Oktober 27, 2011

1 Hari = 24 Jam, Kurang --kata Ibu

Satu hari=24 jam 
-kata dunia.




Kenapa dalam satu hari hanya ada 24 jam?
-tanya ibu. 


Padahal ibu harus bangun sangat cepat, lebih cepat dari semua orang di rumah. Mempersiapkan kebutuhan ayah, kakak, dan adik yang banyak dan bermacam-macam. Memasak lauk dan menanak nasi untuk sarapan. 
Ternyata adik tidak suka nasi dan kakak tidak suka sayur. 
Maka ibu memanggang roti. 
Lalu ibu menyiapkan seragam adik yang sejak kemarin belum sempat diseterika. 
Sambil menunggu seterika panas, ibu mencuci pakaian ayah yang semalam baru pulang dari luar kota. 
Memang ada mesin cuci, tapi menurut ajaran turun-temurun baju putih harus dicuci terpisah dengan manual. 
Belum selesai seterika dan cucian, ternyata gorengan di dapur sudah gosong, padahal ayah dan kakak sudah bangun untuk bersiap-siap berangkat. 
Apa boleh buat semua sarapan roti. 
Akhirnya semua berangkat, ibu sendirian. 
Rumah tetangga sebelah mengundang untuk bergosip, tapi ibu harus menyelesaikan cucian dan seterikaan yang sudah menumpuk. 
Belum lagi kumpulan baju putih yang tadi pagi direndam siap untuk dikucek sekarang atau ia akan menjadi bau. 
Lalu ibu menjemur pakaian. 
Banyak sekali sampai tali jemuran sepanjang benang layangan itu tidak cukup dan terpaksa sisanya dijemur di dalam kamar. 
Kemudian ibu menyapu. 
Dapur, ruang tengah, kamar-kamar, ruang tamu, dan beranda. 
Kemudian ibu mengepel lantai. 
Dapur, ruang tengah, kamar-kamar, ruang tamu, dan beranda.
Ibu harus menyiapkan makan siang untuk adik yang pulang cepat. 
Telur dadar pun jadi, karena adik sangat suka telur. 
Namun ternyata ketika adik pulang ia sudah jajan bakso di kantin sekolah. 
Apa boleh buat ibu memang kasih adik uang jajan. 
Ibu kembali melanjutkan seterikaannya. 
Ketika selesai, ternyata sudah sore. 
Ayah dan kakak sudah mau pulang, maka ibu harus memasak makan malam. 
Lele goreng dan sambal terasi pun jadi, karena hanya itu yang ada di kulkas. 
Besok pagi harus ke pasar lagi. 
Setelah itu semua mandi dan cucian kembali menumpuk, padahal ibu baru saja melepas sprei yang sudah dua bulan dipakai dan sudah menuntut untuk dicuci. 
Banyak sekali cucian tak ada habisnya. 
Ketika cucian baru dikerjakan separo jalan, ibu sudah sangat mengantuk tapi rupanya adik ingin bantuan dalam mengerjakan pe-er. 
Ayah dan kakak pun semua punya pe-er. 
Orang Indonesia memang sangat suka pe-er. 
Maka ibu membantu adik. 
Adik selesai, ibu pun menyelesaikan separo cucian, sisanya dilanjutkan besok. 
Piring kotor pun menumpuk, tapi ibu sudah terlalu mengantuk, dan obat ngantuk adalah tidur. Maka ibu pun tidur.






-to be continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar