September 10, 2010

Semoga bukan sekedar introspeksi

Selamat idul fitri, semuanya!!

hari ini spesial, tentu saja. Setelah 30 hari berpuasa, semua umat muslim--bahkan mungkin yg bukan muslim--merayakan hari kemenangan. Shalat ied, berkumpul bersama keluarga, maaf2an, makan2, dan bagi2 THR telah menjadi sebuah rutinitas lebaran.
Aku pun merasakan semua itu pada lebaran kali ini.

Tapi aku merasa ada yang kurang, sangat kurang.
Aku sangat menyadari ramadhan kali ini lewat begitu saja tanpa banyak hal positif yang kulakukan.
Aku menjalankan ibadah puasa, tentu saja. Dan shalat lima waktu, tentu saja--apabila tak ada yang terlewat.
Tapi aku tidak menyentuh kitabku.
Aku tidak mengusahakan agar selalu shalat tarawih setiap malam.
Aku seringkali melupakan dzikirku, doa2 sesudah shalatku.

Aku berpuasa, tetapi aku kosong.

Aku bersemangat mencari makan untuk berbuka.
Aku begitu bernafsu melihat-lihat baju baru.
Aku menanti-nanti lebaran dengan segala kemewahan sajian dan THR yang mungkin akan kudapat.

Aku merayakan, tapi aku tak tahu apa sebenarnya yang kurayakan.

Puasa sebulan penuh? tidak mungkin, karena aku wanita.
Tarawih rajin? hah, aku hanya memutar bola mataku.
Apa? apa yang sebenarnya kurayakan?

Aku tahu, bagiku--dan bagi kebanyakan orang lain, mungkin--esensi dari bulan ramadhan entah bagaimana telah bergeser.
Dulu saat aku masih SD aku selalu tarawih ke masjid, setiap malam. Mengaji pun tak pernah terlewatkan. Dengan begitu, saat lebaran aku benar2 merayakan.
Merayakan keberhasilanku dalam beribadah.

Tapi semakin lama rasanya aku semakin melupakan keindahan bulan ramadhan itu. Aku mulai mementingkan hal2 lain, seperti acara TV yang ingin kutonton, atau novel yang ingin kubaca, atau pergi ke tempat2 nongkrong bersama teman2, atau malah shopping.
Aku melupakan tujuan utama di bulan ramadhan: banyak2 beribadah.
Menyedihkan.

Pernahkan terpikir olehmu bahwa ini mungkin saja ini ramadhan terakhirmu?
Mungkin saja tahun depan kau tak bisa lagi merasakan keindahan dan kesucian bulan itu?

Mengerikan sekali.
Kalau memikirkan itu, aku jadi sangat menyesal.
Semoga Allah masih memberi kita semua waktu untuk memperbaiki segalanya.
Amin.



-pesam noral-
mudah saja, jangan melakukan kelalaian2 seperti yang telah kulakukan di atas.


good night 'n sweet dream.

1 komentar:

  1. samalah. kurang lebih saya hanya menyentuh kitab itu di awal-awal Ramadhan: selepas maghrib dan sesudah subuh dan rajin tarawih tanpa disuruh. setelah 'dapat', saya hanya menyentuh kitab kalau ingat dan nggak pernah tarawih.
    T_T
    masya Allah...

    BalasHapus