September 19, 2010

Kursi Reyot, Segelas Teh, dan Mbok Lasmi di Suatu Siang

Halo semua.
Berikut ini adalah cerpen yang kukirim ke majalah--entah bulanan, semesteran, atau tahunan--punya Fakultas Psikologi UGM.
Ceritanya sangat simpel karena saya lupa deadline akhirnya hanya mengerjakannya dalam satu malam. -_- jadi kalo jelek harap maklmum ya *ngerayu*

-----------------------------------------------------------------------------------
Kursi Reyot, Segelas Teh, dan Mbok Lasmi di Suatu Siang

 Citra berguling di tempat tidurnya, menggeliat dan menguap beberapa kali, sebelum akhirnya terbangun sepenuhnya. Ia mengerjapkan mata, kebingungan. Cahaya matahari menerobos masuk lewat celah jendela kayu yang renggang, menciptakan seleret garis kuning di seprai Citra yang usang. Sudah jam berapa ini? Masih kebingungan, gadis kecil itu melihat ke arah jam dinding, dan terperangah.

Masya’Allah!” teriaknya sambil melompat dari tempat tidur, yang memprotes dengan berderit keras mengerikan. Jam telah menunjukkan pukul 08.15, sudah sangat terlambat untuk pergi ke sekolah. Kenapa pula bapak dan ibu tidak membangunkannya?

Seketika ia tersentak, tertegun sebentar, lalu mulai tertawa terbahak-bahak. Ya ampun, bagaimana mungkin ia bisa lupa? Kenyataan yang menyenangkan datang dengan begitu mendadak—siapa yang sadar, dengan rutinitas setiap hari harus bangun pukul 05.00 pagi, dan tiba-tiba saja pagi itu, di hari pertama liburan semester itu, keharusan tersebut hilang entah kemana. Tentu saja, ini liburan semester!

Luapan kebahagiaan membanjiri pikiran dan perasaan Citra. Libur! Akhirnya, libur! Ya ampun, sudah enam bulan lamanya ia merindukan liburan, dan liburan itu akhirnya datang juga. Seperti mendapat kejutan di hari ulang tahun. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Akhirnya ia membuka jendela kayunya yang sudah renggang—bukan karena faktor cuaca atau semacamnya—tapi karena sudah terkikis waktu dan dimakan rayap. Masih senyam-senyum sendiri, ia menghirup napas dalam-dalam, membiarkan wajahnya disiram sinar matahari pagi. Alhamdulillah, pagi yang cerah di hari pertama liburan. 

Ia mengawali harinya dengan shalat subuh yang sangat terlambat. Biasanya saat libur ibu selalu membangunkannya untuk subuhan tepat waktu, namun setelah Citra naik kelas 5 semester lalu, ibu beranggapan Citra sudah cukup besar untuk belajar bangun pagi sendiri, sehingga ibu tidak lagi repot-repot membangunkannya. Dan Citra memang memegang tanggung jawabnya dengan baik, sampai hari ini. Yah, ia tidak akan mengulanginya lagi—semoga.

Setelah melakukan rutinitas pagi; shalat, merapikan kamar, mandi, dan sarapan, ia duduk berselonjor di ruang tamu sekaligus ruang keluarganya yang sempit. Kedua orang tuanya sudah pergi bekerja. Bapaknya adalah pegawai serabutan yang sering gonta-ganti pekerjaan, dan ibunya berjualan tempe di pasar. Bapak dan ibu selalu sibuk, jadi Citra sendirian di rumah, setengah melamun memikirkan kegiatan menyenangkan apa saja yang ingin dilakukannya dua minggu ke depan. Sambil melamun, ia berjalan ke luar ke teras, melayangkan pandang ke rumah-rumah di sekeliling rumahnya. Pandangannya terhenti di kerumunan orang di rumah tetangganya, Mbok Lasmi.

Mbok Lasmi adalah seorang janda tua yang hidup seorang diri. Beliau baru pindah ke rumah sebelah Citra minggu lalu, dan kemarin Mbok Lasmi mulai membuka usaha kecil berjualan lauk-pauk di pagi hari dan gorengan di sore harinya. Citra sendiri belum pernah mencoba masakan buatan Mbok Lasmi, namun ia sudah bertatap muka secara langsung pada hari pertama Mbok Lasmi menjadi tetangga Citra.
 
Mbok Lasmi berperawakan sedang; tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek; tidak gemuk, tapi juga tidak kurus. Meskipun keriput sudah menghiasi wajahnya, Citra tahu bahwa Mbok Lasmi pasti cantik sewaktu masih muda. Sekarang pun kecantikan itu masih terlihat, terutama saat beliau tersenyum—yang sayang sekali jarang dilakukannya. Meskipun begitu, terlihat dari pandangan mata dan tutur katanya bahwa beliau wanita yang ramah.
  
Lebih dari semua penampilan fisik Mbok Lasmi, ada sesuatu pada dirinya yang selalu membuat Citra sangat tertarik. Entah gerak-geriknya, atau kelembutan suaranya. atau mungkin aura yang dipancarkannya, Citra tak tahu pasti. Seperti melihat pemandangan yang sangat indah, membuat kita sulit untuk mengalihkan pandang sebelum pemandangan itu terusik oleh sesuatu. Sama halnya saat Citra memandangi Mbok Lasmi tengah melakukan sesuatu, ia tak bisa mengalihkan pandangannya sebelum beliau ganti mengerjakan hal lain atau hilang dari pandangan. Hal itu membuat Citra penasaran dengan Mbok Lasmi, mendorongnya untuk mengenal beliau lebih dekat.
  
Masih setengah melamun, Citra mendorong pagar besinya yang berkarat hingga terbuka, dan berjalan telanjang kaki menghampiri meja tempat Mbok Lasmi berjualan. Kerumunan orang mulai menipis seiring matahari yang kian meninggi, begitu pula dengan lauk jualan Mbok Lasmi yang tinggal sedikit. 

Arep tuku opo, nduk?” tanya Mbok Lasmi ramah begitu melihat Citra datang.

Citra tersentak, menyadari dirinya ternyata sudah berada di depan jualan Mbok Lasmi. Ia melayangkan pandang ke jajaran piring yang beberapa diantaranya sudah kosong. ”Eh...”

Opo?” tanya Mbok Lasmi lagi, ”tinggal sambal endhog sama mendoan.” 
 
”Eh..mboten, anu...” gagap Citra, ”saya mau membantu mbok” tambahnya cepat-cepat, tiba-tiba mendapat ide.

Mbantu opo?” tanya Mbok Lasmi bingung.
      
”Membantu mbok beres-beres jualan.” kata Citra cepat, ”Saya lagi libur.”

Mbok Lasmi tampak terkejut, ditawari bantuan seperti itu oleh seorang anak SD yang sedang libur. ”Lho, ono opo iki? Ndak pergi main sama teman-temanmu aja to, nduk?”

Citra menggeleng sambil berkata dengan sungguh-sungguh, ”Nggak. Saya nggak ada kerjaan, Mbok. Bapak sama ibu juga pergi. Saya mau membantu Mbok aja.”

Sementara Citra berkata seperti itu, pelanggan terakhir Mbok Lasmi ternyata telah membeli sisa lauk yang ada, menyisakan piring-piring kotor di atas meja. Mbok Lasmi memandang Citra sebentar. ”Ya sudah, nek kamu maunya begitu, ayo bantu mbok bawa piring-piring ini.”

Senang sekaligus sedikit heran dengan keberaniannya, Citra menumpuk piring-piring kotor itu lalu mengangkatnya, tidak berat. ”Dibawa ke mana, Mbok?”

”Dapur.” jawab Mbok Lasmi sambil sibuk membereskan meja dan tetek bengek peralatan, ”Mlebu wae, di belakang.”

Citra membawa piring-piring itu ke dapur sambil jelalatan melihat bagian dalam rumah Mbok Lasmi. Ruangan dalam rumah itu hanya ada satu, dari pintu langsung terlihat bagian belakang, namun ada sekat yang membatasi ruang depan dengan dapur. Tempat itu rapi dan bersih, tapi biasa saja; tidak ada perabotan yang menarik. Tentu saja, apa yang kau harapkan dari seorang janda tua yang hidup sendiri dan menyambung hidup dengan berjualan lauk-pauk? Hiasan dinding dari kepala rusa yang diawetkan?

Sambil mendengus geli membayangkan kemungkinan itu, dengan cekatan Citra mulai bekerja. Hidup dengan kedua orang tua yang sibuk membuat Citra—meskipun di usianya yang masih kecil—terbiasa mengerjakan segala pekerjaan rumah sendiri. Hanya dalam beberapa menit ia sudah selesai mencuci piring, dan tanpa bertanya atau disuruh ia sekalian membereskan pekerjaan dapur lain yang sepertinya belum sempat dilakukan Mbok Lasmi tadi pagi; membuang sampah dan membersihkan dapur.

Sekitar setengah jam kemudian ia sudah duduk nyaman di sofa reyot Mbok Lasmi di ruang depan—per-nya sudah mencuat kemana-mana—dengan segelas teh manis hangat di tangannya. Mbok Lasmi menyusul dengan segelas tehnya sendiri sejurus kemudian, duduk di kursi rotan yang sama reyotnya, di samping Citra.

”Makasih ya, nduk.” kata Mbok Lasmi. ”Kerjaan mbok jadi cepat selesai.”

”Sama-sama.” jawab Citra, tersenyum.

 Hening sejenak saat mereka menyeruput teh masing-masing. Citra mengerling Mbok Lasmi diam-diam, mengamatinya. Cantik, namun terlihat tidak bahagia, seperti ada beban berat di pundaknya, membayangi mata dan raut wajahnya. Lalu Citra sadar, ia belum pernah benar-benar hanya berdua dengan Mbok Lasmi sebelumnya.

”Mbok, kenapa pindah rumah ke sini?” tanya Citra, memulai pembicaraan.

Mbok Lasmi memandang ke luar jendela, menerawang. ”Dulu rumah Mbok di tengah sawah, nduk. Ndak punya tetangga. Biasanya Mbok jualan lauk di pasar yang jauh dari rumah, diantar suami Mbok naik sepeda, tapi terus suami Mbok seda.”

Jeda sebentar. Citra merasa agak salah tingkah, harus sampai ke topik ini, namun Mbok Lasmi melanjutkan, ”Susah nduk, setelah suami Mbok meninggal, Mbok ndak bisa naik sepeda. Terlalu jauh kalau harus jalan kaki dari rumah ke pasar. Terus teman Mbok menyarankan untuk tinggal di sini. Ini rumah teman Mbok, dekat ke mana-mana dan biaya kontraknya murah, jadi ya Mbok mau aja.”

Citra mengangguk-angguk sebagai respons. Lalu ia lanjut bertanya memancing, sedikit lancang, ”Anu, suami Mbok...?”

”Meninggal karena sakit, stroke.” sahut Mbok Lasmi singkat, mengerti maksud pertanyaan Citra yang tidak selesai. Beliau menyeruput tehnya lagi, pandangannya menerawang jauh, seperti mulai melamun. ”Orang yang baik, suami Mbok itu,” lanjutnya tiba-tiba. ”kaku dan kolot, tapi baik. Beliau orang Jawa tulen tapi juga pemeluk islam yang kuat; ndak mau ikut tradisi kejawen di kampung.” Mbok Lasmi menoleh singkat, memandang Citra penuh arti, ”Ngerti to, bangsane padusan; adus-adus sebelum ramadhan, yang semacam itu, beliau ndak mau ikut-ikutan. Dulu waktu kami masih tinggal di kampung, wong-wong kampung jadi suka ngomongin, soalnya kami ndak pernah ikut tradisi kejawen di sana, padahal kejawen di sana kuat. Tapi suami Mbok ndak peduli. Beliau ingin kami melaksanakan ajaran islam dengan benar. Dan Mbok setuju itu. Makanya Mbok selalu tahan diomongin orang.”

Mbok Lasmi setengah tersenyum, pikirannya sudah tak berada di tempatnya lagi, berkelana ke masa lalu. ”Yang terbaik, beliau itu. Mbok sangat bersyukur bisa menjadi istrinya, melayani dengan segenap jiwa Mbok sampai akhir hayatnya.”

Citra ikut melamun, membayangkan seperti apa rupa pria yang membuat Mbok Lasmi jatuh cinta setengah mati itu. Mungkin tidak tampan, tapi cukup simpatik dengan ketegasan dan kekuatan iman yang dimilikinya. Dan yang terpenting, tetap setia hingga tutup usia.

”Dulu Mbok dijodohkan, nduk, sama beliau.” lanjut Mbok Lasmi tanpa dipancing. ”Ndak kayak jaman sekarang, dulu jodoh-jodohan gitu yo biasa. Mbok percaya sama pilihan orang tua Mbok, jadi ya Mbok terima.”

Citra tiba-tiba teringat beberapa adegan sinetron yang kadang ia lihat di televisi, dimana seorang gadis ABG—diperankan artis blasteran—kabur dari rumah hujan-hujanan saat orang tuanya tiba-tiba menjodohkannya dengan seorang pria—juga blasteran—pemilik suatu perusahaan besar di Jakarta. Entah apakah zaman sekarang memang selalu seperti itu apabila terjadi perjodohan, atau sinetron-sinetron itu yang terlalu mengada-ada, Citra tidak tahu.

”Mbok percaya wong tuwa itu selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Lha ini buktinya, kami tetap bisa setia sampai umur segini.” kata Mbok Lasmi lagi. ”Ndak kayak artis-artis itu, le pacaran suwe banget, eh, menikah tiga tahun, njuk cerai,” beliau menggeleng-gelengkan kepalanya, ”ndak masuk akal.”

Citra mengangguk-angguk mengiyakan, meskipun ia sendiri tidak terlalu tahu karena ibu tidak memperbolehkannya menonton program infotainment. ”Jadi Mbok nggak tahu wajah calon suami Mbok sendiri?”

”Iya,” jawab Mbok Lasmi. ”ketemunya yo pas ijab-kabul kuwi.” Beliau terkekeh sebentar, kerutan di wajahnya tidak mengurangi kecantikannya. ”Tadinya Mbok sempat takut nek wong e elek, tapi ternyata guanteng tur apikan, lho. Alhamdulillah.”

Oh, jadi bayangan Citra tadi salah; ternyata almarhum suami Mbok Lasmi tampan. Citra jadi bertanya-tanya tentang sesuatu, namun takut mengutarakannya.

”Mbok,” ujar Citra, ragu-ragu, tapi akhirnya memberanikan diri. ”nggak punya anak?”

Mbok Lasmi terdiam. Demikian juga Citra, yang tiba-tiba merasa tidak enak. Setelah sepersekian detik yang canggung, akhirnya Mbok Lasmi menjawab, ”Ndak punya anak, nduk. Entah kenapa ndak dikasih sama Gusti Allah.”

”Maaf.” bisik Citra menyesal.

Ndak apa-apa, dengan begitu Mbok malah jadi bisa fokus merawat suami.” sahut Mbok Lasmi. Setelah itu raut wajahnya jadi berbayang lagi. Cahaya yang tadi muncul saat beliau mengenang masa lalunya telah hilang, membuat Citra jadi semakin menyesal.

Lalu jawaban itu muncul begitu saja, mendadak dan sangat jelas, seakan sudah ada sejak awal, hanya saja Citra tidak menyadarinya.

Mbok Lasmi pastilah kesepian.

Tanpa anak tanpa suami, hidup seorang diri di lingkungan yang baru, pasti membuat Mbok Lasmi sangat kesepian. Dan rasa itu—rasa ketertarikan yang tak bisa dijelaskan di dalam diri Citra—adalah rasa simpati sebagai reaksi dari sinyal-sinyal SOS yang dikuarkan Mbok Lasmi secara tidak sengaja, membuat Citra selalu ingin melihatnya, menghampirinya, mengenalnya lebih dekat, merengkuhnya.

Senang dengan datangnya pemahaman baru ini, Citra mendadak bersemangat. Ia tahu apa yang akan ia lakukan dua minggu ke depan selama liburan.

”Wah, wis jam loro,” ujar Mbok Lasmi tiba-tiba. ”Mbok kudu siap-siap jualan gorengan. Kamu pulang aja ya, nduk. Ndak baik rumah ditinggal kosong begitu.”

Citra mengangguk, menghabiskan tehnya yang sudah dingin dalam sekali teguk, lalu melompat ke lantai. ”Matur suwun, Mbok.”

Mbok Lasmi mengambil gelas Citra dan menaruhnya di dapur. ”Lho, mestinya Mbok yang matur suwun, sudah dibantuin.”

”Citra mau lho membantu Mbok lagi besok-besok, sampai libur selesai.” tawar Citra.

”Lha—”

”Nggak apa-apa, Mbok.” tegas Citra, menyela penolakan dari Mbok Lasmi. ”Citra memang mau dan ikhlas, kok.”

Diiringi desah pasrah dan gelengan kepala dari Mbok Lasmi, Citra melenggang ke arah pintu. Tangannya memegang kenop pintu yang setengah terbuka saat ia berkata, ”Oh ya, sebagai gantinya, Mbok bisa anggap Citra sebagai anak Mbok sendiri.”

Citra mendengar gerakan yang terhenti tajam di belakangnya, lalu menoleh sedikit. Dilihatnya Mbok Lasmi memunggunginya, hendak mempersiapkan bahan-bahan gorengan. Setelah beberapa detik, didengarnya Mbok Lasmi mendesah, ”Ngomong opo, kowe ki, nduk...”

Ada senyum dalam perkataan itu, Citra yakin.

Akhirnya, diiringi salam, ia menutup pintu.




   
-----------------------------------------------------------------------------------   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar