Halo, semua.
Ternyata lama juga aku nggak nulis di sini. Bukannya nggak ada yang bisa ditulis, malah ada banyak sekali. Saking banyaknya, semua keburu menguap ditelan kesibukan sehari-hari. Tapi malam ini aku lumayan senggang, jadi mari mengisi waktu =)
Kali ini aku ingin sedikit berbagi pengalaman tentang pekerjaan yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku. Setelah lulus dari jurusan Sastra Jepang, yang ada dalam kepalaku adalah bagaimana caranya agar bahasa yang kupelajari selama 4 tahun ini nggak hilang begitu saja. Jadi, sembari menunggu kesempatan untuk melanjutkan S2, aku melanjutkan pekerjaanku sebagai pengajar les privat bahasa Jepang lepas dan mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar bahasa Jepang di Jogja.
Saat ini, selain sebagai pengajar les privat, aku juga menjadi pengajar di dua instansi yang berbeda. Instansi A adalah lembimjar umum dan Instansi B adalah lembimjar untuk calon tenaga kerja magang ke Jepang. Selain itu, aku juga menjadi penerjemah komik di Instansi C. Semua pekerjaan itu bersifat freelance, jadi jadwalku dalam seminggu pun berubah-ubah. Tapi saat ini aku cukup menikmatinya, mungkin akan kubiarkan comfort zone ini memanjakanku untuk beberapa waktu ke depan. =)
Di instansi A, kebanyakan peminatnya adalah anak SMP, SMA, dan mahasiswa yang, kalau bukan penyuka budaya jejepangan, ya orang yang memang mau ke Jepang, atau keduanya. Seringkali aku menggunakan pendekatan sebagai sesama penyuka budaya jejepangan di sini. Misalnya, membuat contoh kalimat menggunakan nama karakter anime, atau memperdengarkan lagu J-Pop sebagai materi pelajaran. Menyenangkan sekali. Yang menarik adalah adanya kecenderungan anak-anak ini kelewat mendewakan segala sesuatu tentang Jepang. Aku suka geli sendiri tiap ada yang bilang, "Sensei (ya, aku dipanggil Sensei. hahaha :v), lagu-lagu Jepang itu keren banget, ya. Liriknya dalem banget (lu kate sungai). Nggak kayak lagu Indonesia, alay." atau "Drama Jepang itu ceritanya bagus banget, aktornya juga ganteng-ganteng! ihihihi. Nggak kayak sinetron, alay." dan sebagainya.
Setiap aku mendengar pendapat macam itu, aku selalu menimpali, "Ah, masak, sih? Nggak juga kok." sambil dalam hati bertanya-tanya, memangnya kamu sudah mendengarkan semua lagu Jepang dan Indonesia? Memangnya kamu sudah nonton semua drama Jepang dan sinetron Indonesia? Oh well, meskipun kualitas sinetron jaman sekarang yang memang inferior itu rasanya sudah merupakan suatu hal yang pasti, sama pastinya dengan pendapat "Bumi itu bulat" dan "Kucing itu lucu". Dan dia mengatai segala sesuatu yang di Indonesia itu alay. Bagiku, kamu yang membanggakan produk Jepang dengan membabi buta itu sebenarnya nggak kalah alay.
Tapi, yah, waktu SMA dulu aku juga begitu, kok. Biar sajalah, mungkin memang lagi umurnya harus nge-fans sama sesuatu. Toh, berkat kesukaan mereka yang sedemikian rupa terhadap Jepang, semangat belajar bahasa Jepang mereka lebih besar. Bagiku sebagai pengajar, itu yang paling penting, 'kan?
Situasi di instansi B sedikit berbeda. Di sini, sebagian besar dari mereka belum mengetahui apapun tentang Jepang. Bagiku, ini jadi gampang-gampang susah. Aku harus menggunakan pendekatan yang berbeda. Kalau di instansi A kami belajar dengan santai, di instansi B tidak bisa seperti itu. Sistem di instansi B mengharuskan murid-muridnya mengenakan seragam dan berbicara layaknya tentara--keras dan tegas. Sebenarnya, para pengajar di situ pun dituntut untuk menjadi lebih "galak", dan meskipun banyak teman mengatakan aku ini galak, menjadi galak ketika mengajar itu ternyata tak semudah yang kubayangkan.
Aku suka mengajar dengan santai, yang melibatkan banyak lelucon dan selipan cerita-cerita ringan tentang Jepang--berdasarkan pengalaman pribadiku, tentunya. Aku suka membuat kelompok-kelompok dan menyuruh mereka membuat kaiwa (percakapan) lalu menampilkannya di depan kelas. Aku suka menyuruh mereka membuat sakubun (karangan) dengan tema tertentu. Aku nggak terlalu terganggu dengan murid yang cara bicaranya agak nyolot, selama ia memperlihatkan performa yang bagus dalam belajar. Aku nggak keberatan kalau ada yang tidur di kelas, selama ia nggak mengganggu teman-temannya yang lain.
Nah, kebiasaan-kebiasaan itu sepertinya perlu dikurangi saat aku mengajar di instansi B, yang metodenya melulu teori dan latihan soal. Tadinya aku menerapkan cara itu juga, tapi lama-lama akunya yang bosan, ujung-ujungnya balik ke caraku sendiri =P.
Di instansi B, sebagian besar muridnya lebih tua daripada aku, dan nyaris semuanya laki-laki. Ini juga merupakan sebuah tantangan, bagaimana caranya agar aku bisa tetap mengajar dengan menarik dan menyenangkan tanpa membuat mereka merasa terlalu nyaman hingga bisa bersikap nyeleneh atau merendahkan. Sejauh ini sih nggak ada masalah, semoga selanjutnya pun nggak.
Begitulah. Aku paling suka kalau kami melakukan brainstorming di kelas. Ada yang bertanya, ada yang menimpali, ada yang nggak setuju, ada yang berkomentar, dan lain-lain. Kelas selalu terasa jauh lebih hidup. Resikonya adalah kami jadi terlalu berisik, bisa mengganggu kelas sebelahnya kalau dindingnya tipis.
Mengajar itu menyenangkan. Tapi tentu saja, ada saatnya aku bosan. Pada saat itu, aku bersyukur memiliki kesibukan lain: menerjemahkan komik. Pasti kalian semua sudah tahu bahwa aku suka komik. Jadi, menerjemahkan komik kadang rasanya nyaris seperti bukan sedang bekerja. Ya cuma baca komik aja. Bedanya, aku kadang harus cari cara baca kanji atau arti dari suatu kata, atau memutar otak untuk merangkai kalimat dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Dan aku sih cukup menikmatinya, meskipun beberapa waktu lalu sempat sebel karena diserahi komik cewek menye-menye yang sama sekali bukan tipeku. Tapi nggak apa-apa, komik itu sudah tamat dan sekarang aku dapat serial yang lebih bagus =))
Mungkin semua pekerjaanku itu cuma freelance kecil-kecilan yang kelihatannya tidak menjanjikan. Kalau mengisi formulir dan ada kolom "pekerjaan" pun aku bingung musti nulis apa. Waktu ditanya orang pun, meskipun sudah dijawab "saya sekarang mengajar dan menerjemahkan" selalu ada pertanyaan tambahan, "nggak kerja di perusahaan Jepang? kan ada banyak." aku hanya tertawa dan tidak menjawab secara khusus.
Bukan apa-apa, tapi sampai detik ini aku sama sekali nggak berkeinginan untuk kerja di perusahaan milik Jepang. Alasan utamanya adalah karena perusahaan-perusahaan itu ada di Jakarta. Dan aku NGGAK PENGEN hidup di sana. Benar-benar nggak pengen. Dalam beberapa kali kunjunganku je Jakarta, tidak pernah memberikan kesan apapun. Entah kenapa kota itu selalu membuatku capek. Jumlah orangnya, kemacetan lalu lintasnya, jarak tempuh antar tempat yang jauh dan lama, bahkan udara di sana membuatku capek. Mungkin nanti kalau aku sudah punya firebolt aku mau ke sana. Eh, tapi kalau punya firebolt mending sekalian aja ke New Zealand, ya. Tiduran di padang rumput bersama sapi dan biri-biri.
Bagiku, sih, yang penting nggak melupakan bahasa Jepang. Toh berkat freelance sana-sini itu, aku bisa berhenti minta uang dari orang tua. Tentu saja karena aku masih tinggal di Jogja, aku masih tinggal di rumah bersama orang tua. Setidaknya aku sudah bisa menabung, sambil tetap sesekali bersenang-senang lewat karaoke atau nonton film atau belanja di toko buku. Dan toh target utamaku masih melanjutkan kuliah, jadi aku memang nggak berniat punya pekerjaan tetap dulu. Tapi, yah, yang namanya nasib, siapa yang tahu. It's still a long way to go. Nikmati saja apa yang dimiliki sekarang.
Selamat malam. Selamat menikmati hidup. =)
Tampilkan postingan dengan label Pendapat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendapat. Tampilkan semua postingan
September 28, 2013
Juni 25, 2013
Warna-warni Orang Tua Murid
Halo, semua.
Hari ini adikku, Irfan, terima rapor. Karena kedua orang tuaku sedang tidak di rumah, jaditerpaksa aku yang ambil. Irfan kelas 1 naik kelas 2, di salah satu SMA swasta di Jogja yang kalo pada hari terima rapor/pertemuan orang tua, jalanan di depannya selalu dipenuhi mobil. Eh, tapi sekarang jalanan di seluruh jogja dipenuhi mobil, ding. Naik mobil sekarang nggak spesial lagi, bro. Biasa aja kalik.
Ini bukan kali pertama aku ngambilin rapor Irfan, jadi aku sudah tahu kurang lebih bagaimana prosedurnya. Yang berbeda di sekolah adikku ini adalah, selain wali kelas, ada satu guru yang bertanggung jawab terhadap satu kelompok siswa yang terdiri dari kurang lebih 10 orang, disebut SA (student advisor). Aku tidak tahu pasti apa tugas SA, tapi yang jelas seorang SA dituntut untuk dekat dengan anak2 kelompoknya. Ia bisa menjadi tempat bagi anak-anak yang ingin konsultasi soal apapun. Mungkin semacam guru BK, tapi ada banyak dan masing-masing mendedikasikan perhatiannya terutama pada anak-anak kelompoknya. Nah, dengan SA inilah kita sebagai orang tua/wali akan berhadapan ketika menerima rapor/parents meeting.
Aku kurang tahu bagaimana bentuk rapor di sekolah negeri saat ini, tapi di sekolah Irfan, bentuknya narasi. Jadi pada setiap kolom mata pelajaran, tertulis deskripsi tentang bagaimana sikap anak itu selama di kelas, kemajuan/kemundurannya, dan tentu saja juga tertera nilai akademisnya. Ngomong-ngomong, suatu hari ketika aku mengantar ibuku mengambil rapor, aku pernah mendengar obrolan beberapa ibu-ibu yang mengeluhkan bentuk rapor seperti itu, karena menurut mereka terlalu panjang dan bertele-tele, dan menyita waktu untuk membacanya. Aku langsung membatin nyinyir, setelah melirik singkat melihat mereka, "Oh please, buat nge-cat kuku tangan dan kaki, dan masang hijab-sanggul yang kayaknya butuh dibantuin 2 orang pembokatnya, aja ada waktu kok, buat ngebaca rapor anaknya aja sambat." Tapi yah, biarlah. Toh keluhan mereka tidak membuat format rapor sekolah itu lalu diganti menjadi format rapor tradisional, yang isinya angka doang, yang membuat orang begitu mudah menghakimi setelah membacanya.
Selain semua penjelasan yang telah tertera di rapor, ortu/wali juga berhadapan one-on-one dengan para SA anak mereka. Dan, aku bisa melihat dengan jelas pada setiap kesempatan, bahwa pada waktu-waktu ini adalah nightmare bagi para SA.
Pada kesempatan terima rapor, SA akan membeberkan SEGALA HAL, semuanya, yang mereka ketahui tentang sang anak selama ia berada di sekolah--yang jelas waktunya jauh lebih lama daripada di rumah. Karena sekolah adikku ini relatif baru, guru-gurunya pun masih muda-muda, jadi--berdasarkan kesaksian adikku--lebih asik dan nyambung kalo diajak ngobrol. Nah, terkadang, atau mungkin malah sering, ada benturan yang muncul antara ortu/wali dengan SA mengenai sang anak. Orang tua mengatakan bahwa anaknya demikan, sementara SA menyatakan bahwa anaknya tidak demikian. Tentu saja pendapat keduanya memiliki landasan yang berbeda, karena orang tua tidak melihat selama anak sekolah dan sebaliknya SA tidak melihat selama anak di rumah. Tidak jarang perbedaan ini lantas berujung pada perdebatan, yang mengakibatkan waktu penerimaan rapor menjadi lebih lama dari yang seharusnya, dan antrean ortu/wali murid mengular di luar kelas. Aku selalu sebisa mungkin menghindari antrean tersebut, karena--seperti bisa diduga--pembicaraan yang terjadi di dalamnya kadang memuakkan. Membangga-banggakan anak, menjelek-jelekkan anak, membanding-bandingkan anak, saling mengeluhkan banyak hal. Pernah satu ketika sementara ibuku di dalam kelas berdiskusi dengan SA, di luar kelas ramai sekali, bukan oleh antrean orang tua yang menunggu giliran, melainkan mereka yang sebenarnya sudah selesai ambil rapor, tapi masih bertahan di situ, nyerocos sampai berbusa-busa, ibu-ibu dengan ibu-ibu, bapak-bapak dengan bapak-bapak. Kepalaku langsung pusing, dan alih-alih berdiri di koridor yang sama dengan mereka, aku memilih berjalan mengelilingi sekolah. Sungguh aku tidak menyukai baik apa yang terjadi di dalam maupun di luar kelas ketika itu.
Mungkin--mungkin, ya--harga diri orang tua sedikit terusik dengan--entah kenyataan atau bukan--SA yang sepertinya lebih tahu tentang si anak daripada mereka. "Guweh orang tuanya. Tuh anak ndekem di perut guweh 9 bulan, lo siapa!? lo tau apa!?" semacam itu. Tapi sekali lagi perlu dimasukkan dalam pertimbangan bahwa 1. anak jauh lebih lama menghabiskan waktu di sekolah, 2. melihat jenis-jenis orang tua khas sekolah itu, yang entah bapaknya atau ibunya atau keduanya, sering pergi ke luar kota/negeri karena pekerjaan. Semakin jarang bertemu, semakin berkurang komunikasi, semakin jauh jarak, semakin kita menjadi orang asing satu sama lain. Nggak usah jauh-jauh, dan curcol sedikit, aku pun merasakan hal yang sama dalam keluargaku. Entah di titik sebelah mana pada garis waktu, adikku mulai jaaaauh lebih menikmati kegiatan di luar rumah yang tidak bersama dengan keluarga. Dan aku sangat maklum, karena keadaan menyebabkan jadi seperti itu. Aku yakin hal yang sama terjadi di banyak keluarga lain di sekolah itu.
Kemudian, tak jarang orang tua mengeluhkan hal tentang anak mereka, yang menurutku sebenarnya adalah hal di luar wewenang SA. Misalnya, suatu hari seorang bapak mengeluhkan anaknya yang sibuk sms-an terus di rumah. Lalu beberapa orang tua menimpali setuju, bahwa anaknya sibuk BBM-an, main iPad, main PSP, dan lain sebagainya. Aku masih ingat betul, waktu itu adalah hari parents meeting, tapi ayah-ibuku tidak bisa datang, jadi aku yang menggantikan. Dan aku masih ingat betul betapa herannya aku. Lha, yang ngasih anak-anak itu hape multimedia, pulsa berlimpah, BBM, iPad, PSP, dll itu siapa? Kan orang tuanya sendiri!? Kalo mau anak-anak itu nggak menggunakan fasilitas2 tersebut dan fokus belajar, ya dari awal jangan dikasih! Ini logika yang sederhana sekali, kan? Atau, memberi dengan diiringi pengertian, entah bagaimana aku sendiri belum kepikiran--akan kupikirkan untuk anakku kelak--sedemikian rupa agar anak tetap tahu prioritas. Sekali lagi, mungkin pemberian fasilitas terbaik dan termewah untuk anak adalah sebagai ganti waktu yang tidak dapat disediakan oleh orang tua, batinku, sebagai usaha terakhir untuk tidak terlibat dalam lomba mengeluh itu, dan hanya memperhatikan sang SA yang antara bingung, geli, kemringet, dan entah bagaimana akhirnya hanya menjawab singkat, "Begini saja, pak, bu, tolong bapak-ibu ajak lagi bicara anaknya di rumah, dan saya akan berusaha berbicara pada mereka juga." yang diamini para jamaah dengan manggut-manggut. See? it's all about communication. Kita tahu itu, hanya saja kita butuh orang lain yang mengatakannya.
Pada akhirnya, aku terpaksa menarik kesimpulan kasar bahwa beberapa orang tua itu banyak sekali mengeluh. Mungkin karena merasa memiliki, mereka mengeluh. Mungkin karena merasa berhak, mereka mengeluh. Atau mungkin juga memang dasar orangnya gemar mengeluh. Beberapa mengeluh untuk mencari solusi. Beberapa mengeluh DAN menyampaikan solusi yang terpikirkan, untuk melihat reaksi pihak ketiga, atau mungkin meminta saran. Ada yang dikasih solusi tapi tidak bisa menerima. Ada yang menyalahkan. Macam-macam sekali. Yang jelas, menurutku pada hari parents meeting dan terima rapor pasti sangat menguras mental para SA. Berapa orang tua yang harus mereka hadapi dalam satu hari? Tentu saja ada juga orang tua yang hubungan keluarganya adem ayem dan diskusi dengan SA berjalan lancar. Seandainya jadi SA, mungkin aku akan menyuguh snack dan teh manis untuk orang-orang seperti itu.
Yah, bagaimanapun, aku belum menjadi orang tua seorang anak. Aku hanya bisa membayangkan, tapi belum bisa memahami bagaimana rasanya jadi orang tua. Tidak ada salahnya memikirkan ingin jadi orang tua yang seperti apa, kan?
Mungkin bisa mulai belajar, sambil membesarkan kucing, misalnya. Haha.
Sekian dan selamat malam. =)
Hari ini adikku, Irfan, terima rapor. Karena kedua orang tuaku sedang tidak di rumah, jadi
Ini bukan kali pertama aku ngambilin rapor Irfan, jadi aku sudah tahu kurang lebih bagaimana prosedurnya. Yang berbeda di sekolah adikku ini adalah, selain wali kelas, ada satu guru yang bertanggung jawab terhadap satu kelompok siswa yang terdiri dari kurang lebih 10 orang, disebut SA (student advisor). Aku tidak tahu pasti apa tugas SA, tapi yang jelas seorang SA dituntut untuk dekat dengan anak2 kelompoknya. Ia bisa menjadi tempat bagi anak-anak yang ingin konsultasi soal apapun. Mungkin semacam guru BK, tapi ada banyak dan masing-masing mendedikasikan perhatiannya terutama pada anak-anak kelompoknya. Nah, dengan SA inilah kita sebagai orang tua/wali akan berhadapan ketika menerima rapor/parents meeting.
Aku kurang tahu bagaimana bentuk rapor di sekolah negeri saat ini, tapi di sekolah Irfan, bentuknya narasi. Jadi pada setiap kolom mata pelajaran, tertulis deskripsi tentang bagaimana sikap anak itu selama di kelas, kemajuan/kemundurannya, dan tentu saja juga tertera nilai akademisnya. Ngomong-ngomong, suatu hari ketika aku mengantar ibuku mengambil rapor, aku pernah mendengar obrolan beberapa ibu-ibu yang mengeluhkan bentuk rapor seperti itu, karena menurut mereka terlalu panjang dan bertele-tele, dan menyita waktu untuk membacanya. Aku langsung membatin nyinyir, setelah melirik singkat melihat mereka, "Oh please, buat nge-cat kuku tangan dan kaki, dan masang hijab-sanggul yang kayaknya butuh dibantuin 2 orang pembokatnya, aja ada waktu kok, buat ngebaca rapor anaknya aja sambat." Tapi yah, biarlah. Toh keluhan mereka tidak membuat format rapor sekolah itu lalu diganti menjadi format rapor tradisional, yang isinya angka doang, yang membuat orang begitu mudah menghakimi setelah membacanya.
Selain semua penjelasan yang telah tertera di rapor, ortu/wali juga berhadapan one-on-one dengan para SA anak mereka. Dan, aku bisa melihat dengan jelas pada setiap kesempatan, bahwa pada waktu-waktu ini adalah nightmare bagi para SA.
Pada kesempatan terima rapor, SA akan membeberkan SEGALA HAL, semuanya, yang mereka ketahui tentang sang anak selama ia berada di sekolah--yang jelas waktunya jauh lebih lama daripada di rumah. Karena sekolah adikku ini relatif baru, guru-gurunya pun masih muda-muda, jadi--berdasarkan kesaksian adikku--lebih asik dan nyambung kalo diajak ngobrol. Nah, terkadang, atau mungkin malah sering, ada benturan yang muncul antara ortu/wali dengan SA mengenai sang anak. Orang tua mengatakan bahwa anaknya demikan, sementara SA menyatakan bahwa anaknya tidak demikian. Tentu saja pendapat keduanya memiliki landasan yang berbeda, karena orang tua tidak melihat selama anak sekolah dan sebaliknya SA tidak melihat selama anak di rumah. Tidak jarang perbedaan ini lantas berujung pada perdebatan, yang mengakibatkan waktu penerimaan rapor menjadi lebih lama dari yang seharusnya, dan antrean ortu/wali murid mengular di luar kelas. Aku selalu sebisa mungkin menghindari antrean tersebut, karena--seperti bisa diduga--pembicaraan yang terjadi di dalamnya kadang memuakkan. Membangga-banggakan anak, menjelek-jelekkan anak, membanding-bandingkan anak, saling mengeluhkan banyak hal. Pernah satu ketika sementara ibuku di dalam kelas berdiskusi dengan SA, di luar kelas ramai sekali, bukan oleh antrean orang tua yang menunggu giliran, melainkan mereka yang sebenarnya sudah selesai ambil rapor, tapi masih bertahan di situ, nyerocos sampai berbusa-busa, ibu-ibu dengan ibu-ibu, bapak-bapak dengan bapak-bapak. Kepalaku langsung pusing, dan alih-alih berdiri di koridor yang sama dengan mereka, aku memilih berjalan mengelilingi sekolah. Sungguh aku tidak menyukai baik apa yang terjadi di dalam maupun di luar kelas ketika itu.
Mungkin--mungkin, ya--harga diri orang tua sedikit terusik dengan--entah kenyataan atau bukan--SA yang sepertinya lebih tahu tentang si anak daripada mereka. "Guweh orang tuanya. Tuh anak ndekem di perut guweh 9 bulan, lo siapa!? lo tau apa!?" semacam itu. Tapi sekali lagi perlu dimasukkan dalam pertimbangan bahwa 1. anak jauh lebih lama menghabiskan waktu di sekolah, 2. melihat jenis-jenis orang tua khas sekolah itu, yang entah bapaknya atau ibunya atau keduanya, sering pergi ke luar kota/negeri karena pekerjaan. Semakin jarang bertemu, semakin berkurang komunikasi, semakin jauh jarak, semakin kita menjadi orang asing satu sama lain. Nggak usah jauh-jauh, dan curcol sedikit, aku pun merasakan hal yang sama dalam keluargaku. Entah di titik sebelah mana pada garis waktu, adikku mulai jaaaauh lebih menikmati kegiatan di luar rumah yang tidak bersama dengan keluarga. Dan aku sangat maklum, karena keadaan menyebabkan jadi seperti itu. Aku yakin hal yang sama terjadi di banyak keluarga lain di sekolah itu.
Kemudian, tak jarang orang tua mengeluhkan hal tentang anak mereka, yang menurutku sebenarnya adalah hal di luar wewenang SA. Misalnya, suatu hari seorang bapak mengeluhkan anaknya yang sibuk sms-an terus di rumah. Lalu beberapa orang tua menimpali setuju, bahwa anaknya sibuk BBM-an, main iPad, main PSP, dan lain sebagainya. Aku masih ingat betul, waktu itu adalah hari parents meeting, tapi ayah-ibuku tidak bisa datang, jadi aku yang menggantikan. Dan aku masih ingat betul betapa herannya aku. Lha, yang ngasih anak-anak itu hape multimedia, pulsa berlimpah, BBM, iPad, PSP, dll itu siapa? Kan orang tuanya sendiri!? Kalo mau anak-anak itu nggak menggunakan fasilitas2 tersebut dan fokus belajar, ya dari awal jangan dikasih! Ini logika yang sederhana sekali, kan? Atau, memberi dengan diiringi pengertian, entah bagaimana aku sendiri belum kepikiran--akan kupikirkan untuk anakku kelak--sedemikian rupa agar anak tetap tahu prioritas. Sekali lagi, mungkin pemberian fasilitas terbaik dan termewah untuk anak adalah sebagai ganti waktu yang tidak dapat disediakan oleh orang tua, batinku, sebagai usaha terakhir untuk tidak terlibat dalam lomba mengeluh itu, dan hanya memperhatikan sang SA yang antara bingung, geli, kemringet, dan entah bagaimana akhirnya hanya menjawab singkat, "Begini saja, pak, bu, tolong bapak-ibu ajak lagi bicara anaknya di rumah, dan saya akan berusaha berbicara pada mereka juga." yang diamini para jamaah dengan manggut-manggut. See? it's all about communication. Kita tahu itu, hanya saja kita butuh orang lain yang mengatakannya.
Pada akhirnya, aku terpaksa menarik kesimpulan kasar bahwa beberapa orang tua itu banyak sekali mengeluh. Mungkin karena merasa memiliki, mereka mengeluh. Mungkin karena merasa berhak, mereka mengeluh. Atau mungkin juga memang dasar orangnya gemar mengeluh. Beberapa mengeluh untuk mencari solusi. Beberapa mengeluh DAN menyampaikan solusi yang terpikirkan, untuk melihat reaksi pihak ketiga, atau mungkin meminta saran. Ada yang dikasih solusi tapi tidak bisa menerima. Ada yang menyalahkan. Macam-macam sekali. Yang jelas, menurutku pada hari parents meeting dan terima rapor pasti sangat menguras mental para SA. Berapa orang tua yang harus mereka hadapi dalam satu hari? Tentu saja ada juga orang tua yang hubungan keluarganya adem ayem dan diskusi dengan SA berjalan lancar. Seandainya jadi SA, mungkin aku akan menyuguh snack dan teh manis untuk orang-orang seperti itu.
Yah, bagaimanapun, aku belum menjadi orang tua seorang anak. Aku hanya bisa membayangkan, tapi belum bisa memahami bagaimana rasanya jadi orang tua. Tidak ada salahnya memikirkan ingin jadi orang tua yang seperti apa, kan?
Mungkin bisa mulai belajar, sambil membesarkan kucing, misalnya. Haha.
Sekian dan selamat malam. =)
Juni 11, 2013
Tanggung Jawab Sebuah Kata "Tapi"
Halo, semua.
Di waktu senggang, aku suka memikirkan hal-hal random tentang apa saja yang sedang terjadi di sekelilingku. Hal yang lucu, yang menyenangkan, yang menyebalkan, yang aneh, apapun. Akhir-akhir ini, aku sedikit terganggu dengan satu hal, yang mungkin sebenarnya biasa saja, tidak dalam, sedikit klise, tidak pula perlu dibicarakan, but hey, aku hanya sedang menghabiskan waktu. Who cares?
Aku sedikit terganggu dengan penggunaan kata 'tapi' dalam beberapa kondisi. Menurut KBBI offline, 'tetapi' adalah kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras. Bertentangan atau tidak selaras. Masalahnya, bertentangan atau tidak selaras itu sangat subjektif. Dan ketika aku menemukan subjektivitas dalam penggunaan kata 'tapi' yang melibatkan satu atau sebagian fakta sosial yang kemudian mengarah pada penghakiman terhadap satu kelompok sosial tertentu, itu membuatku tergelitik untuk sekadar mengangkat sebelah alis.
Contoh paling sederhana dan sering kita dengar/katakan: "cowok tapi pake baju warna pink", "cewek tapi makannya banyak" (nggak, aku nggak sedang membicarakan diri sendiri), "lulusan psikologi UGM tapi jadi karyawan pom bensin", "tukang parkir tapi bajunya bagus banget", "anak pejabat tapi ngonthel", "udah umur 35 tapi belum nikah", "udah gede tapi masih suka komik dan kartun" (oke, kalo ini tentang diriku sendiri). Dan ada juga contoh yang sebelum menyebutkannya aku perlu minta maaf dulu. Maaf, aku menyebutkan hal-hal yang memang pernah aku dengar. "Cina tapi miskin", "Panggabean (marga Batak, yang kebetulan juga margaku, yang mana di daerah asalnya, mayoritas pemiliknya beragama kristen) tapi jilbaban", dll percayalah kita mendengar dan mengatakannya setiap saat.
Setiap mendengar hal-hal seperti di atas, aku selalu bilang, "HA MBOK BEN!". Lha mbok biarin aja. Dari mana timbulnya semua komentar ini? Kenapa kita harus menentang-nentangkan dua hal yang--lepas dari bertentangan atau nggak menurut norma sosial--sebenarnya sama sekali bukan urusan kita? Memang, beberapa bisa sekadar untuk lucu-lucuan, tapi hati-hati, beberapa yang lain bisa menjadi sangat ofensif.
Kata 'tapi' yang muncul dari stereotip. Generalisasi. Ekspektasi. Ketika satu fakta tidak sesuai dengan ekspektasi kebanyakan orang, muncul kata 'tapi'. Ketika satu orang dianggap tidak sama dengan orang lain dalam golongannya, muncul kata 'tapi'. Ketika kita merasa sesuatu tidak cocok dengan apa yang biasanya terjadi, muncul kata 'tapi'. Atau kadang-kadang kata 'tapi' muncul begitu saja dari mulut orang-orang yang nyinyir, yang sukanya mengurusi urusan orang lain.
Sudahlah. Santai saja. Berhentilah membebani kata 'tapi' dengan tugas yang berat seperti itu. Kenapa kita tidak lebih sering menggunakan kata 'dan'? Lagi-lagi menurut KBBI offline, 'dan' adalah penghubung satuan bahasa (kata, frasa, klausa, dan kalimat) yang setara, yang termasuk tipe yg sama serta memiliki fungsi yang tidak berbeda. Coba baca lagi contoh-contoh kalimat yang kusebutkan di atas dan ganti 'tapi' dengan 'dan'. Sekalipun mungkin tidak sesuai dengan apapun itu yang kita anut, rasanya segalanya jadi jauh lebih mudah diterima. Melihat manusia hanya sebagai manusia, melihat A hanya sebagai A, tidak perlu melihat segala perangkat latar belakang yang mengiringinya. Buang saja ke laut.
Bukan lantas kita menjadi kelewat maklum terhadap segala sesuatu. Hanya saja, sekarang ini memang zaman edan, dimana segala sesuatu terus berjalan cepat, berkembang sedemikian rupa di luar kuasa siapapun kecuali Sang Pencipta. Di zaman edan ini, kita perlu saling menopang untuk tetap dapat berdiri dengan waras. Dan sementara kepala kita dipenuhi ekspektasi akan segala sesuatu sehingga menimbulkan berbagai prasangka, tanpa kita sadari kaki kita sudah tidak menjejak di tanah yang sama dengan saudara-saudari kita yang lain. Sesulit itukah?
Yah, pada akhirnya ini hanya sebuah pemikiran yang numpang lewat di kepalaku, yang entah benar atau tidak, yang entah bermanfaat atau tidak. Setidaknya, aku akan mulai berhati-hati ketika mengomentari sesuatu. Mungkin mengurangi penggunaan kata 'tapi' yang terlalu subjektif. Mengurangi kecenderungan untuk menghubung-hubungkan segala sesuatu. Kalian boleh ikut, boleh nggak.
Selamat malam. =)
Di waktu senggang, aku suka memikirkan hal-hal random tentang apa saja yang sedang terjadi di sekelilingku. Hal yang lucu, yang menyenangkan, yang menyebalkan, yang aneh, apapun. Akhir-akhir ini, aku sedikit terganggu dengan satu hal, yang mungkin sebenarnya biasa saja, tidak dalam, sedikit klise, tidak pula perlu dibicarakan, but hey, aku hanya sedang menghabiskan waktu. Who cares?
Aku sedikit terganggu dengan penggunaan kata 'tapi' dalam beberapa kondisi. Menurut KBBI offline, 'tetapi' adalah kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras. Bertentangan atau tidak selaras. Masalahnya, bertentangan atau tidak selaras itu sangat subjektif. Dan ketika aku menemukan subjektivitas dalam penggunaan kata 'tapi' yang melibatkan satu atau sebagian fakta sosial yang kemudian mengarah pada penghakiman terhadap satu kelompok sosial tertentu, itu membuatku tergelitik untuk sekadar mengangkat sebelah alis.
Contoh paling sederhana dan sering kita dengar/katakan: "cowok tapi pake baju warna pink", "cewek tapi makannya banyak" (nggak, aku nggak sedang membicarakan diri sendiri), "lulusan psikologi UGM tapi jadi karyawan pom bensin", "tukang parkir tapi bajunya bagus banget", "anak pejabat tapi ngonthel", "udah umur 35 tapi belum nikah", "udah gede tapi masih suka komik dan kartun" (oke, kalo ini tentang diriku sendiri). Dan ada juga contoh yang sebelum menyebutkannya aku perlu minta maaf dulu. Maaf, aku menyebutkan hal-hal yang memang pernah aku dengar. "Cina tapi miskin", "Panggabean (marga Batak, yang kebetulan juga margaku, yang mana di daerah asalnya, mayoritas pemiliknya beragama kristen) tapi jilbaban", dll percayalah kita mendengar dan mengatakannya setiap saat.
Setiap mendengar hal-hal seperti di atas, aku selalu bilang, "HA MBOK BEN!". Lha mbok biarin aja. Dari mana timbulnya semua komentar ini? Kenapa kita harus menentang-nentangkan dua hal yang--lepas dari bertentangan atau nggak menurut norma sosial--sebenarnya sama sekali bukan urusan kita? Memang, beberapa bisa sekadar untuk lucu-lucuan, tapi hati-hati, beberapa yang lain bisa menjadi sangat ofensif.
Kata 'tapi' yang muncul dari stereotip. Generalisasi. Ekspektasi. Ketika satu fakta tidak sesuai dengan ekspektasi kebanyakan orang, muncul kata 'tapi'. Ketika satu orang dianggap tidak sama dengan orang lain dalam golongannya, muncul kata 'tapi'. Ketika kita merasa sesuatu tidak cocok dengan apa yang biasanya terjadi, muncul kata 'tapi'. Atau kadang-kadang kata 'tapi' muncul begitu saja dari mulut orang-orang yang nyinyir, yang sukanya mengurusi urusan orang lain.
Sudahlah. Santai saja. Berhentilah membebani kata 'tapi' dengan tugas yang berat seperti itu. Kenapa kita tidak lebih sering menggunakan kata 'dan'? Lagi-lagi menurut KBBI offline, 'dan' adalah penghubung satuan bahasa (kata, frasa, klausa, dan kalimat) yang setara, yang termasuk tipe yg sama serta memiliki fungsi yang tidak berbeda. Coba baca lagi contoh-contoh kalimat yang kusebutkan di atas dan ganti 'tapi' dengan 'dan'. Sekalipun mungkin tidak sesuai dengan apapun itu yang kita anut, rasanya segalanya jadi jauh lebih mudah diterima. Melihat manusia hanya sebagai manusia, melihat A hanya sebagai A, tidak perlu melihat segala perangkat latar belakang yang mengiringinya. Buang saja ke laut.
Bukan lantas kita menjadi kelewat maklum terhadap segala sesuatu. Hanya saja, sekarang ini memang zaman edan, dimana segala sesuatu terus berjalan cepat, berkembang sedemikian rupa di luar kuasa siapapun kecuali Sang Pencipta. Di zaman edan ini, kita perlu saling menopang untuk tetap dapat berdiri dengan waras. Dan sementara kepala kita dipenuhi ekspektasi akan segala sesuatu sehingga menimbulkan berbagai prasangka, tanpa kita sadari kaki kita sudah tidak menjejak di tanah yang sama dengan saudara-saudari kita yang lain. Sesulit itukah?
Yah, pada akhirnya ini hanya sebuah pemikiran yang numpang lewat di kepalaku, yang entah benar atau tidak, yang entah bermanfaat atau tidak. Setidaknya, aku akan mulai berhati-hati ketika mengomentari sesuatu. Mungkin mengurangi penggunaan kata 'tapi' yang terlalu subjektif. Mengurangi kecenderungan untuk menghubung-hubungkan segala sesuatu. Kalian boleh ikut, boleh nggak.
Selamat malam. =)
April 23, 2013
Kalo Mau Request Komik Mbok Dipikir Dulu
Halo semua.
Sebelumnya kuingatkan bahwa postingan kali ini mungkin mengandung banyak istilah atau kata atau hal yang tidak kalian mengerti kalo kalian bukan penggemar manga. Tapi kalo mau tetep baca ya silakan, toh inti isinya tetap pendapatku tentang sesuatu.
Jadi belum lama ini, karena satu dan lain hal, aku harus nge-like fan page salah satu penerbit komik terbesar di Indonesia yang kebetulan menerbitkan manga favoritku seumur hidup (yang kebetulan juga nggak terkenal =P): Tomo'o. Berkat itu, aku jadi tahu informasi tentang komik apa saja yang mereka terbitkan setiap minggu dan minggu lalu aku menemukan wall post yang menyatakan bahwa setiap hari selasa (kalo nggak salah), mereka menerima request komik yang ingin pembaca terbitkan. Aku pribadi sangat menghargai aktivitas ini, dan dengan segera mengusulkan seinen manga berjudul Uchuu Kyoudai (bagus banget, sumpah. coba baca scanlation-nya deh kapan2). Di wall fan page itu, kita yang ingin request harus menulis sesuai format yang telah mereka tentukan, yaitu judul disertai data komik lengkap termasuk sinopsis dan komentar kita terhadap komik tersebut. Setelah aku menuliskan dengan lengkap semua yang perlu ditulis sesuai format, dan setelah dengan agak setengah mati mengurangi dorongan untuk menulis sinopsis yang kelewat detail karena aku-nya kelewat semangat, aku iseng melihat-lihat komik2 lain yang di-request oleh orang2 lain. Dan menurutku, beberapa request sedikit mengejutkan.
Aku menemukan beberapa request judul manga yang tidak kubayangkan bakal bisa terbit secara resmi di Indonesia. Nggak perlu kutulis apa saja judulnya, yang jelas manga2 ini benar2 sarat dengan konten seksual (baik yang normal maupun yang kelainan, sampe yang ekstrim macam seks dengan mayat ato hantu, ato nge-seks terus pasangannya dimakan hidup2) dan kekerasan (bukan sekedar pedang2an ato jotos2an level One Piece, tapi yang ekstrim macam merobek manusia pake tangan kosong sampe kebelah dua, terus ususnya dimakan, dan potongan tubuh sisanya dihancurkan sampe jadi bubur organ tubuh), dan konten2 lain yang melibatkan penyimpangan2 sosial khas Jepang seperti ijime (bullying), hikikomori (semacam NEET), dll. Intinya, manga yang penuh disturbing image dan ideologi, yang kalo kita mau baca di situs2 mangascan, bakal ada peringatan "warning, categorized as 'mature', therefore may contain bla bla bla don't read if you under 18" tapi tetep bisa di-klik jadi ujung2nya siapa aja bisa baca -_-.
Kenapa aku bisa tahu konten2 manga seperti itu? Karena aku memang membaca beberapa di antaranya. Beberapa yang tidak kubaca pun, akhirnya jadi kucari tahu karena penasaran. Dan ada, memang, satu atau dua manga yang--lepas dari isinya yang penuh manusia telanjang dan organ2 yang beterbangan--dari segi cerita memang bagus, diakui di Jepang, populer, sampai dibuat film. Aku sendiri juga lumayan suka. Tapi tetap, menurutku TIDAK SEMUA manga (atau apapun) bisa diterbitkan secara resmi dan terbuka, dijual untuk umum, bisa dibaca siapa saja--di Indonesia.
Mungkin kita semua sudah tahu, bahwa di sini orang masih menganggap "komik" itu konsumsi anak2. "Udah gede kok masih baca komik" kata mereka. Masalah ini sungguh klise, tapi nyatanya ini memang jadi masalah. Berkat (atau akibat?) Naruto dkk yang ceritanya meledak luar biasa di kalangan anak2, aku yakin banyak anak sudah mulai membaca komik sejak SD atau SMP. Beberapa dari mereka mungkin sudah bisa membacanya di internet, kalo nggak keberatan dengan teksnya yang berbahasa Inggris. Tapi sebagian besar pasti--karena uang jajan anak2 yang nggak seberapa--menjadikan rental komik (atau yang selalu disebut sebagai Taman Bacaan di Jogja--meskipun dibilang taman bacaan juga, yang disewain cuma komik doang -_-) sebagai destinasi mereka untuk bisa baca komik secara murah--gratis, malah, kalo baca di tempat.
Bagi kalian yang nggak tahu, Taman Bacaan (biasa disingkat TB) menyewakan segala jenis komik, nggak pandang bulu. Komik2 porno bajakan tanpa sensor--dan tanpa cerita--pun beredar tanpa basa-basi di situ. Beberapa penjaga TB mungkin masih peduli dan dengan sabar menasehati anak2 di bawah umur yang coba2 pinjam komik yang tidak sesuai dengan usia mereka. Tapi yang lain aku rasa nggak bakal peduli, yang penting ada yang pinjem komik, bayar, balikin, beres.
Nggak cuma anak2 yang patut dikhawatirkan, melainkan juga orang2 dewasa yang berpendidikan kurang sehingga wawasan dan pemikirannya belum terbuka (eh tunggu, kedua hal ini mungkin nggak selalu berbanding lurus ya, bisa jadi berpendidikan tinggi tapi pikiran sempit). Masih dalam konteks konsumen komik, pasti orangnya bermacam2 dan dari lingkungan yang berbeda2. Melepaskan manga2 ekstrim tadi ke khalayak umum--ke toko2 buku, ke rental2 komik--sama aja kayak jual bir di toko permen. Nggak layak, meskipun dengan embel2 tulisan "Dewasa" di covernya dan hasil sensoran kasar yang saking banyaknya editornya sampe monjrot.
Untungnya, sang penerbit dengan bijak menolak sebagian besar permintaan manga2 yang semacam itu. Gilanya, udah jelas ditolak mentah2--nggak jarang sang admin mengeluarkan kata2 yang ketus dan dingin sebagai penolakan yang tegas--tapi si peminta masih juga ngeyel maksa dan memohon2 agar komik itu diterbitkan, beberapa malah minta sampai berkali2 -_-. Belum lagi banyak dari mereka yang menulis request tidak sesuai format, atau yang melampirkan sinopsis sekenanya copy-paste dari situs mangascan, jadi masih pake bahasa Inggris -_-. Aku ngerti banget perasaannya si admin. Sabar ya, min.
Begitulah, aku suka banget manga, bahkan yang ekstrim psyco apapun itu, aku tetap menikmati semuanya, sekadar sebagai hiburan. Hanya saja, menurutku beberapa jauh lebih baik tetap menjadi konsumsi para pengguna internet. Nggak perlu lah diterbitin cetak legalnya. Kalo bener2 pengen versi cetaknya, online shopping aja terus terjemahin sendiri. Be wise of what you read, mates. Kalo sekiranya akan berpengaruh buruk terhadap dirimu, nggak usah dibaca.
Baca Tomo'o wae.
Maaf ya kalo postingan ini geje. Aku cuma agak geregetan.
Sampai ketemu lagi =)
Sebelumnya kuingatkan bahwa postingan kali ini mungkin mengandung banyak istilah atau kata atau hal yang tidak kalian mengerti kalo kalian bukan penggemar manga. Tapi kalo mau tetep baca ya silakan, toh inti isinya tetap pendapatku tentang sesuatu.
Jadi belum lama ini, karena satu dan lain hal, aku harus nge-like fan page salah satu penerbit komik terbesar di Indonesia yang kebetulan menerbitkan manga favoritku seumur hidup (yang kebetulan juga nggak terkenal =P): Tomo'o. Berkat itu, aku jadi tahu informasi tentang komik apa saja yang mereka terbitkan setiap minggu dan minggu lalu aku menemukan wall post yang menyatakan bahwa setiap hari selasa (kalo nggak salah), mereka menerima request komik yang ingin pembaca terbitkan. Aku pribadi sangat menghargai aktivitas ini, dan dengan segera mengusulkan seinen manga berjudul Uchuu Kyoudai (bagus banget, sumpah. coba baca scanlation-nya deh kapan2). Di wall fan page itu, kita yang ingin request harus menulis sesuai format yang telah mereka tentukan, yaitu judul disertai data komik lengkap termasuk sinopsis dan komentar kita terhadap komik tersebut. Setelah aku menuliskan dengan lengkap semua yang perlu ditulis sesuai format, dan setelah dengan agak setengah mati mengurangi dorongan untuk menulis sinopsis yang kelewat detail karena aku-nya kelewat semangat, aku iseng melihat-lihat komik2 lain yang di-request oleh orang2 lain. Dan menurutku, beberapa request sedikit mengejutkan.
Aku menemukan beberapa request judul manga yang tidak kubayangkan bakal bisa terbit secara resmi di Indonesia. Nggak perlu kutulis apa saja judulnya, yang jelas manga2 ini benar2 sarat dengan konten seksual (baik yang normal maupun yang kelainan, sampe yang ekstrim macam seks dengan mayat ato hantu, ato nge-seks terus pasangannya dimakan hidup2) dan kekerasan (bukan sekedar pedang2an ato jotos2an level One Piece, tapi yang ekstrim macam merobek manusia pake tangan kosong sampe kebelah dua, terus ususnya dimakan, dan potongan tubuh sisanya dihancurkan sampe jadi bubur organ tubuh), dan konten2 lain yang melibatkan penyimpangan2 sosial khas Jepang seperti ijime (bullying), hikikomori (semacam NEET), dll. Intinya, manga yang penuh disturbing image dan ideologi, yang kalo kita mau baca di situs2 mangascan, bakal ada peringatan "warning, categorized as 'mature', therefore may contain bla bla bla don't read if you under 18" tapi tetep bisa di-klik jadi ujung2nya siapa aja bisa baca -_-.
Kenapa aku bisa tahu konten2 manga seperti itu? Karena aku memang membaca beberapa di antaranya. Beberapa yang tidak kubaca pun, akhirnya jadi kucari tahu karena penasaran. Dan ada, memang, satu atau dua manga yang--lepas dari isinya yang penuh manusia telanjang dan organ2 yang beterbangan--dari segi cerita memang bagus, diakui di Jepang, populer, sampai dibuat film. Aku sendiri juga lumayan suka. Tapi tetap, menurutku TIDAK SEMUA manga (atau apapun) bisa diterbitkan secara resmi dan terbuka, dijual untuk umum, bisa dibaca siapa saja--di Indonesia.
Mungkin kita semua sudah tahu, bahwa di sini orang masih menganggap "komik" itu konsumsi anak2. "Udah gede kok masih baca komik" kata mereka. Masalah ini sungguh klise, tapi nyatanya ini memang jadi masalah. Berkat (atau akibat?) Naruto dkk yang ceritanya meledak luar biasa di kalangan anak2, aku yakin banyak anak sudah mulai membaca komik sejak SD atau SMP. Beberapa dari mereka mungkin sudah bisa membacanya di internet, kalo nggak keberatan dengan teksnya yang berbahasa Inggris. Tapi sebagian besar pasti--karena uang jajan anak2 yang nggak seberapa--menjadikan rental komik (atau yang selalu disebut sebagai Taman Bacaan di Jogja--meskipun dibilang taman bacaan juga, yang disewain cuma komik doang -_-) sebagai destinasi mereka untuk bisa baca komik secara murah--gratis, malah, kalo baca di tempat.
Bagi kalian yang nggak tahu, Taman Bacaan (biasa disingkat TB) menyewakan segala jenis komik, nggak pandang bulu. Komik2 porno bajakan tanpa sensor--dan tanpa cerita--pun beredar tanpa basa-basi di situ. Beberapa penjaga TB mungkin masih peduli dan dengan sabar menasehati anak2 di bawah umur yang coba2 pinjam komik yang tidak sesuai dengan usia mereka. Tapi yang lain aku rasa nggak bakal peduli, yang penting ada yang pinjem komik, bayar, balikin, beres.
Nggak cuma anak2 yang patut dikhawatirkan, melainkan juga orang2 dewasa yang berpendidikan kurang sehingga wawasan dan pemikirannya belum terbuka (eh tunggu, kedua hal ini mungkin nggak selalu berbanding lurus ya, bisa jadi berpendidikan tinggi tapi pikiran sempit). Masih dalam konteks konsumen komik, pasti orangnya bermacam2 dan dari lingkungan yang berbeda2. Melepaskan manga2 ekstrim tadi ke khalayak umum--ke toko2 buku, ke rental2 komik--sama aja kayak jual bir di toko permen. Nggak layak, meskipun dengan embel2 tulisan "Dewasa" di covernya dan hasil sensoran kasar yang saking banyaknya editornya sampe monjrot.
Untungnya, sang penerbit dengan bijak menolak sebagian besar permintaan manga2 yang semacam itu. Gilanya, udah jelas ditolak mentah2--nggak jarang sang admin mengeluarkan kata2 yang ketus dan dingin sebagai penolakan yang tegas--tapi si peminta masih juga ngeyel maksa dan memohon2 agar komik itu diterbitkan, beberapa malah minta sampai berkali2 -_-. Belum lagi banyak dari mereka yang menulis request tidak sesuai format, atau yang melampirkan sinopsis sekenanya copy-paste dari situs mangascan, jadi masih pake bahasa Inggris -_-. Aku ngerti banget perasaannya si admin. Sabar ya, min.
Begitulah, aku suka banget manga, bahkan yang ekstrim psyco apapun itu, aku tetap menikmati semuanya, sekadar sebagai hiburan. Hanya saja, menurutku beberapa jauh lebih baik tetap menjadi konsumsi para pengguna internet. Nggak perlu lah diterbitin cetak legalnya. Kalo bener2 pengen versi cetaknya, online shopping aja terus terjemahin sendiri. Be wise of what you read, mates. Kalo sekiranya akan berpengaruh buruk terhadap dirimu, nggak usah dibaca.
Baca Tomo'o wae.
![]() |
| Tomo'o 16 (yang terakhir terbit di sini, status masih ongoing) by Oda Tobira. |
Maaf ya kalo postingan ini geje. Aku cuma agak geregetan.
Sampai ketemu lagi =)
Februari 22, 2013
Siap Itu Baik
Halo.
Belum lama ini aku mendapat pengalaman baru yang cukup berharga dan ingin kuceritakan sedikit.
Jadi belum lama ini aku dapat tawaran kerjaan menjadi penerjemah orang Jepang (selanjutnya akan kutulis Nihonjin) yang sedang melakukan penelitian di Jogja. Kontrak kerjanya cuma seminggu, jadi kuambil aja, itung2 dapat duit tambahan.
Kali itu adalah pertama kalinya aku menjadi penerjemah, secara profesional. Memang, aku sudah beberapa kali menemani Nihonjin dalam berbagai kesempatan, tapi ini pertama kalinya aku melakukannya sebagai sebuah pekerjaan. Biasanya sih cuma--uhuk--volunteer seadanya yang kadang dialog2nya sudah dipersiapkan dalam naskah lebih dulu, jadi aku tinggal cuap2 sesuai naskahnya. Tapi kali ini berbeda. Selama 6 hari penuh dari pagi sampai sore, otakku rasanya tak berhenti bekerja mengalihkan bahasa Jepang-Indonesia dan sebaliknya. Kadang2 malah harus switch ke bahasa Inggris juga gara2 bahasa Jepang-ku yang pas2an. Benar2 sebuah pencapaian lah pokoknya, capek banget. Tapi jelas pengalaman dan pelajaran yang berharga.
Nihonjin yang kutemani kemarin ada 3 orang; 1 perempuan muda bernama Marie, 1 bibi2 cantik bernama Tomoyo, dan 1 kakek (dibilang kakek juga, masih terlihat bugar kok) bernama Junichi. Marie dan Junichi mewakili sebuah stasiun radio di Kobe, dan Tomoyo adalah kepala bagian Disaster Management di JICA (Japan International Cooperation Agency). Mereka di sini dalam rangka menjalankan program pengenalan dan pembentukan tim siaga bencana mandiri berbasis komunitas desa. Fokus mereka sementara ini adalah beberapa desa di sekitar gunung Merapi yang pada erupsi 2010 lalu terkena dampak cukup besar. Tujuan utamanya adalah agar masyarakat di desa2 tersebut memiliki kesadaran dan awareness yang lebih sebagai penduduk kaki gunung dan agar mereka dapat membentuk tim siaga mandiri yang tidak bergantung pada pemerintah untuk take action. Karena--as we know already--kita orang Jawa yang alon2 waton kelakon ini kebanyakan masih bertindak sesuai perintah atasan dan memiliki keawasan yang kurang karena banyak faktor, salah satunya anggapan "nek ncen wes takdire mati yo uwis" tanpa diiringi kegiatan pencegahan. Dan hal ini hanya dua faktor kecil dari banyak hal lain yang menyebabkan masih kurangnya kesiagaan kita sebagai masyarakat yang hidup di negara kepulauan rawan bencana alam ini.
Pada proyek yang direncanakan akan dibangun selama 2 tahun ke depan ini, Tomoyo mengusung kegiatan tim siaga bencana mandiri (selanjutnya disingkat TSBM aja ya) yang berbasis di Kobe, yang dibentuk setelah gempa besar Hanshin-Awaji tahun 1995. Ia menceritakan latar belakang pembentukan tim tersebut, yaitu karena penduduk Kobe kecewa akan ketidakmampuan mereka melindungi diri sendiri dan orang2 yang disayangi akibat ketidaktahuan mereka tentang siaga bencana. Jadi atas kesadaran sendiri, mereka membentuk TSBM di banyak tempat di perfektur Hyogo.
Tim ini melakukan kegiatan tahunan antara lain berbagai macam pelatihan--bukan hanya pelatihan evakuasi, tapi juga latihan pemadaman api, first-aid, pertolongan terhadap orang2 berkebutuhan khusus, latihan memasak di dapur umum tempat evakuasi, dsb. Selain itu mereka juga membuat event2 kerjasama dengan sekolah, seperti memadukan latihan membuat tandu atau estafet ember (untuk saat terjadi kebakaran) dengan acara tahunan festival olahraga sekolah. Ada juga kegiatan pelatihan tim siaga junior, dimana pesertanya adalah anak SD-SMP. Semuanya telah menjadi kegiatan yang terstruktur dan kontinyu dilaksanakan setiap tahun. Berikut ini beberapa foto kegiatan mereka yang kuambil dari slide presentasi Tomoyo. (Semoga nggak masalah ya, anggap saja aku berbagi ilmu =P)
Mereka sangat detail mempersiapkan semuanya. Di rumah masing2 mereka sudah memiliki emergency bag untuk tiap anggota keluarga. Emergency bag ini sudah siap sedia, jadi ketika tiba2 ada gempa atau apapun, mereka tinggal ambil lalu lari. Take and run. Isinya selain benda penting dan berharga (uang, surat2 penting, makanan instan, baju, peluit, senter) juga bisa dimasukkan buku, krayon, foto keluarga, foto pacar, atau apapun yang menurut orang itu dapat membuatnya tetap waras dan kuat untuk terus menjalankan hidup di tempat evakuasi. Menurutku, ini adalah hal yang sangat Njepang sekali. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat desa kaki Merapi, mereka merasa cukup hanya membawa uang secukupnya dan surat2 penting (KK, akte kelahiran, surat nikah, dll) karena toh setelah berada di tempat evakuasi, entah bagaimana caranya mereka pasti akan hidup, saling tolong-menolong dengan yang lain, saling mendukung dengan yang lain, dan bertahan dengan memanjatkan doa, percaya akan adanya pertolongan entah dari mana, harapan bahwa segalanya akan kembali membaik.
Nihonjin, sebaliknya, tanpa kepercayaan apapun yang mendukung kekuatan hati mereka, tanpa ikatan yang begitu kuat antar manusia satu dengan yang lain, menjadi lebih realistis dan bergerak atas dasar pemikiran yang matang. Lahirlah emergency bag berisi persiapan yang sangat lengkap, bahkan sampai benda2 hiburan. Kalau sampai ada yang kurang, mungkin mereka bisa panik. Sebaliknya kita yang sejak awal tidak memiliki standar kesiapan, jadi selalu nerimo. Opo2 nerimo. Yah, ada bagus dan tidaknya tentu saja, alangkah baiknya kalau kita bisa saling belajar dan menutupi kekurangan masing2.
Aku jadi membayangkan, dalam emergency bag Hanamichi Sakuragi (Slam Dunk) pasti ada bola basket dan dalam emergency bag Koyuki (Beck) mungkin ada gitar.
Kemudian, Tomoyo juga menyatakan pentingnya keberanian untuk selalu lebih siaga daripada yang lain. Misalnya dalam keadaan gempa kecil telah terjadi berulang kali di desa kaki gunung, namun status gunung masih waspada (satu tingkat di atas normal) dan belum ada anjuran untuk evakuasi, namun si A sudah merasakan adanya bahaya dan perlu mengajak tetangga2nya untuk mengungsi. Perlu keberanian bagi A untuk itu, karena bisa jadi status gunung tidak akan berubah menjadi siaga (satu tingkat di atas waspada) dan orang2 yang terlanjur mengungsi akan menyalahkannya karena membuat mereka buang2 waktu.
Banyak sekali yang bisa dipelajari. Proyek ini masih akan mereka bangun 2 tahun kedepan, dan aku yakin tidak akan mudah. Dalam kunjungan ke beberapa desa kemarin, aku menyadari banyak perbedaan karakteristik. Desa A perangkat desanya sangat bergantung pada bantuan--mereka bahkan terang2an meminta bantuan (baca: duit) pada Tomoyo dkk karena menurut mereka pembentukan TSBM atau pembuatan emergency bag untuk semua orang butuh duit--sementara menurut mereka, desa mereka miskin. Ketika menerjemahkan bagian itu, aku sebagai sesama orang Indonesia rasanya malu sekali. Dengan agak kesal aku jadi berapi2 mengatakan balasan dari Tomoyo bahwa uang itu bukan masalah selama desa ini masih punya sumber daya manusia. Emergency bag bisa dibuat sendiri, bahkan dari taplak atau karung bekas. Dan pembentukan tim siaga bahkan sudah bukan soal uang lagi, melainkan tenaga muda yang siap belajar. Kalau ingat lagi sekarang, rasanya aku masih kesal. Huh. -_-
Di desa B, Kepala Desa-nya sangat ramah dan kooperatif, sampai rasanya aku pengen nangis. Para pemuda desanya juga--meskipun kelihatannya agak malu2 gengsi buat ikut acara seminar itu karena ada Nihonjin-nya--tetap ikut sampai akhir dan memberikan pendapat2 yang membangun. Demikian pula dengan ibu2 darma wanita yang terlihat antusias mengikuti workshop dan mengeluarkan pendapat saat diperlukan. Desa B ini bahkan kelihatannya lebih tidak mampu dibanding desa A, namun aku bisa melihat bahwa mereka punya semangat untuk belajar. Kami pun pulang dari desa B dengan senyum. Sayang seribu kali sayang, belakangan aku mengetahui bahwa orang2 yang datang ke seminar itu ternyata dapat "amplop". Astaga. Batal deh senangnya. I wonder apakah respon mereka juga akan sebaik itu seandainya di awal nggak dikasih amplop. Ato jangan2 malah nggak ada yang datang. (.__.)
