September 28, 2013

Still a Long Way to Go

Halo, semua.

Ternyata lama juga aku nggak nulis di sini. Bukannya nggak ada yang bisa ditulis, malah ada banyak sekali. Saking banyaknya, semua keburu menguap ditelan kesibukan sehari-hari. Tapi malam ini aku lumayan senggang, jadi mari mengisi waktu =)

Kali ini aku ingin sedikit berbagi pengalaman tentang pekerjaan yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku. Setelah lulus dari jurusan Sastra Jepang, yang ada dalam kepalaku adalah bagaimana caranya agar bahasa yang kupelajari selama 4 tahun ini nggak hilang begitu saja. Jadi, sembari menunggu kesempatan untuk melanjutkan S2, aku melanjutkan pekerjaanku sebagai pengajar les privat bahasa Jepang lepas dan mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar bahasa Jepang di Jogja. 

Saat ini, selain sebagai pengajar les privat, aku juga menjadi pengajar di dua instansi yang berbeda. Instansi A adalah lembimjar umum dan Instansi B adalah lembimjar untuk calon tenaga kerja magang ke Jepang. Selain itu, aku juga menjadi penerjemah komik di Instansi C. Semua pekerjaan itu bersifat freelance, jadi jadwalku dalam seminggu pun berubah-ubah. Tapi saat ini aku cukup menikmatinya, mungkin akan kubiarkan comfort zone ini memanjakanku untuk beberapa waktu ke depan. =)

Di instansi A, kebanyakan peminatnya adalah anak SMP, SMA, dan mahasiswa yang, kalau bukan penyuka budaya jejepangan, ya orang yang memang mau ke Jepang, atau keduanya. Seringkali aku menggunakan pendekatan sebagai sesama penyuka budaya jejepangan di sini. Misalnya, membuat contoh kalimat menggunakan nama karakter anime, atau memperdengarkan lagu J-Pop sebagai materi pelajaran. Menyenangkan sekali. Yang menarik adalah adanya kecenderungan anak-anak ini kelewat mendewakan segala sesuatu tentang Jepang. Aku suka geli sendiri tiap ada yang bilang, "Sensei (ya, aku dipanggil Sensei. hahaha :v), lagu-lagu Jepang itu keren banget, ya. Liriknya dalem banget (lu kate sungai). Nggak kayak lagu Indonesia, alay." atau "Drama Jepang itu ceritanya bagus banget, aktornya juga ganteng-ganteng! ihihihi. Nggak kayak sinetron, alay." dan sebagainya.

Setiap aku mendengar pendapat macam itu, aku selalu menimpali, "Ah, masak, sih? Nggak juga kok." sambil dalam hati bertanya-tanya, memangnya kamu sudah mendengarkan semua lagu Jepang dan Indonesia? Memangnya kamu sudah nonton semua drama Jepang dan sinetron Indonesia? Oh well, meskipun kualitas sinetron jaman sekarang yang memang inferior itu rasanya sudah merupakan suatu hal yang pasti, sama pastinya dengan pendapat "Bumi itu bulat" dan "Kucing itu lucu". Dan dia mengatai segala sesuatu yang di Indonesia itu alay. Bagiku, kamu yang membanggakan produk Jepang dengan membabi buta itu sebenarnya nggak kalah alay.

Tapi, yah, waktu SMA dulu aku juga begitu, kok. Biar sajalah, mungkin memang lagi umurnya harus nge-fans sama sesuatu. Toh, berkat kesukaan mereka yang sedemikian rupa terhadap Jepang, semangat belajar bahasa Jepang mereka lebih besar. Bagiku sebagai pengajar, itu yang paling penting, 'kan?

Situasi di instansi B sedikit berbeda. Di sini, sebagian besar dari mereka belum mengetahui apapun tentang Jepang. Bagiku, ini jadi gampang-gampang susah. Aku harus menggunakan pendekatan yang berbeda. Kalau di instansi A kami belajar dengan santai, di instansi B tidak bisa seperti itu. Sistem di instansi B mengharuskan murid-muridnya mengenakan seragam dan berbicara layaknya tentara--keras dan tegas. Sebenarnya, para pengajar di situ pun dituntut untuk menjadi lebih "galak", dan meskipun banyak teman mengatakan aku ini galak, menjadi galak ketika mengajar itu ternyata tak semudah yang kubayangkan.

Aku suka mengajar dengan santai, yang melibatkan banyak lelucon dan selipan cerita-cerita ringan tentang Jepang--berdasarkan pengalaman pribadiku, tentunya. Aku suka membuat kelompok-kelompok dan menyuruh mereka membuat kaiwa (percakapan) lalu menampilkannya di depan kelas. Aku suka menyuruh mereka membuat sakubun (karangan) dengan tema tertentu. Aku nggak terlalu terganggu dengan murid yang cara bicaranya agak nyolot, selama ia memperlihatkan performa yang bagus dalam belajar. Aku nggak keberatan kalau ada yang tidur di kelas, selama ia nggak mengganggu teman-temannya yang lain. 

Nah, kebiasaan-kebiasaan itu sepertinya perlu dikurangi saat aku mengajar di instansi B, yang metodenya melulu teori dan latihan soal. Tadinya aku menerapkan cara itu juga, tapi lama-lama akunya yang bosan, ujung-ujungnya balik ke caraku sendiri =P. 

Di instansi B, sebagian besar muridnya lebih tua daripada aku, dan nyaris semuanya laki-laki. Ini juga merupakan sebuah tantangan, bagaimana caranya agar aku bisa tetap mengajar dengan menarik dan menyenangkan tanpa membuat mereka merasa terlalu nyaman hingga bisa bersikap nyeleneh atau merendahkan. Sejauh ini sih nggak ada masalah, semoga selanjutnya pun nggak.

Begitulah. Aku paling suka kalau kami melakukan brainstorming di kelas. Ada yang bertanya, ada yang menimpali, ada yang nggak setuju, ada yang berkomentar, dan lain-lain. Kelas selalu terasa jauh lebih hidup. Resikonya adalah kami jadi terlalu berisik, bisa mengganggu kelas sebelahnya kalau dindingnya tipis.

Mengajar itu menyenangkan. Tapi tentu saja, ada saatnya aku bosan. Pada saat itu, aku bersyukur memiliki kesibukan lain: menerjemahkan komik. Pasti kalian semua sudah tahu bahwa aku suka komik. Jadi, menerjemahkan komik kadang rasanya nyaris seperti bukan sedang bekerja. Ya cuma baca komik aja. Bedanya, aku kadang harus cari cara baca kanji atau arti dari suatu kata, atau memutar otak untuk merangkai kalimat dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Dan aku sih cukup menikmatinya, meskipun beberapa waktu lalu sempat sebel karena diserahi komik cewek menye-menye yang sama sekali bukan tipeku. Tapi nggak apa-apa, komik itu sudah tamat dan sekarang aku dapat serial yang lebih bagus =))

Mungkin semua pekerjaanku itu cuma freelance kecil-kecilan yang kelihatannya tidak menjanjikan. Kalau mengisi formulir dan ada kolom "pekerjaan" pun aku bingung musti nulis apa. Waktu ditanya orang pun, meskipun sudah dijawab "saya sekarang mengajar dan menerjemahkan" selalu ada pertanyaan tambahan, "nggak kerja di perusahaan Jepang? kan ada banyak." aku hanya tertawa dan tidak menjawab secara khusus.

Bukan apa-apa, tapi sampai detik ini aku sama sekali nggak berkeinginan untuk kerja di perusahaan milik Jepang. Alasan utamanya adalah karena perusahaan-perusahaan itu ada di Jakarta. Dan aku NGGAK PENGEN hidup di sana. Benar-benar nggak pengen. Dalam beberapa kali kunjunganku je Jakarta, tidak pernah memberikan kesan apapun. Entah kenapa kota itu selalu membuatku capek. Jumlah orangnya, kemacetan lalu lintasnya, jarak tempuh antar tempat yang jauh dan lama, bahkan udara di sana membuatku capek. Mungkin nanti kalau aku sudah punya firebolt aku mau ke sana. Eh, tapi kalau punya firebolt mending sekalian aja ke New Zealand, ya. Tiduran di padang rumput bersama sapi dan biri-biri.

Bagiku, sih, yang penting nggak melupakan bahasa Jepang. Toh berkat freelance sana-sini itu, aku bisa berhenti minta uang dari orang tua. Tentu saja karena aku masih tinggal di Jogja, aku masih tinggal di rumah bersama orang tua. Setidaknya aku sudah bisa menabung, sambil tetap sesekali bersenang-senang lewat karaoke atau nonton film atau belanja di toko buku. Dan toh target utamaku masih melanjutkan kuliah, jadi aku memang nggak berniat punya pekerjaan tetap dulu. Tapi, yah, yang namanya nasib, siapa yang tahu. It's still a long way to go. Nikmati saja apa yang dimiliki sekarang.


Selamat malam. Selamat menikmati hidup. =)    

3 komentar:

  1. uwiiiiihhh, paling enak kalo jadi orang yang "let it flow tapi gak kelewat selow" macem mbak sapi inih :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha dek mala bisa aja. mungkin aku kayak gitu cuma karena malas aja kok =P
      ayo semangaat~! =D

      Hapus
  2. oke mbak safi~
    kayaknya emang harus kudu menikmati dulu apa yg dinikmati sekrang y mbak :D

    BalasHapus