Desember 15, 2018

Jumat Dahsyat


Gelombang manusia bergerak bersamaan dari lima titik yang berbeda lalu bertemu di poros yang menyambung kelima titik tersebut, kemudian berserak ke lima arah di seberangnya, tak berhenti hingga lampu penyeberangan berganti warna menjadi merah. Beberapa orang masih berlari menyempatkan diri, kemudian kendaraan bermotor dipersilakan menderu lewat sementara gelombang baru manusia kembali berkumpul di kelima titik tadi, menunggu giliran selanjutnya. 

Laras telah mengamati gelombang demi gelombang manusia yang menyeberang itu sejak 15 menit yang lalu. Duduk di sebuah kafe waralaba asal Amerika Serikat yang terletak di posisi strategis sehingga pelanggannya bisa melihat ke arah persimpangan legendaris di kota Shibuya itu, Laras nyaris menghabiskan cafe latte-nya yang terlalu manis. Ia mendesah, menyesali keputusannya untuk datang lebih cepat dari janji dan untuk membeli latte mahal yang kemanisan itu. Sekarang, tak hanya ia mulai habis sabar menunggu, kandung kemihnya pun protes ingin mengeluarkan air kencing dan usus besarnya memberi sinyal ingin membuang tinja. Ia melirik jam tangannya, 19:18. Bisa, sih, tapi pasti ia akan telat sekitar 10 menit. Dan demikianlah yang ia tulis dalam pesan singkat sembari membuang gelas plastik di tempat yang disediakan dan dengan tergesa menuju toilet.

“Maaf, aku sudah di tempat, tapi mau ke toilet dulu. Mungkin akan terlambat sekitar 10 menit.”

Segera setelah pesan singkat itu ia kirim, terpikir olehnya sembari menurunkan celananya, bahwa di sini, “pergi ke toilet” mungkin bukan hal yang biasa diucapkan seorang perempuan kepada kekasihnya—agak saru. Perempuan itu sepantasnya tidak kencing dan tidak buang air besar, wangi dan selalu berbedak. 

Ah, peduli amat, pikir Laras sambil memencet tombol flush setelah membersihkan diri. Pukul 19:30. Dengan perasaan bangga karena berhasil menyelesaikan semua urusannya dalam 10 menit, ia membetulkan riasannya melalui cermin toilet. Sebenarnya ada ruang rias yang disediakan terpisah, tapi ia benci menggunakan ruangan itu karena wangi semua perempuan yang berdandan di sana menyakiti hidungnya. 

Pukul 19:38, dengan riasan yang telah disempurnakan dan pakaian yang telah dirapikan, Laras menghampiri sesosok laki-laki yang ketampanannya menarik perhatian para pejalan kaki yang melewatinya, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan sepertinya anjing-anjing pun. 

“Maaf sudah membuatmu menunggu.” kata Laras sambil memperlihatkan senyum terbaiknya, satu lesung pipit di pipi kanan.

“Tidak apa-apa,” jawab Ryosuke, juga tersenyum, “kamu cantik sekali.”

“Terima kasih.” sahut Laras tersipu, meraih tangan Ryosuke yang terulur padanya. Dengan bergandeng tangan, mereka berdua menembus keramaian jalanan Shibuya.

Ryosuke tidak banyak bicara, dan Laras senang karenanya. Mereka berjalan lambat-lambat dalam diam. Menunggu lampu penyeberangan menjadi hijau, kemudian menyeberang bersama apa yang Laras rasa bagaikan ribuan manusia lain, mendesak dalam jarak dan menghimpit dalam sempit. Pasangan, rombongan, sendirian. Yang bersemangat dan yang kecapaian. Sekeliling Laras berdengung bising dalam berbagai bahasa—Jepang, Inggris, Hindi, samar-samar juga bahasa negara asalnya sendiri. Sesekali terdengar dengusan atau umpatan kesal orang lokal terhadap turis yang berfoto di tengah persimpangan tanpa memedulikan derasnya arus para penyeberang sehingga menimbulkan kemacetan sesaat. Sang turis tentu saja tidak mengerti bahwa ia baru saja dikatai “tahi” oleh pemuda mabuk yang jalannya jadi terhalang itu. 

Saat tadi melihatnya dari atas, gelombang manusia ini terlihat bagai kerumunan semut yang kebingungan. Sekarang setelah Laras berada di tengah-tengahnya, kerumunan itu bergerak pasti dan cepat, membuat Laras merasa sedang terjebak dalam invasi robot yang keras dan dingin, yang tidak berpikir, yang tidak peduli pada apapun kecuali tugasnya sendiri. Meskipun Laras sudah ratusan kali bersentuhan dengan hingar-bingar ini, ia tak juga merasa familier. Dengung bising suara manusia bercampur deru mesin, sengal napas mereka yang berjalan terlalu cepat, bau alkohol dari mulut para karyawan kantoran, derap langkah dan kikik gadis-gadis yang masih mengenakan seragam SMA. Semua itu tak pernah berhenti terasa ganjil, seakan itu tidak nyata, seakan bukan itu yang seharusnya. 

Laras nyaris lupa bahwa ia tengah menggandeng tangan Ryosuke. Telapak tangan itu menghangatkan telapak tangannya, yang ia sadari telah berkeringat sedemikian rupa akibat jantungnya yang berdegup keras dipacu keterasingannya dalam keramaian. Laras mempererat genggamannya, yang disambut serupa oleh Ryosuke. 

Mereka berjalan melewati gang-gang kecil yang dipenuhi pertokoan, sesekali berhenti untuk berfoto atau melihat-lihat atas permintaan Laras. Toko-toko ini tidak menjual barang bermerk seperti toko-toko waralaba mancanegara maupun mal besar nan perlente yang mendominasi kota itu. Laras lebih menikmati toko-toko kecil ini, yang variasi jualannya benar-benar tidak terduga, mulai dari komik bekas, alat tulis imut, aksesoris gotik, sampai beraneka mainan seks. Penjaga toko di tempat seperti ini juga tidak melayani dengan kelewat ramah seperti di toko besar. Mereka membiarkan saja pelanggannya berseliweran—tidak disapa saat masuk maupun keluar—dengan begitu Laras bebas melihat-lihat tanpa membeli, seperti yang selalu ia lakukan. 

Sesekali, melalui sudut matanya, Laras mengawasi Ryosuke dan benda-benda apa saja yang dipegangnya. Tentu saja, hanya karena ia memegangnya bukan berarti ia tertarik, tetapi kemisteriusan Ryosuke selalu mengusik rasa ingin tahu Laras. Tentu saja ia bisa bertanya secara langsung, namun—mengikuti intuisinya—itu mungkin bukan pilihan bijak. 

Kacamata hitam, sarung tangan, dan perhiasan logam. Entah pilihan itu adalah sekelumit kepribadian Ryosuke yang merembes keluar atau sekadar sandiwara demi menyesuaikan selera Laras—karena ketiga benda itu juga adalah kesukaan Laras. Dia tidak bertanya dan Ryosuke tidak menjelaskan.

Selepas pukul 21:00, Laras mulai merasa lapar. Susu dan kopi yang tadi memenuhi perutnya telah menguap dan rahangnya rindu mengunyah sesuatu. 

“Mau ngemil?” tanyanya sambil menunjuk sebuah kafe, lagi-lagi waralaba asal Amerika Serikat, di dekat mereka. 

Ryosuke mengangguk sambil tersenyum, “Boleh.”

Mereka masuk dan mengantre untuk memesan. Ryosuke membeli segelas es kopi sementara Laras membeli roti lapis isi tuna dan teh buah persik—menu khusus musim semi. 

“Bahasa Jepang pacar Anda bagus sekali.” puji penjaga kasir basa-basi saat mereka membayar, mengatakannya pada Ryosuke seakan-akan berkat dialah Laras fasih berbahasa Jepang. Keduanya tidak menjawab dan hanya tersenyum. Tidak ada gunanya menjawab pujian itu, pikir Laras. Penjaga kasir itu tidaklah serius dan segala asumsinya salah. Pertukaran pembicaraan di antara mereka tidak akan menguntungkan siapapun. 

Ryosuke membawakan nampan mereka dan memilih kursi di sudut belakang, posisi favorit Laras saat berada di restoran. 

Mereka duduk dan selama beberapa saat menyeruput minuman dalam diam. Laras mengawasi orang-orang yang duduk di sekitar mereka. Dua orang pria karyawan kantoran—terlihat dari setelah hitam mereka—mengisi dua meja di samping Laras dan Ryosuke, masing-masing sibuk dengan laptopnya. Di meja di belakang Ryosuke, seorang perempuan yang tampaknya mahasiswa sedang menghafalkan kosakata dalam bahasa Inggris, meskipun sepertinya desakan untuk bermain media sosial terlalu kuat sehingga akhirnya buku Bahasa Inggris itu tergeletak sia-sia. Di samping mahasiswi itu, seorang laki-laki necis bermain telepon genggam sambil mendengarkan musik. Laras meluaskan pandangannya dan mengedarkannya mengelilingi ruangan. Hampir semua orang yang ada di situ memang duduk sendirian, hanya ada satu-dua meja selain mereka yang diduduki dua orang. Tak ada yang duduk dalam rombongan, dan memang begitulah lazimnya.

Sama halnya dengan lautan manusia di persimpangan legendaris Shibuya, Laras tak juga merasa intim dengan kesendirian yang tak berujung itu. Tempat itu dipenuhi manusia, semuanya sendiri, belajar dan bekerja hingga menjelang tengah malam. Bagi Laras, keberadaan mereka seakan menyerukan rasa kesepian yang menyesakkan, yang menggema memenuhi udara dan menyeruak masuk ke dalam hati siapa saja yang tak terbiasa. Laras tidak masalah menjadi sendirian, tapi merasa kesepian itu lain cerita. Sendirian itu memberikan ketenangan, kesepian itu menghadirkan kegelisahan.

Maka, ia sangat bersyukur ada Ryosuke di hadapannya malam ini. Ia mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu, yang ternyata tengah mengawasinya dengan tatapan penuh ketertarikan.

“Apa kamu ingin kita mengobrol?” tanyanya.

“Hm... tidak juga,” jawab Laras sambil membuka bungkus roti lapisnya, “mungkin nanti.”

“Oke.” sahut Ryosuke, kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca. Laras melakukan hal serupa sambil mengunyah. 

Mereka menghabiskan waktu hingga menjelang pukul 23:00 di tempat itu, melamun dan menyeruput minuman. Keduanya sama sekali tidak menyentuh telepon genggam mereka, dan itu menyenangkan bagi Laras. Sesekali Laras melemparkan pertanyaan ringan, yang juga dijawab dengan ringan oleh Ryosuke. Satu atau dua kali Laras tertawa, tapi senyum tak pernah hilang dari wajah Ryosuke. Dia memang lelaki idaman, pikir Laras.

Pukul 22:50, Ryosuke berdeham, “Sudah hampir waktunya.”

Laras melirik jam tangannya, “Baiklah.”

Lalu mereka bergerak. Ryosuke dengan sigap menaruh kedua gelas dan plastik bungkus roti Laras di atas nampan, meletakkannya di rak pengembalian nampan, kemudian mengulurkan tangannya kepada Laras tepat saat Laras berdiri dari kursinya. Bergandengan tangan, mereka keluar dari kafe.

Di luar ternyata dingin. Laras yang tidak mengenakan jaket bergidik sedikit, yang dengan cepat ditanggapi oleh Ryosuke dengan cara melampirkan jaketnya sendiri ke atas bahu Laras. Meskipun Laras menganggap perlakuan semacam itu agak ketinggalan zaman, tetap saja tak bisa dipungkiri bahwa itu menguntungkannya.

“Akan kuantar kau sampai rumah.” 

Laras mengangguk, membiarkan Ryosuke setengah berlari menarik tangannya, mengejar pintu kereta yang—berdasarkan pengumuman dari kondektur—sebentar lagi menutup. Seperti lumrahnya malam hari di akhir pekan, kereta itu penuh sehingga mereka harus berdiri. Laras terdesak oleh orang-orang yang masuk belakangan—semuanya berisik dan bau alkohol—hingga ia terhuyung dan membentur dada Ryosuke, tapi dengan cepat ia menegakkan dirinya kembali. Ada jarak yang harus ia jaga. Seperti ini—dengan jemari tangan keduanya terjalin satu sama lain, bahu bersentuhan—adalah kedekatan yang tepat bagi Laras.

Kereta berguncang maju. Tiga layar di atas pintu kereta memperlihatkan tiga iklan yang berbeda, kesemuanya sama membosankannya. Pandangan Laras beralih ke jendela kaca di depannya. Pemandangan malam berupa warna-warni lampu kota dan papan iklan menyerbu matanya. Lampu-lampu, papan iklan, apartemen yang tinggi, dan sesekali langit gelap—begitu terus berganti-ganti. Laras mendadak merasa muak kemudian akhirnya menyalakan telepon genggamnya, memeriksa foto-foto yang mereka ambil di gang-gang kecil Shibuya tadi. Tempat-tempat itu memang fotogenik—pernak-pernik berwarna cerah di dalam toko yang kumuh, mural absurd dengan tulisan bahasa Inggris yang ngaco, sudut temaram yang dipenuhi sampah kaleng bir dan puntung rokok—semuanya memuaskan hasrat membangkang Laras terhadap budaya pop impiannya di masa lalu itu.

“Lihat, yang ini bagus.” ujar Laras, memperlihatkan swafoto berdua yang tadi mereka ambil di tengah-tengah gang. 

Ryosuke mengintip melalui bahu Laras, tersenyum, “Syukur, ya.”

Segera saja Laras mengunggah foto tersebut melalui akun instagram-nya. “Quality time sama pacar.” tulisnya di bawah foto, sebelum ia hapus dan ganti menjadi “Jumat dahsyat.”

Merasa puas, ia menyimpan kembali telepon genggamnya ke dalam saku. “Satu stasiun lagi.” ujarnya kepada Ryosuke, yang membalasnya dengan senyum. Sisa perjalanan mereka habiskan dalam diam. 

Ryosuke masih menggandeng tangan Laras sampai mereka tiba di depan pintu kamarnya. Apartemennya kecil dan hanya terdiri dari dua lantai. Beruntung Laras bisa mendapatkan kamar di lantai dua. Kalau tidak, ia harus menutup gorden sepanjang waktu karena lantai satu berbatasan langsung dengan jalan. 

Laras perlahan melepas tangan Ryosuke kemudian mengembalikan jaketnya, “Terima kasih.”

“Tidak apa.”

Entah untuk menutupi kecanggungan, atau karena rasa panas yang tertinggal di tangannya setelah lepas dari tangan Ryosuke, tercetus dari bibir Laras, “Mau masuk?”

Ryosuke tidak terlihat kaget, malah, ia tersenyum—senyuman kecut tanda menyesal, “Maaf, tapi... kamu tahu, ‘kan?”

Ya, Laras mengerti dan memang tidak seharusnya ia mengusulkan itu, karena apabila Ryosuke menyanggupi, kemungkinan antara Ryosuke yang berkompromi atau Laras yang memberi kompensasi, dan kedua pilihan tidak memungkinkan pada saat itu.

“Baiklah,” desah Laras, “terima kasih untuk hari ini.”

Ryosuke mengecup kening Laras, “Terima kasih karena selalu menggunakan layanan kami.”

Tepat pukul 23:30. Setelah membungkuk singkat sebagai salam profesional, Ryosuke melangkah pergi. Laras mengawasinya hingga hilang dari puncak tangga, kemudian menyalakan telepon genggamnya. Melalui sebuah aplikasi, ia mengonfirmasi bahwa servis yang ia terima hari ini sudah selesai dan menandai lima bintang untuk “Ryosuke”. Sambil menimbang-nimbang apakah “Ryosuke” layak dipertahankan ataukah ia perlu memikirkan spesifikasi lain untuk kencan minggu depan, ia membuka kunci pintu dan masuk ke dalam kamarnya yang dingin.

(selesai)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar