April 04, 2010

aku suka kamu nggak aku nggak kamu suka hahahaha

Hello there,,
hisashiburi desune..

belakangan ini aku (dan teman-teman seangkatanku yang laen) disibukkan oleh hafalan kanji yang luar biasa banyaknya. Bukan, kami bukan menghafalkan bagaimana cara membuat empek2 palembang, tapi menghafalkan ratusan (atau lebih!!) huruf paling mutakhir yang pernah diciptakan umat manusia: kanji. Dan kami (atau lebih tepatnya saya sendiri) hanya punya waktu kurang dari satu minggu untuk memelototi satu per satu huruf mutakhir tersebut dari gulungan panjang perkamen keramat Kanji in Context yang diberikan penyihir sakti Yayan Suyana. Nggak ngerti? bagus.

dan bukannya mulai menghafal, aku malah nulis blog. Tepuk tangan buat Sarah! *plok plok plok plok* (standing applause).

Jadi, tadi sore aku nonton program favoritku (lagi) yaitu Idola Cilik, dan si bocah ingusan sok cakep suara biasa wae yang tidak perlu disebutkan lagi namanya itu akhirnya lolos ke 3 besar, menyingkirkan salah satu calon juaraku: Nova.

Selamat..congratulation..omedettou..sugeng riyadi..

hahh terserah, kalo bocah itu masuk grand final dan menyingkirkan rio atau lintar mungkin aku nggak bakal nonton grand finalnya...terserah...gara2 itu tadi aku jadi sebal dan malas ngafalin kanji (bilang aja emang malas, pake nyalahin orang)

Tunggu, aku bukan mau membicarakan topik freak idola cilik lagi, aku mau membicarakan sesuatu yang lebih umum dan dimiliki oleh setiap orang:

selera.
tipe.
kesukaan.

yeah, selera.
selera apapun. Selera terhadap makanan, film, musik, olah raga, pelajaran, cowok, cewek, de el el. Hebat sekali bahwa sekian juta manusia bisa memiliki selera yang berbeda-beda terhadap apapun.

Bagaimana mungkin aku sangat mengidolakan Led Zeppelin sementara beberapa temanku menertawakan lagu2nya yang menurut mereka aneh?
Bagaimana mungkin aku sangat suka sambal dan sayur sementara separuh isi dunia bahkan nggak kuat makan merica dan hanya kenal selada sebagai sayur?
Bagaimana mungkin aku mengidolakan Robert de Niro dan Peter Jackson sementara separuh isi kelasku mungkin tidak mengenalnya?
Bagaimana mungkin aku lebih menyukai cowok berkulit gelap sementara industri persinetronan berlomba mencari cowok muda blasteran kulit putih transparan tapi akting pas2an?
Bagaimana mungkin aku benci jus pisang sementara separuh populasi kelas meminumnya setiap hari?

Bagaimana mungkin lebih dari separuh penonton Idola Cilik memilih bocah Malang sok cakep itu daripada anak perempuan manis dari Medan yang suaranya lebih bagus??

menurutku ini adalah fenomena yang luar biasa. Tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan (sotoy).

Entah kenapa selera dibagi dua: selera tinggi dan selera rendah.

Siapa yang membagi seperti itu? Aku seringkali merasa seleraku terhadap beberapa hal cukup tinggi, misalnya film, komik, musik, dan makanan. Aku merasa cukup kritis dalam menonton film dan bijak dalam memilih komik yang bagus. Aku bisa makan apa saja, cabe rawit, ati ayam, pare, daun pepaya, bahkan jus pisang, kalo kepepet.

Dipikir2 lagi, apa standar tinggi-rendahnya selera? Apakah kalo mayoritas berarti tinggi? Sinetron Cinta Fitri (yang sudah memasuki season 5) lagi2 memenangkan Panasonic Award belum lama ini, artinya sms pemirsa paling banyak untuk sinetron itu. Berdasarkan anggapanku dan ibuku bahwa CF sama sekali bukan sinetron bagus, ibuku berkesimpulan bahwa biasanya mayoritas orang berselera rendah, sementara orang2 berselera tinggi termasuk minoritas.
Kalau benar begitu, bagaimana dengan Michael Jackson dan Barrack Obama? Lebih dari separuh populasi dunia mengidolakan Michael Jackson dan lebih dari separuh populasi Amerika mempertaruhkan masa depan negara mereka pada Barack Obama. Bukankah mereka adalah kelompok mayoritas berselera tinggi?

Mungkin memang tidak perlu klasifikasi khusus untuk selera. Karena tiap orang berbeda dan tidak mungkin bagi yang satu untuk memaksakan seleranya pada yang lain, jadi ya biarkan saja.

Menurutku itu pemikiran yang salah.

Kalo kayak gitu bisa2 terjadi pembodohan massal. Menurutku selera seseorang bisa dibiasakan dari keluarga dan teman2. Tergantung dari pihak mana yang lebih mempengaruhi kita, tanpa sadar selera kita menyesuaikan. Aku tidak pernah mempelajari ilmu psikologi tentang yang semacam ini, tapi mungkin seperti itulah kira2.

Apakah saya mulai melantur dalam posting ini? mungkin ya, karena saya mulai mengkhawatirkan gulungan perkamen keramat dari dosen sakti saya tersebut, jadi sebaiknya cukup sampai disini saja.

See you.




-pesam noral-
hargai dan peliharalah selera anda dengan cara menikmati segala sesuatu yang bermutu, bukan sekedar mainstream.

dan jangan buang2 pulsa anda untuk si bocah Malang. =P


good night 'n sweet dream.
=]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar