Halo semua.
Apa yang biasa kau lakukan untuk memperlihatkan rasa sayangmu pada orang lain?
Aku percaya ada banyak sekali cara. Tidak hanya memberi bunga atau menyatakannya secara langsung. Sedikit bantuan2 kecil terhadap orang terdekat yang kesusahan, menenangkan seseorang sambil membuatkan susu hangat, belaian singkat di kepalanya.
Belakangan ini aku punya lumayan banyak waktu luang, yang kugunakan untuk menonton beberapa serial televisi Amerika--yang kutonton di laptop, bukan lewat TV kabel. Menonton serial2 tersebut, membuatku menyadari bahwa para tokoh di dalamnya sangat touchy-feely satu sama lain, terutama dalam keluarga. Mereka seringkali mengekspresikan rasa sayang, simpati, dukungan, dll menggunakan sentuhan tubuh. Mengacak rambut, membelai kepala, menepuk punggung, memegang bahu, menyandarkan kepala, melingkarkan tangan di bahu, berpelukan.
Mereka mudah sekali berpelukan.
Sekarang, kalau kubandingkan dengan film2 Jepang, jarang sekali ada sentuhan2 seperti itu. Umumnya hanya saling membungkukkan badan. Bersalaman, biasa, namun kontak badan yang lebih daripada itu sepertinya membutuhkan waktu perkenalan yang lebih lama. Dalam keluarga pun, mereka sepertinya tidak mudah untuk saling berpelukan. Mungkin bukan budayanya. Atau mungkin aku cuma sotoy menyimpulkan semua ini setelah menonton segelintir film.
Lalu aku memikirkan perihal skinship ini dalam kehidupanku sendiri.
Semua orang dalam keluargaku sama sekali tidak touchy-feely. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali memeluk ibuku, mungkin ketika aku masih bayi. Kontak badan yang kulakukan dengan orang tuaku hanya sebatas mencium tangan mereka sebelum pergi ke luar rumah. Dengan adikku? Well, mungkin kami cukup touchy dalam hal yang lain, seperti saling menendang, memukul, bergulat.
Jujur saja ketika melihat ekspresi2 kontak badan antara ibu, ayah, dan anak dalam film2 yang kutonton kemarin, aku merasa iri. Aku ingin melakukannya, namun sama sekali tak terbiasa. Kami adalah produk yang kaku, canggung. Kami menjaga jarak bahkan di antara keluarga sendiri.
Ketika bersentuhan dengan orang yang dekat dengan kita, ada perasaan nyaman yang tersampaikan lewat panas badan mereka yang bersinggungan dengan panas badan kita. Terutama ketika memeluk, kita sedang merengkuh tubuh lain, jiwa lain, ke dalam bentangan tangan kita. Apabila orang itu adalah orang yang kita sayangi, pasti rasanya luar biasa. Seperti menjadi satu dengannya, menyampaikan segala rasa yang mungkin tak tersampaikan hanya dengan kata.
Beberapa temanku suka sekali memeluk. Mungkin bagi mereka sentuhan itu sudah tidak menjadi spesial lagi, sekadar ekspresi sayang yang biasa ia lakukan. Sementara bagi orang kaku sepertiku, fenomena ini masih menjadi misteri.
And i can't help but wonder if things would be different for us if we can touch and hug casually. I wonder if those actions would make us be more open with each other.
I wonder if i can hug you ever again.
Good night and sweet dreams. =)
Tampilkan postingan dengan label aku yang tak kau tahu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku yang tak kau tahu. Tampilkan semua postingan
Januari 13, 2013
Juli 29, 2012
Tolong, Tuhan
Tolong, Tuhan.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
apa yang telah hilang di antara mereka.
yang telah hilang di antara mereka.
di antara mereka.
mereka.
Karena hal yang hilang itu telah berada jauh, jauh, jauh di luar jangkauan tangan kecilku
yang telah berusaha menggapai entah sejak kapan.
Karena setiap pencarian yang coba kulakukan telah dimentahkan, terus, terus, lagi, lagi, oleh hambatan yang sama. Kendala busuk kembar.
Karena garis kesabaran manusiaku yang sepala-pala upaya kulebarkan hingga tepi, tanpa daya meregang, meregang, meregang, hingga putus dan dua ujungnya menampar-nampar liar dinding kemunafikan yang telah kubangun untuk mempertahankan diri.
Karena aku hanya manusia, yang seluruh partikel tubuhnya sedang memanjatkan doa kepada-Mu, Maha Pemilik Segalanya.
Maka, Tuhan.
Tolong kembalikan apa yang telah hilang di antara mereka.
Namun apabila memang kehendakmu untuk tidak mengembalikannya, tolong beri akhir saja.
Beri akhir saja.
Juni 17, 2012
Berkicau Sebanyak Apapun, Sepertinya Kau Tidak Bisa Mendengarku
Sesuatu menggelayuti dadaku.
Berat dan sakit.
Aku mengenang kepada waktu ketika semua tak jadi seperti ini. Ketika hubungan dua manusia masih begitu suci dan penuh ketulusan, tak bersyarat dan tak menuntut. Ketika apa yang ia perdengarkan adalah sebuah wahyu indah hanya untukmu. Ketika apa yang ia perlihatkan adalah sebuah karya seni terelok yang hanya kau yang bisa nikmati. Ketika semua yang terjalin berdasarkan keikhlasan, bukan keharusan, seperti yang kulihat sekarang ini.
Waktu tidaklah kejam, ia hanya selalu berjalan. Ia bak anak kecil, polos dan tidak peduli. Namun ia tahu apa yang harus ia lakukan; berjalan tanpa bernah berhenti. Tak usah lah kau salahkan ia.
Takdir pun tidaklah kejam. Ia hanya sebuah skenario yang tak menyenangkan dan tak terhindarkan, namun memang itulah tugas yang diembannya. Aku mempercayai Sang Sutradara, bahwa sesungguhnya Ia jauh lebih mengetahui segala sesuatu daripada kita para aktornya. Tak usah lah kau salahkan ia.
Aku tahu bahwa kau maupun dia selalu mencari pertanggungjawaban kepada siapa yang bersalah. Manusiawi. Aku sendiri sungguh tak tahu. Pusing kepalaku hanya memikirkan di mana letak kesalahannya sehingga waktu dan takdir terlihat begitu jahat. Terbuang semua air mataku menyesali kepergian sebuah keikhlasan, yang semakin hari semakin tipis saja bak seutas benang terbagi tujuh. Mengeras sudah perasaanku seiring kuejawantahkan kewajiban-kewajiban yang kau syaratkan, kelelahan mengartikan setiap kode-kode bisu yang ia layangkan, muak dengan segala kepura-puraan yang menari-nari telanjang di atas permukaan ini.
Hei kau!
Tahukah kau betapa dangkalnya dirimu, melenggak-lenggok sombong di atas panggung mewah itu, menyandiwarakan sebuah drama yang hanya kau sendiri yang bisa nikmati? Kau seenaknya menarik dia untuk memainkan drama ini bersamamu, berharap bisa mendapatkan pengakuanku.
Bukan. Aku sama sekali tidak sedang mencari pertunjukan. Aku menantangmu untuk datang pada kenyataan ini, padaku dan padanya yang menunggumu sebanyak entah berapa juta tetes air hujan telah turun. Rasakan jalan yang harus kau lalui untuk mencapainya yang telah jatuh dan terinjak-injak, berulang kali dan berulang kali. Aku ingin melihatmu datang, terseok dan tertatih, pucat dan berlumur lumpur, sambil menggendong sekarung besar berisi keping-keping keikhlasan yang telah kau lempar ke dalam sumur kebahagiaan semu milikmu. Aku ingin kau bawa pecahan itu, lalu susun kembali di sini di depan mataku.
Sudah begitu pun, aku tak yakin kau akan mendapatkan pengakuannya.
Aku bahkan tak yakin bahwa kau menginginkannya.
Mungkin kau sudah jatuh terlalu jauh dalam sumur itu, terlena akan kecantikan palsunya, dimabukkan oleh semerbak semunya. Tak pelak kau terlalu lemah untuk mendaki ke atas, ketakutan membayangkan rasa sakit pada jemari tangan dan kakimu seiring tiap langkah yang kau ambil. Kau terlalu naif untuk menyadari betapa pengecutnya dirimu.
Kau lihat? Kepercayaanku yang telah tergerus ombak-ombak besar kebohonganmu ini hanya tinggal berupa lembaran yang terbuat dari pasir. Pun dia yang selalu menantimu dalam diam, menghaturkan doa-doa setiap hari agar kau mau kembali ke sini, ke tempat ini.
Sudah terlalu jauh, berlarut-larut. Tidakkah kau lelah? Tidakkah kau ingin pulang?
............
Aku ragu kau bisa menjawab.
Aku bahkan ragu apakah kau mengerti maksudku.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Entah ada di mana sekarang keihklasan. Entah ia utuh ataukah tercerai-berai. Entah apakah manusia sadar akan kehadirannya.
Kalau kalian masih memilikinya barang secuil saja, simpan ia bak sekotak perhiasan. Sungguh kita tidak tahu akan jadi seperti apa dunia ketika kita tak lagi memilikinya.
Berat dan sakit.
Aku mengenang kepada waktu ketika semua tak jadi seperti ini. Ketika hubungan dua manusia masih begitu suci dan penuh ketulusan, tak bersyarat dan tak menuntut. Ketika apa yang ia perdengarkan adalah sebuah wahyu indah hanya untukmu. Ketika apa yang ia perlihatkan adalah sebuah karya seni terelok yang hanya kau yang bisa nikmati. Ketika semua yang terjalin berdasarkan keikhlasan, bukan keharusan, seperti yang kulihat sekarang ini.
Waktu tidaklah kejam, ia hanya selalu berjalan. Ia bak anak kecil, polos dan tidak peduli. Namun ia tahu apa yang harus ia lakukan; berjalan tanpa bernah berhenti. Tak usah lah kau salahkan ia.
Takdir pun tidaklah kejam. Ia hanya sebuah skenario yang tak menyenangkan dan tak terhindarkan, namun memang itulah tugas yang diembannya. Aku mempercayai Sang Sutradara, bahwa sesungguhnya Ia jauh lebih mengetahui segala sesuatu daripada kita para aktornya. Tak usah lah kau salahkan ia.
Aku tahu bahwa kau maupun dia selalu mencari pertanggungjawaban kepada siapa yang bersalah. Manusiawi. Aku sendiri sungguh tak tahu. Pusing kepalaku hanya memikirkan di mana letak kesalahannya sehingga waktu dan takdir terlihat begitu jahat. Terbuang semua air mataku menyesali kepergian sebuah keikhlasan, yang semakin hari semakin tipis saja bak seutas benang terbagi tujuh. Mengeras sudah perasaanku seiring kuejawantahkan kewajiban-kewajiban yang kau syaratkan, kelelahan mengartikan setiap kode-kode bisu yang ia layangkan, muak dengan segala kepura-puraan yang menari-nari telanjang di atas permukaan ini.
Hei kau!
Tahukah kau betapa dangkalnya dirimu, melenggak-lenggok sombong di atas panggung mewah itu, menyandiwarakan sebuah drama yang hanya kau sendiri yang bisa nikmati? Kau seenaknya menarik dia untuk memainkan drama ini bersamamu, berharap bisa mendapatkan pengakuanku.
Bukan. Aku sama sekali tidak sedang mencari pertunjukan. Aku menantangmu untuk datang pada kenyataan ini, padaku dan padanya yang menunggumu sebanyak entah berapa juta tetes air hujan telah turun. Rasakan jalan yang harus kau lalui untuk mencapainya yang telah jatuh dan terinjak-injak, berulang kali dan berulang kali. Aku ingin melihatmu datang, terseok dan tertatih, pucat dan berlumur lumpur, sambil menggendong sekarung besar berisi keping-keping keikhlasan yang telah kau lempar ke dalam sumur kebahagiaan semu milikmu. Aku ingin kau bawa pecahan itu, lalu susun kembali di sini di depan mataku.
Sudah begitu pun, aku tak yakin kau akan mendapatkan pengakuannya.
Aku bahkan tak yakin bahwa kau menginginkannya.
Mungkin kau sudah jatuh terlalu jauh dalam sumur itu, terlena akan kecantikan palsunya, dimabukkan oleh semerbak semunya. Tak pelak kau terlalu lemah untuk mendaki ke atas, ketakutan membayangkan rasa sakit pada jemari tangan dan kakimu seiring tiap langkah yang kau ambil. Kau terlalu naif untuk menyadari betapa pengecutnya dirimu.
Kau lihat? Kepercayaanku yang telah tergerus ombak-ombak besar kebohonganmu ini hanya tinggal berupa lembaran yang terbuat dari pasir. Pun dia yang selalu menantimu dalam diam, menghaturkan doa-doa setiap hari agar kau mau kembali ke sini, ke tempat ini.
Sudah terlalu jauh, berlarut-larut. Tidakkah kau lelah? Tidakkah kau ingin pulang?
............
Aku ragu kau bisa menjawab.
Aku bahkan ragu apakah kau mengerti maksudku.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Entah ada di mana sekarang keihklasan. Entah ia utuh ataukah tercerai-berai. Entah apakah manusia sadar akan kehadirannya.
Kalau kalian masih memilikinya barang secuil saja, simpan ia bak sekotak perhiasan. Sungguh kita tidak tahu akan jadi seperti apa dunia ketika kita tak lagi memilikinya.
Juni 07, 2012
Seperti Kepadamu
Aku ingin jatuh cinta.
Seperti memandang kosong pada secarik kertas, kebingungan mencari jalinan kata. Setengah mati memutar otak untuk menuliskan ekspresi yang tepat. Menulis sebaris, lalu menghapusnya. Menulis lagi, tapi kembali menghapusnya. Begitu terus berulang-ulang hingga kertas itu sobek. Tapi aku akan tertawa sambil mengambil secarik kertas yang baru.
Aku ingin jatuh cinta.
Seperti tersesat di suatu tempat, kebingungan tak tahu jalan. Bergerak tak tentu arah. Sesekali bertanya, namun tak berhasil menemukan jalan keluar. Berjalan sekenanya mengikuti insting, lalu berhenti di jalan buntu. Lelah dan beristirahat. Berjalan dan bertanya, namun tetap berputar-putar di tempat yang sama. Tapi aku akan tertawa dan kembali berjalan.
Aku ingin jatuh cinta.
Seperti tidur di tengah padang ilalang, lembut menggelitik pipi dan sekujur tubuh. Kupu-kupu kecil menyeruak di antara hamparan, hinggap di atas pelupuk mata dan tak mau pergi. Matahari bertengger gagah di atas awan, menggelontorkan panas ke seluruh penjuru. Membakar kulit. Tapi aku akan tertawa dan bertahan di situ.
Aku ingin jatuh cinta.
Seperti terjun ke kedalaman laut. Sakit oleh kerasnya tamparan ombak. Sesak, tak dapat bernapas. Seluruh serabut saraf meronta-meronta meminta kebebasan. Organ-organ bergolak, berdenyut, seiring bisikan riak air di sekeliling yang tak ada hentinya. Tapi tak lama kemudian, aku tertawa dan terjun semakin dalam.
Aku ingin jatuh cinta.
Seperti serpihan kebahagiaan kecil saat menemukan anak kucing tersesat di selokan. Saat menerima ucapan ulang tahun yang terlalu cepat. Saat melantunkan lagu di teras rumah. Saat menikmati segelas kopi pahit hangat dan terjaga sepanjang malam. Bercerita dengan bulan purnama seperti orang bodoh. Tapi aku akan tertawa dan kembali bercerita.
Aku ingin jatuh cinta.
Seperti kepadamu.
Mei 02, 2010
Ano Hito no Koto
Hello there,,
apa kabar kalian?
kabarku? yah, aku memikirkan banyak hal belakangan ini...beberapa hal merisaukan yang terjadi di sekitarku. dan sekarang aku sedang sangat sedih mengingat salah satunya.
aku ingin bercerita, tapi aku sangat tidak suka dan tidak nyaman dengan sesuatu yang biasa kita sebut "curhat" secara langsung. alasannya? mungkin akan kuceritakan kapan2.
yang jelas aku lebih suka menuangkannya lewat tulisan (ketikan, lebih tepatnya).
karena itu aku akan menulisnya sekarang.
oh, mungkin tulisan kali ini sedikit abstrak dan geje dan tidak transparan. maafkan aku, aku tidak bisa mengekspos semuanya.
-Ano hito no koto- (kata di samping adalah bahasa jepang. bila anda tidak tahu, silakan cari di kamus)
nggak usah ditanya siapa ano hito, pokoknya ada seseorang yang suka berpikir terlalu jauh, unpredictable, neko2, mudah parno dan mudah salah paham.
dan yang menyebabkannya jadi seperti itu adalah beberapa kejadian di masa lalu yang tak terhindarkan, jadi aku tak bisa menyalahkannya yang jadi bersifat begitu
menyebalkan. sungguh mengesalkan.
dan aku sangat menyesal karena harus jadi seperti ini.
aku menyesal karena harus jadi seperti ini.
aku menyesal karena kejadian itu menimpanya
aku menyesal karena beberapa orang yang (padahal) tahu tidak memedulikannya
aku menyesal karena mereka yang membuatnya jadi seperti itu tidak mau bertanggung jawab
aku menyesal karena tidak berbuat apa-apa
dan aku menyesal karena sekarang pun aku tak tahu harus berbuat apa.
beberapa hari yang lalu (lagi2) aku terlibat masalah dengannya. kami bertengkar dan aku menangis hebat. hebat sekali sampai mataku kayak kertas digunting jadi dua. padahal waktu itu besoknya aku harus menghadapi tes hyouki alias ujian dari dosen sakti tentang gulungan perkamen keramat yang dulu pernah aku ceritakan itu.
hell. taihen datta.
tengah malam itu setengah mati aku belajar sambil ngompres mata biar paginya kelihatan normal lagi. dan untungnya berhasil.
kembali ke masalah ano hito tadi.
kami beberapa kali bertengkar, kadang karena alasan yang tidak jelas karena, seperti yang kubilang tadi, ia suka parno sendiri yang berujung salah paham dalam menginterpretasikan tindakan atau ucapanku. padahal aku tidak memiliki maksud apapun, tapi dikira memiliki maksud jelek. betapa ia menyudutkanku sedemikian rupa padahal aku berusaha setengah mati berhati-hati menjaga kata-kata dan sikapku agar tidak menyulut kesalahpahaman.
mungkin dulu ia pun mendapat perlakuan seperti itu, dan kini tanpa sadar ia melakukan hal yang sama padaku.
aku ingin sekali menolongnya, tapi apa kuasaku?
seandainya aku punya alat-pembalik-waktu aku akan dengan senang hati menggunakannya dan mengajaknya kembali ke masa lalu, dimana--sebelum dihancurkan dengan sadis oleh seseorang dan orang lainnya--semua masih baik-baik saja.
aku ingin kembali ke masa lalu dan menolongnya.
sayangnya alat seperti itu tidak ada.
kita tidak bisa menyalahkan masa lalu. sekaranglah aku harus menolongnya.
tapi sepertinya ia menolak pertolonganku.
dan pertolongan orang2 lain yang ikhlas ingin menolong.
oh, god..
aku ingin menolongnya, sungguh.
aku ingin mengeluarkannya dari penjara itu.
semoga suatu saat nanti ia mau membuka hati dan pikirannya.
dan melupakan masa lalunya.
amin.
note: anggap saja ini racauan ngaco dariku, tidak usah dipikirkan. orang yang kubicarakan diatas bukan salah satu dari kalian (mungkin).
good night 'n sweet dream.
apa kabar kalian?
kabarku? yah, aku memikirkan banyak hal belakangan ini...beberapa hal merisaukan yang terjadi di sekitarku. dan sekarang aku sedang sangat sedih mengingat salah satunya.
aku ingin bercerita, tapi aku sangat tidak suka dan tidak nyaman dengan sesuatu yang biasa kita sebut "curhat" secara langsung. alasannya? mungkin akan kuceritakan kapan2.
yang jelas aku lebih suka menuangkannya lewat tulisan (ketikan, lebih tepatnya).
karena itu aku akan menulisnya sekarang.
oh, mungkin tulisan kali ini sedikit abstrak dan geje dan tidak transparan. maafkan aku, aku tidak bisa mengekspos semuanya.
-Ano hito no koto- (kata di samping adalah bahasa jepang. bila anda tidak tahu, silakan cari di kamus)
nggak usah ditanya siapa ano hito, pokoknya ada seseorang yang suka berpikir terlalu jauh, unpredictable, neko2, mudah parno dan mudah salah paham.
dan yang menyebabkannya jadi seperti itu adalah beberapa kejadian di masa lalu yang tak terhindarkan, jadi aku tak bisa menyalahkannya yang jadi bersifat begitu
menyebalkan. sungguh mengesalkan.
dan aku sangat menyesal karena harus jadi seperti ini.
aku menyesal karena harus jadi seperti ini.
aku menyesal karena kejadian itu menimpanya
aku menyesal karena beberapa orang yang (padahal) tahu tidak memedulikannya
aku menyesal karena mereka yang membuatnya jadi seperti itu tidak mau bertanggung jawab
aku menyesal karena tidak berbuat apa-apa
dan aku menyesal karena sekarang pun aku tak tahu harus berbuat apa.
beberapa hari yang lalu (lagi2) aku terlibat masalah dengannya. kami bertengkar dan aku menangis hebat. hebat sekali sampai mataku kayak kertas digunting jadi dua. padahal waktu itu besoknya aku harus menghadapi tes hyouki alias ujian dari dosen sakti tentang gulungan perkamen keramat yang dulu pernah aku ceritakan itu.
hell. taihen datta.
tengah malam itu setengah mati aku belajar sambil ngompres mata biar paginya kelihatan normal lagi. dan untungnya berhasil.
kembali ke masalah ano hito tadi.
kami beberapa kali bertengkar, kadang karena alasan yang tidak jelas karena, seperti yang kubilang tadi, ia suka parno sendiri yang berujung salah paham dalam menginterpretasikan tindakan atau ucapanku. padahal aku tidak memiliki maksud apapun, tapi dikira memiliki maksud jelek. betapa ia menyudutkanku sedemikian rupa padahal aku berusaha setengah mati berhati-hati menjaga kata-kata dan sikapku agar tidak menyulut kesalahpahaman.
mungkin dulu ia pun mendapat perlakuan seperti itu, dan kini tanpa sadar ia melakukan hal yang sama padaku.
aku ingin sekali menolongnya, tapi apa kuasaku?
seandainya aku punya alat-pembalik-waktu aku akan dengan senang hati menggunakannya dan mengajaknya kembali ke masa lalu, dimana--sebelum dihancurkan dengan sadis oleh seseorang dan orang lainnya--semua masih baik-baik saja.
aku ingin kembali ke masa lalu dan menolongnya.
sayangnya alat seperti itu tidak ada.
kita tidak bisa menyalahkan masa lalu. sekaranglah aku harus menolongnya.
tapi sepertinya ia menolak pertolonganku.
dan pertolongan orang2 lain yang ikhlas ingin menolong.
oh, god..
aku ingin menolongnya, sungguh.
aku ingin mengeluarkannya dari penjara itu.
semoga suatu saat nanti ia mau membuka hati dan pikirannya.
dan melupakan masa lalunya.
amin.
note: anggap saja ini racauan ngaco dariku, tidak usah dipikirkan. orang yang kubicarakan diatas bukan salah satu dari kalian (mungkin).
good night 'n sweet dream.
Februari 25, 2010
たいへんだ!!
Hello there,,,
akhirnya kuliah sudah sepenuhnya mulai..
begitu pula dengan berbagai macam kegiatan kepanitiaan
dan tugas-tugas yang menunggu untuk dikerjakan..
aku sedikit senang
tetapi oh tetapi
entah kenapa ada sesuatu yang menggelayuti hati
membuatku kadang mendadak merasa khawatir terhadap sesuatu yang tidak jelas
biasanya tiba2 datang dan hilangnya juga cepat
tapi itu sedikit mengganggu keseharianku...
ugh sial
ada apakah gerangan??
semoga aja segalanya akan baik2 saja....
mohon bantuan-MU ya Allah...
semoga segalanya baik2 saja...
amiin...
hm
semoga ini cuma gara2 aku lagi kedatangan alien dari bulan.
good night 'n sweet dream.
akhirnya kuliah sudah sepenuhnya mulai..
begitu pula dengan berbagai macam kegiatan kepanitiaan
dan tugas-tugas yang menunggu untuk dikerjakan..
aku sedikit senang
tetapi oh tetapi
entah kenapa ada sesuatu yang menggelayuti hati
membuatku kadang mendadak merasa khawatir terhadap sesuatu yang tidak jelas
biasanya tiba2 datang dan hilangnya juga cepat
tapi itu sedikit mengganggu keseharianku...
ugh sial
ada apakah gerangan??
semoga aja segalanya akan baik2 saja....
mohon bantuan-MU ya Allah...
semoga segalanya baik2 saja...
amiin...
hm
semoga ini cuma gara2 aku lagi kedatangan alien dari bulan.
good night 'n sweet dream.
Februari 17, 2010
I CAN'T
now playing:
Coldplay - a rush of Blood to the Head
Coldplay - Spies
To a certain person,
I want to forgive you and forget what you've done to me (note: me here could be a single or a plural), but obviously I CAN'T.
well, maybe someday i will. but not now. sorry.
see?
i'm just an ordinary people, after all.
but so do you.
so please stop tryin' to stick yourself with me and mind your own bussines, would you?!
i'm getting tired of this.
i never hate somebody before, so i'm sorry i just can't help it this time.
Once again, sorry.
note: believe me, this post doesn't rever to you, and i'm really sorry about my bad english. I just feel like writing it in language other than bhs indonesia is better.
Januari 25, 2010
Me, Love, and Whisper of The Heart
Hello there,
aku barusan nonton Whisper of The Heart yang disutradarai Hayao Miyazaki (Spirited Away) produksi studio Ghibli. Menurutku ada satu kata yang cocok menggambarkan rasa dari film ini: manis.
maaaniiiss sekali rasanya..aku kurang suka makanan manis, tapi film yang manis itu lain cerita.
Film ini mengisahkan seorang gadis SMP yang sangat suka membaca buku dan menulis segala sesuatu. Singkat cerita ia menemukan cinta lewat kartu perpustakaan dari buku2 yang ia pinjam (bingung?tonton aja sendiri). Si cowok, yang sama-sama kutu buku juga, bisa bikin dan main biola. Si cowok ini rupanya sudah memikirkan masa depannya dengan baik, dia bahkan sudah menargetkan Italy sebagai tempatnya belajar. Si cewek jadi agak minder, mengingat dia belum memikirkan apapun soal masa depannya. Ia merasa tertinggal dari orang yang disukainya, hingga akhirnya ia bertekad untuk melakukan hal yang--sepertinya--merupakan bidangnya: menulis. Ia menulis sebuah novel berjudul "Whisper of The Heart" ato ”耳をすませば”dlm basa jepang (klo gag salah). Isi novelnya tidak perlu kuceritakan, pokoknya novel ini merupakan simbol resolusinya untuk melangkah ke depan agar tidak kalah dengan si cowok. Dan untuk sementara mungkin ia berhasil. Yang jelas, tiba-tiba si cowok pulang dari Italy dan melamarnya.
Yeah, straightly proposed. Dan mereka kelas 3 SMP.
Kisah cinta yang ringan dan menyenangkan. Dan manis.
Nah, mari kita lupakan dulu soal film ini. Aku ingin berbicara tentang diriku. Sesuatu yang kadang menjadi pikiranku, namun tak pernah kukatakan. Pada siapapun, termasuk kau.
Bicara tentang cinta, aku merasa belum pernah benar2 merasakan perasaan yang namanya cinta. Aku pernah menyukai seseorang, bahkan (mungkin) beberapa orang (cowok, tentunya) namun aku sangsi apakah itu cinta. Rasanya itu hanya rasa suka yang ringan, tidak membebani pikiran, tidak memporak-porandakan perasaan.
Teman2 SMA-ku bilang aku nggak normal. Tapi ibuku bilang, mungkin aku cuma seorang gadis yang tidak mudah, alias sulit, untuk jatuh cinta. Ada yang seperti itu, contohnya ya ibuku sendiri.
Aku tidak suka dikatakan tidak normal, rasanya aku melakukan sesuatu yang salah. Apakah belum pernah jatuh cinta sampai kuliah semester 3 itu salah? well, ya, mungkin itu memang waktu yang sangat lama..mengingat hampir semua orang di sekitarku sudah meiliki pasangan..tapi tolong anggap saja aku ini hanya terlambat menemukan jodohku. Dan andai yang dikatakan ibuku, bahwa aku hanya sulit jatuh cinta, itu benar..mungkin aku malah agak lega. Masalahnya, sepertinya bukan itu.
Aku kadang (kadang lho) berpikir, alasan sampai sekarang aku belum pernah jatuh cinta adalah karena diriku sendiri. Aku mengenang kembali rasa suka yang pernah ada, dan aku menemukan sebuah pola yang masuk akal.
Here's the situation: aku dekat dengan seseorang, dan mulai menyukainya. Aku sadar bahwa aku menyukainya, dan sadar juga bahwa ia tidak menyukaiku seperti aku menyukainya, dan aku menyerah begitu saja.
Why?
Maybe it's all about the physical look, friend.
Mukaku bopeng dan jerawatan. Berat badanku berlebih. Aku tidak feminin. Dan aku tak punya bakat atau keahlian khusus. Aku tak punya apa-apa. Aku ini manusia yang kosong.
Mungkin aku merasa tak cukup cantik, tak cukup menarik, tak cukup percaya diri untuk jatuh cinta. Setiap kali aku mulai menyukai seseorang, aku terus berusaha menekan perasaan itu.
"Jangan sar, jangan, dia tuh nggak cocok sama kamu..lagian dia pasti udah suka orang laen kok, udahlah..."
I keep telling to my self.
Jangan heran atau kaget, apalagi tertawa. Mungkin kalian mengingat diriku yang biasanya kalian lihat dan kenal, dan tidak mengenali diriku yang ini. Tapi itulah kenyataannya, teman. Kekhawatiran itu bukannya tak beralasan.
Tapi mungkin dasarnya aku ini orang yang cuek. Kekhawatiran soal physical look tadi kan bukannya nggak bisa diatasi. Seharusnya aku kan bisa berusaha untuk memperbaikinya.
"Berapa kali kamu sudah bertekad, sar?? sering! dan apa-apaan tekadmu itu?! LEMAH!!
tekad lemah! resolusi kosong! Bayi masih lebih kuat daripada kamu, tau!"
haaaahhh...manusia yang menyedihkan...
jadi begitulah, teman..semua yang kuutarakan tadi biasanya muncul ke permukaan pikiran kalo aku lagi nonton film2 cinta antar dua anak manusia yang manis, atau lagi denger curhatan cinta dari teman.
Mungkin sebenarnya aku tidak terlalu peduli, tapi jujur saja aku mulai mengkhawatirkan masa depanku...
Oh, dan tiba-tiba aku merasa sedih sampai ingin menangis...sebaiknya sampai sini saja post kali ini. Aku sudah cukup bercerita.
-Semoga suatu hari nanti akan datang-
Terima kasih apabila kalian bisa mengerti.
good night n sweet dream.
Langganan:
Postingan (Atom)