalian bicara dengan bahasa yang sama. Kau sudah menjelaskan keteledoranmu sendiri, meminta maaf, bahkan berjanji untuk membelikan kemeja baru. Apa dia bisa mengerti?”

Maya tidak menjawab.

“Kalau dia mengerti, kenapa dia memukulimu?” lanjut Mina.

“Karena dia marah.” jawab Maya.

“Benar,” sahut Mina, “dan ada banyak cara untuk marah. Saat dia mencintaimu, dia mendeklarasikan puisi. Tapi kenapa saat dia marah, dia tidak melakukan hal yang sama?”

“Mana ada orang marah baca puisi.” gerutu Maya.

“Tentu saja ada,” kata Mina, “seperti halnya ada orang yang mencintai dengan cara memukul.”

“Mana ada orang cinta memukul.” gerutu Maya lagi.

“Jadi menurutmu Magenta tidak mencintaimu?” tanya Mina. Maya tidak menjawab. Mina melanjutkan, “Aku menyaksikan saat Magenta dengan lihai menjeratmu dengan banyak bujuk rayu, juga saat ia dengan dramatis menyatakan cinta padamu dan melamarmu, juga saat kalian saling bertukar janji cinta sehidup semati. Juga sekarang, saat ia mengingkari itu semua dan lebih banyak menggunakan tinjunya daripada mulutnya. Kau tahu, seandainya kau lebih cerdas sedikit, menurutku kau bisa melihat kecenderungan ini sejak dulu.”

“Oh, jadi sekarang kamu lebih tahu daripada aku!?” sindir Maya.

“Tentu saja. Seperti kata mitos, nyawaku ada sembilan. Setiap nyawa kuhabiskan dalam 20 tahun, dan ini adalah nyawaku yang ke-8. Hitung sendiri umurku sekarang berapa. Aku kucing, tak perlu lah belajar perkalian.”

“Setiap aku mati, aku akan terlahir kembali di tempat lain dengan tubuh lain,” lanjut Mina, “tapi, ingatan kehidupan sebelumnya masih ada. Aku mengenal manusia, Maya, mungkin lebih daripadamu.”

“Kau tahu, salah satu senjata terkuat manusia adalah kata-kata. Bagi kau yang masih muda, Magenta terlihat begitu memesona dengan kelihaiannya menjalin kata. Kata-kata itu menjerat perhatianmu begitu kuat, kau hanya bisa melihat mereka sebagai pembawa kebaikan. Kau lupa, bahwa sama halnya dengan puisi dan nyanyian romantis, penipuan dan manipulasi pun adalah jalinan kata-kata. Penggunaan mereka, sama halnya dengan cara seseorang mengartikannya, sungguh tidak terbatas, Maya.” 

“Sekarang, setelah Magenta bukan lagi sang raja yang bisa memuaskan kepekaan telingamu, bukankah lebih baik ia dijadikan sunyi?”

“Maksudmu?” tanya Maya.

“Saat ini kau lebih berharga daripada dia, Maya,” lanjut Mina, “kau tahu apa yang kami lakukan kepada makhluk yang derajatnya lebih rendah dari kami?”

Maya diam.

“Tenang saja, aku akan membantumu.”

Tapi, tentu saja dia tidak membantuku, pikir Maya dongkol setelah pisau dapurnya kembali kinclong dan ia letakkan di rak cuci piring. Satu-satunya hal yang Mina lakukan adalah secara abstrak mencetuskan satu gagasan yang kemudian Maya tanamkan sendiri dalam kepalanya dan sisanya adalah hasil keputusan dia sendiri. 

Maya dan Mina sama-sama memandang mayat Magenta sejenak. Maya tidak merasakan apa-apa. Tidak senang, tidak juga sedih. Sedikit lega, mungkin. Tapi, seperti yang ia pikirkan tadi, bagaimana seandainya tidak diperlukan kata-kata untuk melabeli tiap perasaan? Senang, sedih, marah, cinta, benci—tentu saja ia memiliki semuanya, dan kali ini ia tidak memiliki semuanya. Mungkin label-label perasaan pun hanya sebuah permainan kata, seperti yang Magenta lakukan selama ini terhadapnya.

“Sunyi, ya.” kata Maya.

“Memesona, ya,” sahut Mina, “kau tahu, aku sudah mati tujuh kali. Kurasa mati itu hanya sebuah kesalahpahaman besar. Siapa tahu yang mati itu sebenarnya hidup, dan kita yang hidup ini sebenarnya sedang mati.”

“Mungkin.” sahut Maya.

“Jadi, kematian Magenta ini pun hanyalah salah satu dari kesalahpahaman yang kalian miliki sepanjang perkawinan kalian.”

“Mungkin.” 

“Kata ‘mungkin’ itu memang sangat praktis, ya.”

“Mungkin.”

Mina tertawa. Matahari di luar sedang terbenam, warna kuningnya menerobos jendela dapur dan memantul di genangan darah Magenta, membaur dan menghasilkan warna yang begitu indah, Maya merasa tidak dapat menemukan kata-kata untuk itu.

Tersenyum, Maya mengangkat Mina lalu keduanya pergi menghilang untuk selamanya.

(Selesai)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar