Juni 09, 2011

Diary Cinta Empat Musim Chapter 3: Musim Panas

Jalanan masih sama indahnya seperti saat musim semi. Hanya saja suhu yang meninggi dengan cepat ini menandakan bahwa sekarang telah memasuki musim panas. Para pengangguran berinisiatif menjadi penjaja kipas di pinggir jalan, dan mereka selalu pulang cepat dengan dagangan habis terjual.

Namanya juga musim panas, tentu saja terasa panas. Orang-orang mulai memakai baju yang terbuka, tak terkecuali gadis itu. Ia memakai baju yang sedikit lebih terbuka dari biasanya, tak merasakan banyak pandangan-tanpa-kedip ke arahnya di setiap gerak-geriknya. Kulitnya yang putih mulus terlihat semakin terang diterpa sinar matahari. Rambut indahnya dikuncir, memperlihatkan leher dan tengkuknya yang—jujur saja—berkali-kali membuatku tergoda.

Sebetulnya aku tak setuju ia berpakaian terbuka begitu. Sepertinya ia bisa meleleh kapan saja.

Lepas dari itu, bunga-bunga di dalam hatiku semakin banyak, membentuk sebuah kebun bunga. Hal ini, ajaibnya, mendorongku agar memberanikan diri untuk mendekati gadis itu. Bila ia memang rapuh seperti kaca, berarti harus ada yang menjaganya agar tidak pecah. Harus ada yang senantiasa membersihkannya agar kaca itu tetap mengkilat dan tidak kotor.

Sungguh, aku ingin menjadi orang yang melakukannya. Aku ingin menjadi orang yang dapat menjaganya.

Aku mulai dekat dengannya, namun masih tak berani bertanya,
Ia adalah bidadari,
Ataukah malaikat.
Entah kenapa, aku ingin meyakinkan diri bahwa ia wanita salju.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar