Tampilkan postingan dengan label beban hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beban hati. Tampilkan semua postingan

Juli 29, 2012

Tolong, Tuhan

Tolong, Tuhan.

Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.

Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.

apa yang telah hilang di antara mereka.

yang telah hilang di antara mereka.

di antara mereka.

mereka.

Karena hal yang hilang itu telah berada jauh, jauh, jauh di luar jangkauan tangan kecilku
yang telah berusaha menggapai entah sejak kapan.

Karena setiap pencarian yang coba kulakukan telah dimentahkan, terus, terus, lagi, lagi, oleh hambatan yang sama. Kendala busuk kembar.

Karena garis kesabaran manusiaku yang sepala-pala upaya kulebarkan hingga tepi, tanpa daya meregang, meregang, meregang, hingga putus dan dua ujungnya menampar-nampar liar dinding kemunafikan yang telah kubangun untuk mempertahankan diri.

Karena aku hanya manusia, yang seluruh partikel tubuhnya sedang memanjatkan doa kepada-Mu, Maha Pemilik Segalanya.

Maka, Tuhan.
Tolong kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.

Namun apabila memang kehendakmu untuk tidak mengembalikannya, tolong beri akhir saja.

Beri akhir saja.




Juli 25, 2012

Batu

ada dua batu.

keras. keras banget.
besar lagi.
nggak bisa diapa-apain.
kupukulin pake palu, kuhantam pake kapak, kujedotin satu sama lain.
masih gitu-gitu aja.
repot. repot banget.
mana ada dua, lagi.
kayak satu aja kurang.

pengennya sih kulempar ke sungai.
tapi berat banget.
dilempar ke sungai pun nggak bakalan hanyut.
didiemin kena panas hujan juga nggak hancur.
beneran nggak bisa diapa-apain.
bikin capek.

ah, dasar batu.

Juni 17, 2012

Berkicau Sebanyak Apapun, Sepertinya Kau Tidak Bisa Mendengarku

Sesuatu menggelayuti dadaku.


Berat dan sakit.


Aku mengenang kepada waktu ketika semua tak jadi seperti ini. Ketika hubungan dua manusia masih begitu suci dan penuh ketulusan, tak bersyarat dan tak menuntut. Ketika apa yang ia perdengarkan adalah sebuah wahyu indah hanya untukmu. Ketika apa yang ia perlihatkan adalah sebuah karya seni terelok yang hanya kau yang bisa nikmati. Ketika semua yang terjalin berdasarkan keikhlasan, bukan keharusan, seperti yang kulihat sekarang ini.


Waktu tidaklah kejam, ia hanya selalu berjalan. Ia bak anak kecil, polos dan tidak peduli. Namun ia tahu apa yang harus ia lakukan; berjalan tanpa bernah berhenti. Tak usah lah kau salahkan ia.


Takdir pun tidaklah kejam. Ia hanya sebuah skenario yang tak menyenangkan dan tak terhindarkan, namun memang itulah tugas yang diembannya. Aku mempercayai Sang Sutradara, bahwa sesungguhnya Ia jauh lebih mengetahui segala sesuatu daripada kita para aktornya. Tak usah lah kau salahkan ia.


Aku tahu bahwa kau maupun dia selalu mencari pertanggungjawaban kepada siapa yang bersalah. Manusiawi. Aku sendiri sungguh tak tahu. Pusing kepalaku hanya memikirkan di mana letak kesalahannya sehingga waktu dan takdir terlihat begitu jahat. Terbuang semua air mataku menyesali kepergian sebuah keikhlasan, yang semakin hari semakin tipis saja bak seutas benang terbagi tujuh. Mengeras sudah perasaanku seiring kuejawantahkan kewajiban-kewajiban yang kau syaratkan, kelelahan mengartikan setiap kode-kode bisu yang ia layangkan, muak dengan segala kepura-puraan yang menari-nari telanjang di atas permukaan ini.


Hei kau!


Tahukah kau betapa dangkalnya dirimu, melenggak-lenggok sombong di atas panggung mewah itu, menyandiwarakan sebuah drama yang hanya kau sendiri yang bisa nikmati? Kau seenaknya menarik dia untuk memainkan drama ini bersamamu, berharap bisa mendapatkan pengakuanku. 


Bukan. Aku sama sekali tidak sedang mencari pertunjukan. Aku menantangmu untuk datang pada kenyataan ini, padaku dan padanya yang menunggumu sebanyak entah berapa juta tetes air hujan telah turun. Rasakan jalan yang harus kau lalui untuk mencapainya yang telah jatuh dan terinjak-injak, berulang kali dan berulang kali. Aku ingin melihatmu datang, terseok dan tertatih, pucat dan berlumur lumpur, sambil menggendong sekarung besar berisi keping-keping keikhlasan yang telah kau lempar ke dalam sumur kebahagiaan semu milikmu. Aku ingin kau bawa pecahan itu, lalu susun kembali di sini di depan mataku. 


Sudah begitu pun, aku tak yakin kau akan mendapatkan pengakuannya.   


Aku bahkan tak yakin bahwa kau menginginkannya.


Mungkin kau sudah jatuh terlalu jauh dalam sumur itu, terlena akan kecantikan palsunya, dimabukkan oleh semerbak semunya. Tak pelak kau terlalu lemah untuk mendaki ke atas, ketakutan membayangkan rasa sakit pada jemari tangan dan kakimu seiring tiap langkah yang kau ambil. Kau terlalu naif untuk menyadari betapa pengecutnya dirimu.


Kau lihat? Kepercayaanku yang telah tergerus ombak-ombak besar kebohonganmu ini hanya tinggal berupa lembaran yang terbuat dari pasir. Pun dia yang selalu menantimu dalam diam, menghaturkan doa-doa setiap hari agar kau mau kembali ke sini, ke tempat ini.


Sudah terlalu jauh, berlarut-larut. Tidakkah kau lelah? Tidakkah kau ingin pulang?


............


Aku ragu kau bisa menjawab. 
Aku bahkan ragu apakah kau mengerti maksudku.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------


Entah ada di mana sekarang keihklasan. Entah ia utuh ataukah tercerai-berai. Entah apakah manusia sadar akan kehadirannya.


Kalau kalian masih memilikinya barang secuil saja, simpan ia bak sekotak perhiasan. Sungguh kita tidak tahu akan jadi seperti apa dunia ketika kita tak lagi memilikinya.





Januari 17, 2012

"Masih 22 Tahun" atau "Sudah 22 Tahun" ?

Hello there,

Baru sadar, ternyata aku udah lama nggak posting blog dan ini adalah yang pertama kalinya di tahun 2012.
Dan ngomong2, kemaren aku ulang tahun. Sekarang umurku 22.

Bagaimana kalian melihat angka 22 itu? Apakah "sudah 22 tahun" atau "masih 22 tahun"?
Jujur saja, semakin kesini aku jadi mulai merasa--menurut istilah yang sedang nge-trend, saking nge-trend nya sampe bosen dengernya--galau.
Memasuki usia ini, aku merasa resah. Gundah gulana. Tidak pasti.

Aku adalah mahasiswa jurusan sastra jepang semester 7. Semua mata kuliah wajib sudah kuambil, dan hanya selangkah lagi (baca: skripsi) aku bisa menyelesaikan kuliahku. Setelah lulus, cari kerja. Setelah terkumpul uang, melanjutkan S2. Kuliah S2 sambil bekerja sambilan. Mandiri, lalu bertemu dengan pria idaman. Menikah, punya anak, membina rumah tangga sampai tua, dan mati bahagia.

Itu adalah skenario ideal paling aman yang kuinginkan.

Secara klise, aku ingin mengatakan bahwa segalanya tidak berjalan semudah itu. Banyak sekali hal2 diantara proses itu yang bisa membuat kita gundah. Mungkin pada awalnya hanya perkara kecil, tapi lalu meluas mempengaruhi hal2 lain juga.
Contohnya saja sekarang. Aku sedang memperjuangkan ujian demi mendapatkan beasiswa ke jepang, mungkin kesempatan terakhirku di UGM, karena beasiswa biasanya tidak menginginkan mahasiswa yang terlalu tua. Aku melihat sekeliling, kepada teman2 lain peserta ujian yang sama, kepada kakak2 kelas yang telah maupun yang belum berhasil, kepada adik2 kelas yang masih menempuh kuliah aktif, kepada semuanya.

Aku merasa berada di posisi yang sangat nanggung. Kesempatanku tidak banyak, kemampuanku tidak seberapa. Kekuatan hatiku untuk memotivasi diriku sendiri pun goyah. Aku benci diriku yang seperti ini. Aku pernah menjadi orang yang selalu berani dan berusaha, dengan tegar terus menguatkan tekad demi mencapai apa yang kuinginkan. Entah sejak kapan dan karena apa, aku membiarkan diriku terlena terlalu jauh hingga sulit untuk kembali. Aku memerlukan usaha yang berkali lipat untuk kembali ke pace ku saat itu, saat diriku begitu kuat.
Aku merindukannya, sangat.

Tidak ada yang berubah dengan menyalahkan diri sendiri. Waktu tidak bisa dikembalikan, tidak pula dihentikan. Aku dengan seenaknya terlalu banyak menghentikan waktuku sendiri untuk beristirahat dan menghela napas, tanpa menyadari bahwa yang kuhentikan itu cuma sesuatu yang semu. Waktu tidak akan berhenti untuk menungguku.

Ketika menyadari ini, kenyataan menamparku keras, meninggalkan bekas merah di pipi, mungkin berdarah.
Aku mengingat kembali impian2ku: pergi ke luar negeri, sekolah di jepang, mengunjungi Universal Studio, mendirikan sekolah swasta untuk anak tidak mampu, membuat tempat penampungan untuk kucing liar (ya, aku belum lama ini menambahkannya dalam daftar impianku), membina rumah tangga yang sehat dan bahagia, tinggal di rumah impian, menjadi penerjemah sekaligus penulis, dan lain2 yang bahkan tak bisa kuingat lagi.

Begitu banyak hal yang ingin kuraih. Saking banyaknya, aku takut ketika berusaha keras memeluk semuanya, mungkin akan ada yang lepas dari pelukan. Tapi aku bahkan tidak perlu berpikir sampai ke situ, karena aku baru sedikit mengangkat tanganku lemah, ingin memeluk tapi hasrat itu masih dikalahkan oleh hal2 duniawi yang aku ciptakan sendiri.

Tekadku lemah. Keberanianku nol. Usahaku sekelas ikan teri kecil yang belum bisa renang .
Dan percuma saja banyak mengata2i diriku sendiri tanpa membuat perubahan. Hanya sekadar menenangkan diri? pffft, bullshit.

Aku sudah berusia 22 tahun, dan belum melakukan langkah pertamaku untuk keluar dari zona nyaman ini.

Presentase lolos ujian penerimaan beasiswa ke jepang mengkhawatirkan, tema skripsi belum dipersiapkan, hal yang akan dilakukan setelah lulus belum diputuskan, talenta pas2an, uang masih diberi orang tua...banyak hal.
banyak hal.

Aku ingin menenangkan diriku sendiri dengan berkata, "masih 22 tahun".

Apabila--dengan segala kuasa Tuhan--ada 20, 30, bahkan 50 atau 60 tahun waktu yang terbentang di depanku, aku--sekali lagi, dengan segala kuasa Tuhan--pasti berhasil memeluk semuanya.
Aku adalah orang yang cuek dan bisa bangkit dari kekalahanku. Nggak bisa ke Jepang? Cari yang lain. Negara yang pantas dikunjungi untuk belajar bukan cuma Jepang. Meskipun aku mahasiswa sastra jepang dengan kemampuan bahasa Inggris yang juga pas2an, bukan tak mungkin aku bisa ke Amerika, atau sekadar Australia. Bahkan kalau aku punya uang, dengan uangku sendiri aku akan ke Singapura--untuk mengunjungi Universal Studio, tentunya.

Skripsi? Hajar.
Screw idealisme konten, yang penting lulus. Buat dosen senang, wisuda cepat. Toh aku bukannya mau melanjutkan penelitian skripsiku untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.

Pekerjaan? Melanjutkan S2? Mandiri? Jodoh?
Oh, tak akan ada habisnya kita ditantang oleh hidup. Mau lari juga percuma, dia akan selalu berhasil menangkap kita lagi. Hidup itu kuat. Tapi kita ini hidup. Seharusnya kontrol ada di tangan kita.
Idealnya, sih.

.......................................................
Pada akhirnya, semua yang kutulis di atas hanya sebuah pemikiran optimis yang tidak berdasar. Beberapa realistis, beberapa tidak, sebagian ngawur.
Kegalauan yang pertamanya tentang beasiswa ini menjalar ke mana2, tak terhindarkan. Sebelah diriku berkata, "Easy, dear, take your time." tapi sebelah lagi menyahut ketus, "Bitch, please. You took too many times you just wasted it.". Lalu mereka bertengkar dan capek sendiri, sama sekali tidak menghasilkan apa2.

Pada tahap ini, aku menyimpulkan bahwa yang terpenting adalah pertimbangan dan prioritas.
Menelusuri kemungkinan2 dan mencari pilihan. Melihat keadaan dan mempertimbangkan. Lalu memprioritaskan. Ketika terhenti atau terpaksa berhenti, mungkin memang perlu mundur sesekali. Apabila dengan mendorong tidak berhasil, mungkin perlu mencoba untuk menariknya mundur.

Bingung?
Aku antara iya dan tidak. Semoga kalian tidak bingung.
Bingung juga terserah. Mungkin aku cuma sedang mengigau.


Satu hal yang pasti, sekarang sudah malam.
Aku perlu tidur karena besok ada ujian.


Good night and sweet dream.
=)    
 

November 28, 2011

Apakah di Surga Ada Kucing?

Kira2 hampir dua minggu yang lalu, tepatnya hari selasa malam, kucingku tiba2 menghilang.


Dia luar biasa lucu--dengan bulu putih bertotol coklat di tempat2 yang sangat random. Matanya sebelah warna kuning, sebelah warna biru. Ekornya pendek dan membuntal di ujungnya. Ia berbeda dengan kucing2 lain yang pernah kupelihara sebelumnya, yang sebagian besar bulunya berwarna abu2 belang putih. Namun sama seperti kucing2 lain sebelumnya, ia kuberi nama layaknya pemain sepak bola dunia yang sedang kugemari. Ya, kucing spesial ini kuberi nama Ozil.


Bersama dengan keistimewaan dari matanya yang berbeda warna, dalam dirinya ada keistimewaan lain. Ia sangat hiperaktif--berlari kesana-kemari, menerkam dan menggigit semua benda yang bisa dilihatnya, memanjat gorden, mengacak jajaran sepatu dalam rak, menyakar2 kulit sofa, dan semua hal yang biasa dilakukan anak kucing, ia melakukannya dua kali lipat. Ia juga cepat belajar. Aku mengajarinya untuk buang air di toilet hanya dua kali, dan ia sudah bisa melakukan sendiri selanjutnya.


Ia tidak pernah merepotkan. Kecuali sekali kejadian ketika ia buang air di ranselku (dan membuat buku latihan soal N2 dan kamusku nggak bisa dipakai lagi - -), ia tidak pernah benar2 membuatku kesal atau repot dengan perilakunya.


Ia suka mengeong di depan pintu kamarku, minta diijinkan masuk. Kalau aku sedang belajar atau internetan (most of the time sih internetan =B), dia suka tidur berbantalkan adaptor laptopku, atau dengan sedikit berisik dan memaksakan diri, masuk di antara celah2 buku dalam rak dan tidur di balik buku2 itu. Di kamar adikku, ia suka tidur di atas stabilizer (ya, entah kenapa dia suka tidur di dekat alat2 listrik dikelilingi kabel - -). Kalau tidak sedang tidur, ia sangat senang bermain dengan boneka sapi kecil pemberian seorang kawan di hari ulang tahunku dua tahun lalu. Boneka sapi itu seperti lawan gulat saja dibuatnya, padahal tentu saja boneka itu tidak melawan. Seandainya ini adalah kisah Toys Story, sapi kecil itu pasti sudah balas dendam karena Ozil tidak hanya membanting2nya kesana-kemari, tapi juga menggigiti dan menyakarinya (untuk kawanku yang dulu ngasih boneka itu, maaf ya~ hehe =P).


Ia lucu sekali ketika sedang bermain, sama lucunya dengan ketika dia tidur, makan, atau apapun. Ia lucu, sangat lucu.
Terlalu lucu dan menyenangkan untuk hilang.


Selasa minggu lalu, saat aku berangkat ke kampus pagi hari, ia masih ada. Seperti yang selalu kulakukan, aku memastikan agar dia ada di dalam rumah sebelum aku menutup pintu rumah. Aku melakukan ini karena aku tahu ada kucing2 preman di luar sana yang selalu sewot dengan kedatangan kucing baru di wilayahnya. Aku tidak pernah berhasil punya kucing dalam jangka waktu yang lama, salah satu dan sebagian besar alasannya adalah karena hal ini. Persaingan kucing di daerahku terlalu ketat--benar2 sebuah hutan rimba dengan segala hukumnya di luar sana--sekali kucingmu hilang dari pengawasan, ia mungkin sudah entah di mana, berlari dan sembunyi dari kejaran kucing2 preman sok penguasa itu.
Jadi hari itu, belajar dari pengalaman, aku memastikan ia ada di dalam rumah, lalu menutup pintu.


Tapi ketika aku pulang malam harinya, ia sudah tidak ada.


Tentu saja aku tak bisa memastikan agar pintu rumahku selalu tertutup. Ada nenek dan tanteku juga di situ, dan kemungkinan besar Ozil ikut keluar ketika mereka membuka pintu, dan--tidak seperti aku dan ibuku--nenek dan tanteku ini mungkin tidak memanggilnya lagi untuk masuk ke rumah sebelum menutup pintu, dan jadilah dia di luar sana, entah apa yang terjadi.


Aku membuat status FB tentang ini, dan beberapa orang berkomentar bahwa kucing hilang itu biasa, paling2 tiga hari atau seminggu kemudian dia bakal pulang. No, that's never happen here. Once your cat lost, it won't come back to your house, no matter how much you're waiting. Welcome to the jungle.


Malam itu, tanpa peduli besoknya ada tes monkasho--semacam tes perebutan beasiswa ke jepang dari departemen pendidikan jepang--aku mencarinya. Aku mencarinya sampai ke hutan jati, sawah, rumah tetangga, tempat sampah bersama, dan semua tempat yang mungkin didatanginya untuk bersembunyi. Seperti orang stress, aku memanggil2nya dalam kegelapan, sendirian.
Nihil. Aku pulang tanpa hasil. Lalu aku menangis.


Malam itu aku terjaga smapai dini hari, membuka semua pintu yang menempel di dinding rumahku, membuka jendela kamarku, memasang telinga tajam2, berharap dan berdoa sepenuh hati, agar suatu waktu di malam itu ada suara keongannya di kejauhan, meminta pertolongan.
Tetap saja tak ada. Setelah beberapa kali tertipu dengan suara kucing lain, aku pun tertidur. Tapi sejak saat itu aku terus berdoa agar ia bisa kembali.


Aku terus meminta kepada Tuhan dalam setiap doaku setelah sholat, hingga suatu malam beberapa hari yang lalu aku menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan.


Malam itu aku sedang naik motor pulang dari membeli titipan ibu. Ketika sudah dekat rumah, sekelebat kulihat warna putih anak kucing tergeletak dekat ban motorku melintas. Tidak aku tidak menabraknya, tapi aku melewatinya begitu saja. Namun setelah aku berjalan lagi barang tiga atau lima meter, kenyataan itu menyambarku bagai petir--anak kucing berwarna putih.


Tiba2 pandanganku gelap. Aku menghentikan motorku. Sekelilingku sepi, hanya jejeran pohon bambu di sebelah kanan dan tanah kosong di sebelah kiri, tidak ada lampu.
Sepersekian detik pikiran2 berkecamuk, sebelum akhirnya kuberanikan diri memutar balik motorku untuk memastikan. Tidak, bukan suasana sepi nan angker tanpa cahaya itu yang kutakuti, sama sekali bukan. Aku takut akan kemungkinan yang menantiku bila aku memutuskan untuk sekali lagi melihat kelebatan tadi. Takut sekali. Tapi kubulatkan keberanian.


Dengan samar2 cahaya lampu hanya dari motorku, aku melihatnya. Seekor anak kucing berwarna putih, tubuhnya kurus kering, tergeletak--mati.


Angin serasa menampar keras wajahku seiring kutelusuri tubuh tak bergeming itu dengan mataku. Bulunya putih. Besarnya mungkin sama dengan Ozil. Bahkan totol coklat yang random itu terasa familiar. Dan ekornya? Tidak, aku tidak bisa melihat ekornya dengan jelas. Tubuhnya menutupi sebagian ekornya. Apakah itu artinya ekornya panjang, dan bukan membuntal seperti ekor Ozil?


Kemudian dengan sangat mengejutkan berbagai penolakan menyerbu seluruh indraku, menguasai penglihatanku.
Hei, Ozil sudah sedikit lebih besar daripada ini ketika dia hilang!
Hei, totol coklatnya bukan di situ!
Hei, dia tidak mungkin jalan sampai ke sini! Kalaupun iya, seharusnya dia sudah melihatmu mondar-mandir dari kemarin2!
And come on, that tail?? it's definitely not him! pffft


Napasku mulai memburu. Apakah itu dia? Atau bukan?
Sebenarnya ada satu cara untuk memastikan: melihat ekornya dengan jelas. 
Saat itu malam dan satu2nya cahaya berasal dari lampu motorku, jadi aku tak bisa melihat ekornya dengan jelas, namun kelihatannya ekornya cukup panjang untuk tertutupi sebagian oleh tubuhnya. Entahlah. Aku tidak yakin, dan aku sangat takut untuk meyakinkan diri.


Akhirnya dengan napas tercekat aku berbalik dan pulang. 


Kutinggalkan begitu saja mayat itu, bahkan tanpa menguburnya. Aku takut apabila aku menguburnya, maka aku harus mengangkatnya, dan mungkin akan menemukan kenyataan yang sangat tidak menyenangkan. Ketakutan itu merambati kulitku dengan sangat mengerikan. 
Takut. 
Takut sekali.


Aku sampai di rumah dalam keadaan gamang dan masih tercekat. Tanpa ba-bi-bu aku langsung masuk kamar, lalu membenamkan mukaku ke bantal. 
Dan pemandangan yang baru saja kulihat tadi terus terulang dalam benakku, berulang-ulang, antara jelas dan kabur, kadang hitam-putih--mempermainkan memori dan emosi.


Tanpa bisa dicegah, ketakutan pun menjelma menjadi kesedihan. 
Besar, menerjang dengan cepat--seperti tsunami. Menangis pun tak dapat kuhindari. Kukeluarkan saja, toh itu memang membuatku merasa jauh lebih baik.


Mungkin tidak masuk di akal kalian betapa aku sampai seperti ini hanya karena seekor anak kucing. Aku sendiri terkejut, aku sudah pernah memelihara kucing beberapa kali--semuanya tidak berhasil dengan baik. Kecuali mungkin satu, yang berhasil kuurus sampai besar sebelum akhirnya minggat karena kemauannya sendiri (bagaimana aku tahu itu, katamu? percayalah, aku tahu). Tapi selain itu semuanya gagal. Hilang sebelum dewasa. I'm suck. 


Ozil adalah kucing pertama yang kupelihara setelah beberapa tahun aku tidak memelihara kucing. Ketika temanku menawarkan kucing ini, aku membutuhkan banyak pertimbangan dan keberanian untuk memutuskan.
Aku ingin memelihara kucing. Kali ini saja, aku ingin berhasil membesarkannya dengan baik. Aku akan membawanya ke dokter kalau ia sakit. Aku akan memberinya makan banyak minimal tiga kali sehari. Aku akan membiarkannya tidur di dalam rumah, setelah aku mengajarinya agar buang air di toilet. Aku tidak akan melepaskan pengawasan ketika ia bermain di luar.
Dan aku benar2 sudah melakukan semua itu. This one is so special.


Karena itulah ketika ia hilang, apalagi ketika aku melihat mayat kucing itu--yang, sekali lagi, mungkin juga bukan dia--rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Beberapa jam sebelumnya aku masih mendengar suara eongannya, lalu tiba2 hilang. Ini bukan hanya soal kucing. Mungkin ada ribuan kucing di seluruh dunia yang mati setiap harinya. Jangankan kucing, manusia pun begitu. 
Ini soal betapa sesuatu yang sangat kusayangi hilang. Dan lagi--dengan faktor utama bahwa aku luar biasa menyukai kucing, lebih daripada tas mahal bermerk yang bisa kudapatkan gratisan atau sepatu super kece yang kutemukan di jalan, atau voucher gratis slushie dan kalimilk selama setahun penuh--rasa kehilangan itu jadi berkali lipat. 
  
Jadi aku tak peduli kalau mungkin kau beranggapan aku lebay sekali dalam hal ini, tapi begitulah. Cerita di atas itu benar adanya, bukan dramatisasi.


Lagi-lagi aku gagal. Sangat gagal.
Mungkin sementara ini aku tidak akan memelihara kucing. 


Seandainya bisa, aku ingin memberi makan semua kucing liar di seluruh dunia dan memberi mereka tempat hidup yang layak, lalu mengajari mereka untuk hidup damai. But, hey, look at us, human. We can't even afford it to our own kind. 


So i can't help but wonder if there any cat in heaven.




Wahai Tuhan, apakah di surga ada kucing?







-good night and sweet dream-

Juni 30, 2011

When Your Mind's Made Up

Hello, there..
Akhirnya besok aku KKN! 
bener2 nggak kerasa, kukira aku masih bisa santai dan maen2 eh ternyata udah harus KKN..oh, FYI, aku KKN di Bima, NTB.
aku hafal reaksi orang2 setiap kali mendengar pernyataan tersebut:
1. Hah?? NTB?? ya oloh jauh bangeeeeeeet~~~
lalu aku harus menjelaskan bahwa aku ikut KKN tematik, dimana KKN tematik itu artinya kita bisa milih sendiri mau kemana, dan bahkan penjelasan ini mengundang pertanyaan lain
2. Kenapa NTB?? jauh bangeeeeeeeeet~~~
- - ya ini baru mau dijawab udah ditanyain lagi..lalu aku harus menjelaskan bahwa aku tadinya mau KKN reguler (artinya pasrah mau ditempatkan di mana) tapi kalopun ada tawaran tematik, aku maunya sekalian yang jauh. pernyataan itu pun masih mengundang pertanyaan lain
3. Naek apa kesananya?
naek bus.
4. Wow. berapa hari tuh?
tiga hari dua malem
5. Hah lama bangeeeeeeet~~~
= = iya, aku tau. ngapain kamu ngasih tau lagi (tentu saja aku gak bilang gitu). nggak apa2, kan rame2..lagian emang pada mau naek bus.

Aku tau pada awalnya beberapa orang bertanya hanya sekadar untuk basa-basi ketika kami berpapasan di suatu tempat atau tanpa sengaja berpartisipasi dalam satu kegiatan yang sama, tapi semua pertanyaan lanjutan yang mereka nyatakan selalu sama dengan 5 poin yang kutulis di atas, dan tak urung lama2 jadi bosan dan agak annoyed juga ="=  
Tapi aku nggak menyalahkan orang2 yang tanya kok, shoganai ne (apa boleh buat). Namanya juga sebuah interaksi sosial, kau seringkali menemukan pola yang sama dalam setiap pembicaraan. 

It's not over yet. Here's the final question (or maybe statement?):
6. Berapa orang timnya? Ati2 lho, NTAR CINLOK *muka dan nada ngegodain, nggak nyadar kalo sininya mulai sebel*

see? see?
bahkan pertanyaan (ato pernyataan) nomor 6 itu juga seringkali merupakan final question sebelum akhirnya kami berpisah jalan atau melanjutkan dengan topik yang laen, yaitu cinlok. 
aww c'mon..aku sampe bosen ngebahasnya. - -

akibat rentetan pertanyaan yang seragam antara orang satu dengan lainnya itu, aku jadi sedikit lebih berhati2 saat menanyakan hal yang sama, misalnya tiba2 aku ketemu dengan orang yang KKN di Papua (dan memang ada) mungkin aku nggak akan memburunya dengan pertanyaan2 klise yang berulang2 setiap hari. Daripada banyak bertanya, mungkin lebih bagus memberikan apresiasi. Misalnya begini:

aku: .....betewe, besok KKN di mana?
sample A: Hehe, Jauh nih (apabila dia lebih dulu mengatakan ini, ada indikasi dia mungkin dah sering dibilang "jauh bangyeeett~~" sama orang2 laen) di Papua
aku: wah, hebat ya..*terkagum2*
sample A: ah, nggak juga..*garuk2 belakang kepala*
aku: ya hebat dong! kamu kan KKN di tempat yang iklimnya dan budanyanya dan bahasanya dan semua2nya beda banget! Berani banget lah, sumpah
sample A: *malu2 senang* haha..ya gitu deh..

Nah, kalo gitu kan dia senang, kita senang, semua senang!
yah, nggak penting juga sih..haha..aku cuma bingung aja nih mau nulis apa..

Eniwei, besok aku berangkat KKN ke Bima naek bus. Perjalanan 3 hari 2 malam, nyeberang laut mungkin 3 kali (ato jangan2 4). Dan seperti orang yang mau menikah (kayak pernah nikah aja =P), second toughts-- keraguan yang berujung pada pemikiran akan adanya opsi lain--selalu muncul di saat2 terakhir sebelum keberangkatan. 
"repot banget nih, nyiapin barang2nya..coba dulu kkn reguler aja..=( "
"aaah malasnya nyiapin program..tau gitu milih tempat yang deket2 aja...=( "
and so on and so on.

Keraguan2 semacam itu sangat wajar untuk muncul..malah, in my case, selalu muncul di detik2 sebelum pelaksanaan hal2 besar. Misalnya, dulu aku mengisi psikologi sebagai pilihan pertama formulir ujian masuk UGM. Sastra Jepang--tempatku berguru saat ini--kutulis sebagai pilihan kedua.
Nah, ajaibnya, setelah sholat isya' di malam penentuan (jam 12 malamnya dah bisa tahu aku keterima di mana --ato gak keterima sama sekali), tiba2 aku jadi sangaaaaaat ingin keterima di sastra jepang. Aku malah jadi takut dan penuh dengan keraguan. duuh gimana kalo keterimanya di Psikologi (gaya banget - -). Lalu aku berdoa agar diberi yang terbaik. Meskipun aku setengah mati pengen masuk sastra jepang juga, kalo Tuhan berkehendak lain, aku percaya itulah yang terbaik untukku. 

Eh, pas jam 12 tepat aku sms, ternyata beneran masuk sastra jepang. 
Alhamdulillah puji Tuhan. Memang kekuatan yang luar biasa, yang tidak ada tandingannya.

Nggak cuma sekali itu, sebenarnya kalo aku lebih peka, banyak kejadian semacam itu, dimana ketika kita telah memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang, di satu titik yang sangat krusial tiba2 kita menyesal dan ingin mengubahnya, berharap dengan sangat seandainya kita bisa memutar ulang waktu. Tapi itu tidak masuk akal dan sia-sia. Bagaimanapun, keputusan sudah diambil. When your mind's made up, there's no point try to change it. 
Saat keraguan2 itu datang, pikirkanlah, bahwa keputusan itu adalah keputusan kita sendiri. Tidak ada yang perlu disesali ato diragukan. Bulatkan niat. Pertebal tekad. Kuatkan hati. Perbanyak doa.
Sisanya adalah percaya. Kepada diri kita sendiri, kepada Tuhan. 

Insya Allah, dengan kuasa Tuhan, segalanya akan baik2 saja. Kalaupun bertemu dengan kesulitan, pasti ada jalan. Insya Allah. Allahuakbar.

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Dengan niat yang tulus, hamba dan teman2 menjalankan misi ini ya Allah. Dengan kuasa-Mu, kami memohon segala yang terbaik bagi kami; kelancaran selama perjalanan dan jalan keluar dalam menyelesaikan segala kesulitan. Kami mohon bimbingan-Mu, ya Allah, sekarang dan sampai kapanpun. Hanya pada-Mu kami berdoa dan hanya pada-Mu kami memohon pertolongan. 
Rabbana atina fiddunya khasanah, wa fil akhiroti khasanah waqina azabannar..
amin yaa rabbal 'aalamiin.


see you when i see you. =]

good night 'n sweet dream.  

Mei 01, 2011

Come on, I can do it!

Mayday! mayday!

something wrong with me...
i've lost my spirit, power, and motivation since 3 weeks ago and i don't know how to gain it back!

this is not good, since i have sooo many tasks to be finished this semester, including that fake thesis for 'seminar skripsi' subject and weekly tests. not to mention the coming soon final test. o my god.

i need to fix it. i have to. i must.

God, please help me.  

September 10, 2010

Semoga bukan sekedar introspeksi

Selamat idul fitri, semuanya!!

hari ini spesial, tentu saja. Setelah 30 hari berpuasa, semua umat muslim--bahkan mungkin yg bukan muslim--merayakan hari kemenangan. Shalat ied, berkumpul bersama keluarga, maaf2an, makan2, dan bagi2 THR telah menjadi sebuah rutinitas lebaran.
Aku pun merasakan semua itu pada lebaran kali ini.

Tapi aku merasa ada yang kurang, sangat kurang.
Aku sangat menyadari ramadhan kali ini lewat begitu saja tanpa banyak hal positif yang kulakukan.
Aku menjalankan ibadah puasa, tentu saja. Dan shalat lima waktu, tentu saja--apabila tak ada yang terlewat.
Tapi aku tidak menyentuh kitabku.
Aku tidak mengusahakan agar selalu shalat tarawih setiap malam.
Aku seringkali melupakan dzikirku, doa2 sesudah shalatku.

Aku berpuasa, tetapi aku kosong.

Aku bersemangat mencari makan untuk berbuka.
Aku begitu bernafsu melihat-lihat baju baru.
Aku menanti-nanti lebaran dengan segala kemewahan sajian dan THR yang mungkin akan kudapat.

Aku merayakan, tapi aku tak tahu apa sebenarnya yang kurayakan.

Puasa sebulan penuh? tidak mungkin, karena aku wanita.
Tarawih rajin? hah, aku hanya memutar bola mataku.
Apa? apa yang sebenarnya kurayakan?

Aku tahu, bagiku--dan bagi kebanyakan orang lain, mungkin--esensi dari bulan ramadhan entah bagaimana telah bergeser.
Dulu saat aku masih SD aku selalu tarawih ke masjid, setiap malam. Mengaji pun tak pernah terlewatkan. Dengan begitu, saat lebaran aku benar2 merayakan.
Merayakan keberhasilanku dalam beribadah.

Tapi semakin lama rasanya aku semakin melupakan keindahan bulan ramadhan itu. Aku mulai mementingkan hal2 lain, seperti acara TV yang ingin kutonton, atau novel yang ingin kubaca, atau pergi ke tempat2 nongkrong bersama teman2, atau malah shopping.
Aku melupakan tujuan utama di bulan ramadhan: banyak2 beribadah.
Menyedihkan.

Pernahkan terpikir olehmu bahwa ini mungkin saja ini ramadhan terakhirmu?
Mungkin saja tahun depan kau tak bisa lagi merasakan keindahan dan kesucian bulan itu?

Mengerikan sekali.
Kalau memikirkan itu, aku jadi sangat menyesal.
Semoga Allah masih memberi kita semua waktu untuk memperbaiki segalanya.
Amin.



-pesam noral-
mudah saja, jangan melakukan kelalaian2 seperti yang telah kulakukan di atas.


good night 'n sweet dream.

Mei 02, 2010

Ano Hito no Koto

Hello there,,

apa kabar kalian?

kabarku? yah, aku memikirkan banyak hal belakangan ini...beberapa hal merisaukan yang terjadi di sekitarku. dan sekarang aku sedang sangat sedih mengingat salah satunya.
aku ingin bercerita, tapi aku sangat tidak suka dan tidak nyaman dengan sesuatu yang biasa kita sebut "curhat" secara langsung. alasannya? mungkin akan kuceritakan kapan2.
yang jelas aku lebih suka menuangkannya lewat tulisan (ketikan, lebih tepatnya).
karena itu aku akan menulisnya sekarang.

oh, mungkin tulisan kali ini sedikit abstrak dan geje dan tidak transparan. maafkan aku, aku tidak bisa mengekspos semuanya.


-Ano hito no koto- (kata di samping adalah bahasa jepang. bila anda tidak tahu, silakan cari di kamus)

nggak usah ditanya siapa ano hito, pokoknya ada seseorang yang suka berpikir terlalu jauh, unpredictable, neko2, mudah parno dan mudah salah paham.
dan yang menyebabkannya jadi seperti itu adalah beberapa kejadian di masa lalu yang tak terhindarkan, jadi aku tak bisa menyalahkannya yang jadi bersifat begitu

menyebalkan. sungguh mengesalkan.
dan aku sangat menyesal karena harus jadi seperti ini.
aku menyesal karena harus jadi seperti ini.
aku menyesal karena kejadian itu menimpanya
aku menyesal karena beberapa orang yang (padahal) tahu tidak memedulikannya
aku menyesal karena mereka yang membuatnya jadi seperti itu tidak mau bertanggung jawab
aku menyesal karena tidak berbuat apa-apa
dan aku menyesal karena sekarang pun aku tak tahu harus berbuat apa.

beberapa hari yang lalu (lagi2) aku terlibat masalah dengannya. kami bertengkar dan aku menangis hebat. hebat sekali sampai mataku kayak kertas digunting jadi dua. padahal waktu itu besoknya aku harus menghadapi tes hyouki alias ujian dari dosen sakti tentang gulungan perkamen keramat yang dulu pernah aku ceritakan itu.
hell. taihen datta.
tengah malam itu setengah mati aku belajar sambil ngompres mata biar paginya kelihatan normal lagi. dan untungnya berhasil.

kembali ke masalah ano hito tadi.
kami beberapa kali bertengkar, kadang karena alasan yang tidak jelas karena, seperti yang kubilang tadi, ia suka parno sendiri yang berujung salah paham dalam menginterpretasikan tindakan atau ucapanku. padahal aku tidak memiliki maksud apapun, tapi dikira memiliki maksud jelek. betapa ia menyudutkanku sedemikian rupa padahal aku berusaha setengah mati berhati-hati menjaga kata-kata dan sikapku agar tidak menyulut kesalahpahaman.
mungkin dulu ia pun mendapat perlakuan seperti itu, dan kini tanpa sadar ia melakukan hal yang sama padaku.

aku ingin sekali menolongnya, tapi apa kuasaku?
seandainya aku punya alat-pembalik-waktu aku akan dengan senang hati menggunakannya dan mengajaknya kembali ke masa lalu, dimana--sebelum dihancurkan dengan sadis oleh seseorang dan orang lainnya--semua masih baik-baik saja.
aku ingin kembali ke masa lalu dan menolongnya.

sayangnya alat seperti itu tidak ada.
kita tidak bisa menyalahkan masa lalu. sekaranglah aku harus menolongnya.

tapi sepertinya ia menolak pertolonganku.
dan pertolongan orang2 lain yang ikhlas ingin menolong.

oh, god..
aku ingin menolongnya, sungguh.
aku ingin mengeluarkannya dari penjara itu.

semoga suatu saat nanti ia mau membuka hati dan pikirannya.
dan melupakan masa lalunya.

amin.


note: anggap saja ini racauan ngaco dariku, tidak usah dipikirkan. orang yang kubicarakan diatas bukan salah satu dari kalian (mungkin).



good night 'n sweet dream.

Maret 21, 2010

Time is Chances

Hello there,,

hisashiburi desu ne~
hari ini aku menemukan sebuah kenyataan pahit, bahwa ternyata aku tidak (belum) bisa membagi waktu dengan baik.

hal itu adalah kesimpulan dari penelitian bertahun-tahun proyek dari-sarah-untuk-sarah-tentang-sarah yang dilakukan dengan metode observasi lapangan. Hasilnya positif sarah memang tidak (belum) bisa membagi waktu dengan baik, yang berujung pada ketidakprofesionalannya dalam mengerjakan segala sesuatu.

misalnya,
di saat aku hendak mengerjakan tugas, eh tanpa kusadari aku malah baca komik
di saat aku hendak belajar wayangan untuk ujian keesokan harinya, eh tanpa kusadari aku malah ngelamun
di saat aku hendak membersihkan kamar, eh tanpa kusadari aku malah internetan
di saat aku hendak mengetik makalah, eh tanpa kusadari aku malah nonton idola cilik
di saat aku hendak makan, eh.....ya aku makan =______=

hmmmmmm...
ketidakmampuan saya membagi waktu disebabkan oleh penyakit kemalasan stadium 3 yang harus segera ditindaklanjuti sebelum menjadi semakin parah dan segalanya akan terlambat.

Sebulan ini aku mencoba meniru metode beberapa teman yang menulis hal2 yang harus--atau perlu--mereka kerjakan dalam satu minggu ke depan. Yah, semacam to do list yang ada di hape lah.
Dan ternyata hasilnya lumayan. LUMAYAN lho, belum benar2 berhasil. Kadang aku sendiri masih males nulis apa2 yang musti dikerjakan...dan pas hari H-nya kaget sendiri ternyata aku belum melakukan sesuatu yang seharusnya bisa kulakukan kemarin2..

yah, memang aku tidak (belum) bisa membagi waktu dengan benar-benar baik, dan belum bisa menghilangkan penyakit kemalasan akut yang sudah kuderita bertahun2 itu, yang (sepertinya) sudah membuatku melewatkan banyak kesempatan penting selama 20 tahun hidupku.

Nah, berhubung sekarang saya sudah sadar, saya akan berusaha.
Doakan saya ya!

Bismillah!!

Maret 10, 2010

Introspeksi

I'm sorry for not being a good friend














good night 'n sweet dream.