Di desa C, kunjungan kami tidak lama karena terpotong jumatan--yang harus kujelaskan pada mereka bahwa jumatan itu tidak bisa ditinggal, harus dilakukan pada waktu itu juga--sehingga kami hanya sedikit berdiskusi, bukan melakukan seminar-workshop seperti di desa A dan B. Meskipun begitu, desa C sepertinya sudah memiliki kesadaran yang cukup tinggi, karena setidaknya perangkat desanya sudah tahu cukup banyak tentang kesiagaan bencana, tinggal bagaimana caranya agar penduduk desa yang amatir dan nggak minat pun memiliki kesiagaan yang sama.
Terakhir adalah desa D, yang menurutku paling stands out di antara yang lain. Desa D ini tidak hanya sudah memiliki TSBM terstruktur beserta latihan2 tahunannya, mereka juga sudah membuat tim junior dan mendirikan jaringan radio pendidikan siaga bencana untuk segala umur. Selain itu, aku bisa melihat bahwa mereka masih ingin belajar lagi, masih ingin menjadi lebih baik lagi. Senang sekali rasanya bertemu dengan Pak S (bukan bermaksud pake inisial, aku memang lupa namanya, pokoknya huruf depannya S) yang sangat cerdas dan inovatif menjadi otak dalam setiap kegiatan siaga bencana desa ini. Masalah mereka saat ini cuma satu, yaitu sepertinya semua orang masih terlalu bergantung pada Pak S, sehingga selain Pak S, yang lainnya menjadi kurang kreatif dan cenderung ingin ngikut aja. Tapi nggak apa2, they already have a good start, ke depannya pasti akan baik2 saja.
Bagiku pribadi, kunjungan ke desa2 ini pun merupakan pelajaran. Desa D--yang paling siap dan semangat penduduknya--adalah desa yang paling dekat dengan Merapi. Sementara desa A adalah yang paling jauh (dari keempat desa itu). Aku jadi menyimpulkan teori kasar bahwa semakin sulit keadaannya mungkin justru semakin besar semangatnya. Mutu mental manusia memang tidak didapatkan dengan instan. Ada proses pembangunan yang berkelanjutan, yang melibatkan banyak situasi, kondisi, lingkungan, dan orang lain. Tentunya kita sebagai manusia yang hidup di negara berkembang multikultur ini telah terjebak dalam banyak sekali situasi yang membuat kita harus belajar terus, membuka pikiran terus, agar tidak menjadi seragam. Agar tidak mampet kreatifitasnya. Agar tidak mundur kemampuan berpikirnya. Agar terbangun dengan baik harga dirinya.
Aku sangat bersyukur atas kesempatan ini. Semoga untuk selanjutnya pun akan banyak kesempatan belajar lain yang datang.
Dan jangan lupa untuk terus siap siaga. Terhadap apapun. =)
Salam hangat dan selamat berakhir pekan. =)
Belum lama ini aku mendapat pengalaman baru yang cukup berharga dan ingin kuceritakan sedikit.
Jadi belum lama ini aku dapat tawaran kerjaan menjadi penerjemah orang Jepang (selanjutnya akan kutulis Nihonjin) yang sedang melakukan penelitian di Jogja. Kontrak kerjanya cuma seminggu, jadi kuambil aja, itung2 dapat duit tambahan.
Kali itu adalah pertama kalinya aku menjadi penerjemah, secara profesional. Memang, aku sudah beberapa kali menemani Nihonjin dalam berbagai kesempatan, tapi ini pertama kalinya aku melakukannya sebagai sebuah pekerjaan. Biasanya sih cuma--uhuk--volunteer seadanya yang kadang dialog2nya sudah dipersiapkan dalam naskah lebih dulu, jadi aku tinggal cuap2 sesuai naskahnya. Tapi kali ini berbeda. Selama 6 hari penuh dari pagi sampai sore, otakku rasanya tak berhenti bekerja mengalihkan bahasa Jepang-Indonesia dan sebaliknya. Kadang2 malah harus switch ke bahasa Inggris juga gara2 bahasa Jepang-ku yang pas2an. Benar2 sebuah pencapaian lah pokoknya, capek banget. Tapi jelas pengalaman dan pelajaran yang berharga.
Nihonjin yang kutemani kemarin ada 3 orang; 1 perempuan muda bernama Marie, 1 bibi2 cantik bernama Tomoyo, dan 1 kakek (dibilang kakek juga, masih terlihat bugar kok) bernama Junichi. Marie dan Junichi mewakili sebuah stasiun radio di Kobe, dan Tomoyo adalah kepala bagian Disaster Management di JICA (Japan International Cooperation Agency). Mereka di sini dalam rangka menjalankan program pengenalan dan pembentukan tim siaga bencana mandiri berbasis komunitas desa. Fokus mereka sementara ini adalah beberapa desa di sekitar gunung Merapi yang pada erupsi 2010 lalu terkena dampak cukup besar. Tujuan utamanya adalah agar masyarakat di desa2 tersebut memiliki kesadaran dan awareness yang lebih sebagai penduduk kaki gunung dan agar mereka dapat membentuk tim siaga mandiri yang tidak bergantung pada pemerintah untuk take action. Karena--as we know already--kita orang Jawa yang alon2 waton kelakon ini kebanyakan masih bertindak sesuai perintah atasan dan memiliki keawasan yang kurang karena banyak faktor, salah satunya anggapan "nek ncen wes takdire mati yo uwis" tanpa diiringi kegiatan pencegahan. Dan hal ini hanya dua faktor kecil dari banyak hal lain yang menyebabkan masih kurangnya kesiagaan kita sebagai masyarakat yang hidup di negara kepulauan rawan bencana alam ini.
Pada proyek yang direncanakan akan dibangun selama 2 tahun ke depan ini, Tomoyo mengusung kegiatan tim siaga bencana mandiri (selanjutnya disingkat TSBM aja ya) yang berbasis di Kobe, yang dibentuk setelah gempa besar Hanshin-Awaji tahun 1995. Ia menceritakan latar belakang pembentukan tim tersebut, yaitu karena penduduk Kobe kecewa akan ketidakmampuan mereka melindungi diri sendiri dan orang2 yang disayangi akibat ketidaktahuan mereka tentang siaga bencana. Jadi atas kesadaran sendiri, mereka membentuk TSBM di banyak tempat di perfektur Hyogo.
Tim ini melakukan kegiatan tahunan antara lain berbagai macam pelatihan--bukan hanya pelatihan evakuasi, tapi juga latihan pemadaman api, first-aid, pertolongan terhadap orang2 berkebutuhan khusus, latihan memasak di dapur umum tempat evakuasi, dsb. Selain itu mereka juga membuat event2 kerjasama dengan sekolah, seperti memadukan latihan membuat tandu atau estafet ember (untuk saat terjadi kebakaran) dengan acara tahunan festival olahraga sekolah. Ada juga kegiatan pelatihan tim siaga junior, dimana pesertanya adalah anak SD-SMP. Semuanya telah menjadi kegiatan yang terstruktur dan kontinyu dilaksanakan setiap tahun. Berikut ini beberapa foto kegiatan mereka yang kuambil dari slide presentasi Tomoyo. (Semoga nggak masalah ya, anggap saja aku berbagi ilmu =P)
![]() |
| Latihan pertolongan pertama |
![]() |
| Latihan tali-menali. Yang ikut anak2 dan lansia. Haha |
![]() |
| Tempat penyimpanan barang2 keperluan evakuasi milik bersama (sekop, ember, dll). Kalo di sini mungkin udah dijebol orang. |
![]() |
| Latihan menginap di tempat evakuasi. Aku tau apa yang kau pikirkan: tempat evakuasinya bagus banget -_- |
![]() |
| Latihan evakuasi khusus untuk lansia |
![]() |
| Latihan memadamkan api dalam acara festival olahraga |
![]() |
| Latihan evakuasi sambil membawa tandu |
![]() |
| Latihan pernafasan buatan |
![]() |
| Latihan penyelamatan orang2 berkebutuhan khusus |
![]() |
| Latihan membuat tandu lalu dilombakan dalam festival olahraga |
![]() |
| Peresmian Tim Siaga Junior |
![]() |
| Lomba cepet2an memilih benda yang tepat untuk dimasukkan dalam emergency bag |
Mereka sangat detail mempersiapkan semuanya. Di rumah masing2 mereka sudah memiliki emergency bag untuk tiap anggota keluarga. Emergency bag ini sudah siap sedia, jadi ketika tiba2 ada gempa atau apapun, mereka tinggal ambil lalu lari. Take and run. Isinya selain benda penting dan berharga (uang, surat2 penting, makanan instan, baju, peluit, senter) juga bisa dimasukkan buku, krayon, foto keluarga, foto pacar, atau apapun yang menurut orang itu dapat membuatnya tetap waras dan kuat untuk terus menjalankan hidup di tempat evakuasi. Menurutku, ini adalah hal yang sangat Njepang sekali. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat desa kaki Merapi, mereka merasa cukup hanya membawa uang secukupnya dan surat2 penting (KK, akte kelahiran, surat nikah, dll) karena toh setelah berada di tempat evakuasi, entah bagaimana caranya mereka pasti akan hidup, saling tolong-menolong dengan yang lain, saling mendukung dengan yang lain, dan bertahan dengan memanjatkan doa, percaya akan adanya pertolongan entah dari mana, harapan bahwa segalanya akan kembali membaik.
Nihonjin, sebaliknya, tanpa kepercayaan apapun yang mendukung kekuatan hati mereka, tanpa ikatan yang begitu kuat antar manusia satu dengan yang lain, menjadi lebih realistis dan bergerak atas dasar pemikiran yang matang. Lahirlah emergency bag berisi persiapan yang sangat lengkap, bahkan sampai benda2 hiburan. Kalau sampai ada yang kurang, mungkin mereka bisa panik. Sebaliknya kita yang sejak awal tidak memiliki standar kesiapan, jadi selalu nerimo. Opo2 nerimo. Yah, ada bagus dan tidaknya tentu saja, alangkah baiknya kalau kita bisa saling belajar dan menutupi kekurangan masing2.
Aku jadi membayangkan, dalam emergency bag Hanamichi Sakuragi (Slam Dunk) pasti ada bola basket dan dalam emergency bag Koyuki (Beck) mungkin ada gitar.
Kemudian, Tomoyo juga menyatakan pentingnya keberanian untuk selalu lebih siaga daripada yang lain. Misalnya dalam keadaan gempa kecil telah terjadi berulang kali di desa kaki gunung, namun status gunung masih waspada (satu tingkat di atas normal) dan belum ada anjuran untuk evakuasi, namun si A sudah merasakan adanya bahaya dan perlu mengajak tetangga2nya untuk mengungsi. Perlu keberanian bagi A untuk itu, karena bisa jadi status gunung tidak akan berubah menjadi siaga (satu tingkat di atas waspada) dan orang2 yang terlanjur mengungsi akan menyalahkannya karena membuat mereka buang2 waktu.
Banyak sekali yang bisa dipelajari. Proyek ini masih akan mereka bangun 2 tahun kedepan, dan aku yakin tidak akan mudah. Dalam kunjungan ke beberapa desa kemarin, aku menyadari banyak perbedaan karakteristik. Desa A perangkat desanya sangat bergantung pada bantuan--mereka bahkan terang2an meminta bantuan (baca: duit) pada Tomoyo dkk karena menurut mereka pembentukan TSBM atau pembuatan emergency bag untuk semua orang butuh duit--sementara menurut mereka, desa mereka miskin. Ketika menerjemahkan bagian itu, aku sebagai sesama orang Indonesia rasanya malu sekali. Dengan agak kesal aku jadi berapi2 mengatakan balasan dari Tomoyo bahwa uang itu bukan masalah selama desa ini masih punya sumber daya manusia. Emergency bag bisa dibuat sendiri, bahkan dari taplak atau karung bekas. Dan pembentukan tim siaga bahkan sudah bukan soal uang lagi, melainkan tenaga muda yang siap belajar. Kalau ingat lagi sekarang, rasanya aku masih kesal. Huh. -_-
Di desa B, Kepala Desa-nya sangat ramah dan kooperatif, sampai rasanya aku pengen nangis. Para pemuda desanya juga--meskipun kelihatannya agak malu2 gengsi buat ikut acara seminar itu karena ada Nihonjin-nya--tetap ikut sampai akhir dan memberikan pendapat2 yang membangun. Demikian pula dengan ibu2 darma wanita yang terlihat antusias mengikuti workshop dan mengeluarkan pendapat saat diperlukan. Desa B ini bahkan kelihatannya lebih tidak mampu dibanding desa A, namun aku bisa melihat bahwa mereka punya semangat untuk belajar. Kami pun pulang dari desa B dengan senyum. Sayang seribu kali sayang, belakangan aku mengetahui bahwa orang2 yang datang ke seminar itu ternyata dapat "amplop". Astaga. Batal deh senangnya. I wonder apakah respon mereka juga akan sebaik itu seandainya di awal nggak dikasih amplop. Ato jangan2 malah nggak ada yang datang. (.__.)
Di desa C, kunjungan kami tidak lama karena terpotong jumatan--yang harus kujelaskan pada mereka bahwa jumatan itu tidak bisa ditinggal, harus dilakukan pada waktu itu juga--sehingga kami hanya sedikit berdiskusi, bukan melakukan seminar-workshop seperti di desa A dan B. Meskipun begitu, desa C sepertinya sudah memiliki kesadaran yang cukup tinggi, karena setidaknya perangkat desanya sudah tahu cukup banyak tentang kesiagaan bencana, tinggal bagaimana caranya agar penduduk desa yang amatir dan nggak minat pun memiliki kesiagaan yang sama.
Terakhir adalah desa D, yang menurutku paling stands out di antara yang lain. Desa D ini tidak hanya sudah memiliki TSBM terstruktur beserta latihan2 tahunannya, mereka juga sudah membuat tim junior dan mendirikan jaringan radio pendidikan siaga bencana untuk segala umur. Selain itu, aku bisa melihat bahwa mereka masih ingin belajar lagi, masih ingin menjadi lebih baik lagi. Senang sekali rasanya bertemu dengan Pak S (bukan bermaksud pake inisial, aku memang lupa namanya, pokoknya huruf depannya S) yang sangat cerdas dan inovatif menjadi otak dalam setiap kegiatan siaga bencana desa ini. Masalah mereka saat ini cuma satu, yaitu sepertinya semua orang masih terlalu bergantung pada Pak S, sehingga selain Pak S, yang lainnya menjadi kurang kreatif dan cenderung ingin ngikut aja. Tapi nggak apa2, they already have a good start, ke depannya pasti akan baik2 saja.
Bagiku pribadi, kunjungan ke desa2 ini pun merupakan pelajaran. Desa D--yang paling siap dan semangat penduduknya--adalah desa yang paling dekat dengan Merapi. Sementara desa A adalah yang paling jauh (dari keempat desa itu). Aku jadi menyimpulkan teori kasar bahwa semakin sulit keadaannya mungkin justru semakin besar semangatnya. Mutu mental manusia memang tidak didapatkan dengan instan. Ada proses pembangunan yang berkelanjutan, yang melibatkan banyak situasi, kondisi, lingkungan, dan orang lain. Tentunya kita sebagai manusia yang hidup di negara berkembang multikultur ini telah terjebak dalam banyak sekali situasi yang membuat kita harus belajar terus, membuka pikiran terus, agar tidak menjadi seragam. Agar tidak mampet kreatifitasnya. Agar tidak mundur kemampuan berpikirnya. Agar terbangun dengan baik harga dirinya.
Aku sangat bersyukur atas kesempatan ini. Semoga untuk selanjutnya pun akan banyak kesempatan belajar lain yang datang.
Dan jangan lupa untuk terus siap siaga. Terhadap apapun. =)
Salam hangat dan selamat berakhir pekan. =)
November 08, 2012
Finally, Japan! -Part 1-
Halo!
Long time no see! =D
Menyusul kumpulan foto sekenanya yang sudah aku share lebih dulu di facebook, kali ini aku ingin sedikit (atau banyak? entahlah, kita lihat saja nanti) bercerita tentang pengalaman pertamaku pergi ke (salah satu) negara impian yang ingin kukunjungi, Jepang. Sebisa mungkin, aku akan menyantumkan foto dan video yang aku (kami) potret dan rekam sendiri. Tapi mohon maaf sebelumnya, karena aku kurang suka foto2, jadi aku sering kali lupa menangkap momen/pemandangan memorable dengan kameraku. Aku sih nggak keberatan, selama semua itu masih bisa terekam dalam ingatanku. Semoga saja kekuatan deskripsiku cukup kuat untuk membantu kalian membayangkan apa yang sebenarnya ingin kusampaikan. Selain menceritakan hal2 yang kulihat, tentu saja akan banyak bumbu2 pendapat pribadi dan subjektivitas. Harap maklum, namanya juga anak muda (apasih).
Perlu diketahui sebelumnya, bahwa alasanku ke Negeri Matahari Terbit itu bukan sesuatu yang terdengar menjanjikan dan bersahaja(?) seperti dapat beasiswa atau ikut seminar atau kegiatan bersifat akademik lain, seperti yang biasanya dilakukan teman2 sastra jepang yang berprestasi. Aku pergi dengan biaya (orang tua) sendiri (alhamdulillah) setelah sebelumnya diajak oleh Azam--teman seperjuangan seperguruan--yang sebelumnya diajak oleh band indie-pop kece asal Jogja, Brilliant at Breakfast (selanjutnya akan disebut Brilliant, karena kalau disingkat menggunakan huruf awal masing2 kata, akan menjadi singkatan yang kurang menyenangkan), yang direncanakan akan tampil live di dua tempat di Tokyo. Diharapakan kami--aku dan Azam--yang notabene mahasiswa pembelajar bahasa Jepang (yang sebenarnya masih sangat payah) ini dapat membantu mereka selama di sana dalam hal komunikasi dan menjadi guide terutama untuk urusan membaca peta jalur transportasi--yang ternyata sebagian besar memang tertulis dalam huruf kanji.
Kami berangkat dari Jakarta tanggal 17 mruput--jam 6 pagi--lalu transit di Kuala Lumpur. Setelah kurang lebih 6 jam yang membosankan akibat suasana "bilik menunggu keberangkatan antarabangsa" yang sumpek sempit rame dengan toko dan pemandangan yang itu2 saja, akhirnya kami dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan menuju Haneda yang memakan waktu sekitar 7 jam (kalo nggak salah ingat). Berikut ini beberapa foto menarik di bandara Kuala Lumpur.
Kala itu adalah pertama kalinya aku naik pesawat Air Asia (bukan berarti biasanya selalu naik Garuda ya, bukan). Ternyata memang sempit dan sekenanya. Apa boleh buat, ada rupa ada harga. Udah alhamdulillah bisa dapet tiket murah, yang penting sampai dengan selamat. Toh sebagian besar waktuku dalam pesawat habis buat tidur.
Duduk di sebelahku waktu itu adalah seorang ojii-san (kakek2 jepang) yang selama sepertiga perjalanan tak berkata sepatah pun. Lalu ketika tiba waktu pramugari membawa kereta dorong berisi makanan, ojii-san itu memesan sebotol minuman yang terlihat mencurigakan. Benar saja, ketika aku sedang menikmati nasi lemak (dari namanya terbayang kelemakannya--halah) si ojii-san itu tiba2 ngajakin aku ngobrol geje pake bahasa Jepang. Aku pun menanggapinya sekenanya karena aku tahu ojii-san itu pasti sedang berada dalam pengaruh minuman beralkohol. Biar kukasih tahu sesuatu, ada anggapan umum bahwa orang Jepang (yang asli, benar2 njepang, belum pernah ke luar negeri, dan jarang bersentuhan dengan orang asing) biasanya tidak mudah berbicara ramah sok akrab dengan orang asing dan baru bisa membuka diri/berbicara banyak setelah mereka minum. Nggak kayak orang Indonesia, yang tanpa perlu minum aja udah pada "mabok", sapa sana-sini ngajak ngobrol sok kenal--namanya aja belum tahu, udah tahu pernah pacaran berapa kali. Generally, orang Indonesia memang lebih "ramah" daripada orang Jepang. Ada bagus-nggak nya sih. Aku pribadi nggak begitu suka kalau harus beramah-tamah dengan orang yang nggak aku kenal. Sudah kenal pun, kalau nggak sedang ada urusan penting, malas juga berurusan. Mungkin bagi orang Jawa aku ini orang yang sombong sekali, tapi ya, sudahlah, semoga saja bagaimanapun sifatku, aku masih bisa menempatkan diri dengan baik.
Setelah sisa perjalanan yang kurang nyaman karena terus2an diajak ngobrol sama ojii-san mabok, alhamdulillah akhirnya pesawat mendarat di Bandara Internasional Haneda, Tokyo. Langit gulita di luar tak menunjukkan tanda2 kehidupan, namun gemerlap warna-warni lampu yang menghiasi pemandangan sejauh mata memandang di bawahnya menunjukkan bahwa Tokyo adalah kota yang tak pernah tidur.
Surprisingly, malam itu Mikiko dan Kazu, bassis dan gitaris band super kece Texas Pandaa--yang juga akan tampil live bareng Brilliant--ternyata waza2 menjemput kami dan bahkan menemani kami menginap di bandara karena kereta terakhir udah nggak ada. Mengharukan sekali ='). Pada akhirnya kami nggak tidur karena ngobrol semalaman. Kazu ngajak kami ke convenient store ala Jepang (untuk selanjutnya akan disebut konbini, karena memang itu bahasa jepangnya) yang kalo di Indonesia mungkin semacam CircleK ato Indomaret tapi lebih macem2 isinya. Kami tidak bisa menahan ke-ndeso-an khas indonesia kami di konbini-super-kece-penuh-benda2-yang-baru-pertama-kali-kami-lihat itu, sampai Kazu terheran2 "This is only convenient store!" katanya sambil ketawa2. No, it's not the same, dude. We don't see that many variations of onigiri and other bento whatsoever, so pardon us but we couldn't help it. Di sana, untuk pertama kalinya aku membeli onigiri dan "Royal" milk tea manstab.
Setelah semalaman ngobrol ngalor-ngidul pake bahasa campur2 nggak karuan, akhirnya kami berangkat naik subway pertama keesokan harinya, sekitar jam 5 mruput--kalo nggak salah ingat. Semenjak menginjakkan kaki di negeri yang sudah lama aku mimpikan itu, entah kenapa aku tidak merasa se-excited yang kubayangkan sebelumnya. Kecuali macam2 onigiri yang menarik perhatianku di konbini tadi (pasti kalian pada mikir, yappari sarah tertariknya sama makanan muluk), aku tidak merasakan kegirangan yang sama terhadap suhu musim gugur yang kira2 kayak di Kaliurang, toilet bandara--WC-nya dilengkapi dengan banyak tombol yang sangat memanjakan, mesin tiket kereta--tinggal pencet sana-sini masukin duit tiketnya keluar, subway kece yang berjalan mulus di atas rel, maupun pemandangan kota penuh reklame bertuliskan huruf Jepang di sepanjang jalan. Setelah kupikir2, mungkin itu karena aku sudah mempelajari tentang Jepang selama kurang lebih 4 tahun dan melihat pemandangan2 itu melalui manga,anime, dan dorama. Selain itu aku juga merasa sangat capek. Mungkin perjalanan kami memakan waktu terlalu lama sampai excitement-ku habis tergerus rasa lelah. Begitu sampai di penginapan pun, aku langsung mandi terus tidur. Kami menginap di Hotel Empire di Shinjuku, by the way. Jangan salah, namanya memang meyakinkan, tapi itu bukan hotel bintang lima, meskipun tetap agak kelewat kece untuk pelancong muda kere macam kami--dilengkapi penghangat ruangan, TV, kulkas, kamar mandi dalam+peralatan mandi, dan cleaning service setiap hari. Alhamdulillah. Berikut ini pemandangan dari jendela kamar kami. Di luar sering ada gagak hitam besar seliweran, sayangnya nggak tertangkap kamera.
Setelah sesiangan tidur, sorenya kami menuju venue gig pertama di Koenji High, Shinjuku. Acaranya sih mulai jam 7 malam, tapi Brilliant--beserta band2 lain yang akan tampil--harus datang untuk check sound dulu. Kami berangkat bersama Nadehiko, om2 super kece (beneran kece deh) drummer Texas Pandaa, dan Hiro, salah satu teman dari Togaidai (Tokyo University of Foreign Studies) yang pernah berguru di Indonesia. Hiro udah jago banget bahasa Indonesianya, jadi aku nggak perlu (dan nggak mau =P) repot2 pake bahasa Jepang kalo ngomong sama dia.
Koenji High adalah live house yang sangat menyenangkan. Tempatnya nggak terlalu besar dan suasananya sangat cozy. Cuma ada panggung, space kosong di bawahnya buat penonton lonjak2 (nggak, nggak ada kursi), bar di belakangnya, toilet di sebelah kiri bar, dan sound operating system di sebelah kanannya. Ada tangga ke atas, tapi di atas cuma ada sebuah ruangan kecil untuk tempat performer siap2. Kami membeli makanan di konbini terdekat (aku lagi2 beli onigiri) lalu makan malam di situ. Sayang sekali aku nggak foto2 di sini, karena sibuk ngeliatin check sound para band. Check sound nya pun sangat menjanjikan, karena bener2 di-cek satu2 kualitas suara yang keluar dari masing2 alat musik dan mic. Walhasil suara yang dikeluarkan pun memuaskan.
Menjelang malam, mood-ku benar2 sudah kembali. Seperti mendapat suntikan semangat baru entah dari mana, mungkin dari suasana sekeliling saat itu dan check sound band2 yang akan tampil yang semuanya keren2 (serius keren, bukan basa-basi--karena aku nggak suka basa-basi), excitement yang tadinya menghilang telah merasukiku lagi. Girang sekali rasanya kembali menjadi diri sendiri.
Jam 7--beneran jam 7, nggak molor dan penonton memang sudah berdatangan--acara dimulai. Acara dibuka oleh 4 Bonjour's Parties, band dengan banyak personel yang memainkan macam2 alat musik seperti--selain instrumen band biasanya--xylophone, glockenspiel, brass instrument yang seingatku nggak cuma satu macam, dan biola--yang dimainkan pake efek. (bagi yang have no idea aku ngemeng epeh di kalimat barusan, monggo buka google di tab sebelah) Seakan belum cukup keren, selama tampil beberapa personel saling bergantian memainkan alat musik mereka. Mas2 pemain keyboard gantian sama gitarisnya, yang lalu gantian sama pemain xylophone. Aku bahkan nggak ingat siapa aja dari mereka yang gantian main xylophone. Jangan2 semuanya bisa. Vokalisnya ada dua mbak2 kawaii dengan suara manis menggemaskan. Di depan mereka ada meja tempat meletakkan macam2 alat musik kecil2--misalnya beberapa jenis kecrekan, glockenspiel, dan instrumen kotak lucu warna-warni mirip pianika yang aku nggak tahu namanya. Musik yang mereka mainkan sangat manis dan menyenangkan, kayak loncat2 naik-turun di tangga yang disiram pelangi. Keren banget. Sangar. Sumpah. Berikut ini video salah satu lagu yang mereka mainkan. Aku yang merekam pakai iPad (ibunya) Azam, dan terima kasih banyak buat Azam yang sudah upload di youtube =D.
Selanjutnya adalah Bertoia, band shoegaze yang kata Azam sangat terasa japanese shoegaze-nya. Bagus, tentu saja, but to be honest tidak terlalu menarik perhatianku, jadi nggak kuceritakan lebih lanjut (->>seenaknya =P). Berikut ini salah satu video live mereka malam itu.
Setelah itu adalah band alternative rock beranggotakan 3 orang (gitar/vokal, bass/vokal perempuan, dan drum) yang menurutku musiknya mirip2 musik band2 Amerika, Honeydew. Mas2 gitaris/vokalisnya terlihat sangat muda dan imut. Tadinya kukira dia anak SMA, tapi ternyata dia dan bassis/vokalisnya adalah pasangan suami-istri! Uapah?? Kaget banget..memang don't judge book by its cover ya. Hahaha. Di luar dugaan juga, mereka memainkan musik yang cukup cadas. Gitarnya terutama, keren banget, rasanya kayak tersedot. Aku sangat menikmati penampilan mereka. Hal yang kusadari waktu itu adalah pada penampilan kedua band sebelumnya, penontonnya lumayan anteng, tapi waktu Honeydew tampil, orang2 yang random mulai bermunculan. Ada beberapa orang asing (dalam konteks ini, tentu saja orang asing berarti non-japanese dan non-indonesian), dan pasangan bapak2 dan ibu2 yang terlihat sangat khidmat menikmati entakan musik. Aku mulai mendengar teriakan2 penyemangat yang sebelumnya tidak kudengar. Suasana pun sudah lebih memanas ketika akhirnya Brilliant tampil setelah Honeydew. Berikut video salah satu penampilan Honeydew malam itu.
Jujur saja ini juga pertama kalinya aku nonton Brilliant secara live. Ternyata Eka (bass/vokal) gemar sekali menyelipkan narasi di awal dan di antara lagu2nya. Nggak apa2 sih, cuma aku agak ragu para penontonnya ngerti, soalnya dia ngomong pake bahasa Inggris..haha. Musik mereka juga manis dan menyenangkan, rasanya kayak lari2 kecil di padang lavender sambil meniup gelembung sabun, atau sepedaan di jalan2 sempit sambil menyapa semua makhluk hidup yang ditemui. Oke entah apakah perasaan2 itu bisa dimengerti, pokoknya aku ngerasa kayak gitu. Hahaha. Berikut ini adalah, bukan salah satu, tapi video penampilan Brilliant full dari depan sampai selesai total 39 menit. Aku sengaja merekamnya tanpa cut, biar narasinya Eka juga terekam semua. Kalau malas liat karena kepanjangan ya nggak usah di-klik.
Ketika mereka selesai tampil dan menerima respon penonton yang tidak kalah meriah dengan band2 lain, aku pun merasa ikut senang dan bangga. You rock, Brilliant! XD
Kemudian, tibalah saatnya Texas Pandaa menutup parade malam itu dengan penampilan yang fascinating seperti biasanya. Aku selalu suka dengan live mereka (padahal baru nonton langsung dua kali =P) karena nuansanya membuatku terlena khidmat, menenangkan. Rasanya seperti melamun di bawah pohon besar teduh di tengah2 padang rumput yang luas, sendirian, tanpa perlu memikirkan apa2. Berikut ini salah satu video penampilan mereka malam itu.
Ngomong2, entah kenapa aku merasa Asako (gitar/vokal) terlihat jauh lebih cantik daripada pertemuan terakhir kami tahun lalu. Mungkin karena dia baru saja punya anak? Entahlah, yang jelas badannya nggak kayak habis melahirkan. Hahaha. Mikiko (bass/vokal) juga manisss banget s-nya tiga. Kalo berdiri di sampingnya, aku berasa kayak TKW salah tempat. Dan yang jelas, Nadehiko (drum) dan Kazu (gitar) tetap dua om2 paling kece di panggung itu malam itu. Sedikit tambahan yang rada nggak nyambung, menurutku cowok Jepang yang masih muda (25 ke bawah) itu rada kelewat oshare--suka dandan/metroseksual/sangat memperhatikan penampilan dan entah kenapa cengkring2 (banget). Dengan kata lain, kurang macho. Nggak semuanya gitu sih, tapi sebagian besar yang kuamati di beberapa tempat umum sih gitu. Jadi aku biasanya lebih tertarik dengan yang sepertinya sudah lebih berumur, yang di wajahnya sudah ada hiasan2 kedewasaan (ceileh).
Setelah Texas Pandaa tampil, acara resmi ditutup. Sebagian penonton pulang, ada yang masih minum2 sambil ngobrol, ada yang beli CD dan T-shirt dari masing2 band penampil, dan ada juga yang jalan sana-sini kayak orang bingung sambil sesekali sok akrab nyapain orang2, yaitu saya. Seperti sudah diduga sebelumnya, setelah acara selesai akan ada party kecil2an, yang dalam budaya Jepang biasa disebut nomikai (nomi=minum, kai=pertemuan/perkumpulan) dimana orang2 yang sebelumnya telah bekerja bersama lalu bersantai sambil minum. Menurut kode etik tak tertulis, akan menjadi kurang sopan apabila kita--sebagai pihak yang juga ikut meramaikan acara--tidak ikut serta. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan kami takut ketinggalan kereta terakhir, jadilah kami membagi dua grup; grup yang pulang ngejar kereta dan grup yang tinggal untuk ikut nomikai. Karena (yang dianggap sebagai) guide (yang sebenarnya sangat payah) cuma aku dan Azam (padahal ada Hiro), jadi kami berpisah. Aku, Hiro, dan hampir semua anggota band pulang, meninggalkan Azam, Arkham (manajer Brilliant) dan Eka untuk menjadi bagian dalam salah satu ajang sosialisasi masyarakat Jepang itu.
Sepanjang perjalanan kami pulang malam itu, aku menyadari beberapa hal. Menurut pandanganku, suasana terasa lebih "hidup" ketika malam hari. Ketika pagi hari setiap kami pergi naik kereta, aku hanya melihat orang2 berangkat kerja yang terlihat bosan dan ngantuk, nggak semangat. Tapi pada malam hari, kita bisa menemukan gerombolan gadis menor cekakak-cekikik di pinggir jalan, cowok2 muda nongkrong geje di depan konbini sambil minum, bapak2 salaryman kelewat mabok sampai nggak bisa jalan, sampai pasangan yang terlihat sangat asik asoy geboy di dalam kereta.
Oh ya, salary man. Salary man--atau pegawai perusahaan--adalah (sepertinya) pekerjaan yang sangat umum di Jepang. Mereka ada buanyak sekali, nyaris di mana2. Biasanya mereka selalu terlihat mengenakan setelan jas hitam+kemeja putih+dasi dan selalu seliweran di stasiun pada pagi hari--bikin rush hour--dan sering terlihat dalam keadaan mabok di stasiun pada malam harinya. Mungkin tikngkat kepopuleran salary man di Jepang sama seperti PNS di Indonesia, tapi tetap dua pekerjaan yang berbeda. Salary man (setahuku) dituntut untuk memiliki kesetiaan terhadap perusahaan tempatnya bekerja, sedemikian rupa hingga menimbulkan tekanan tersendiri bagi mereka. Entah apa benar begitu atau aku hanya sok tahu setelah melihat sampel yang tidak terlalu banyak juga, hanya Tuhan dan para salary man yang tahu.
Daan seperti itulah malam pertama kami di Jepang berakhir. Antusiasme baru yang menyenangkan mengantarkanku sampai terlelap tanpa mimpi sama sekali. =)
Dan aku baru saja memutuskan untuk membagi ceritaku menjadi entah berapa bagian, lihat saja besok (->seenaknya =P). Masih ada cerita tentang gig ke-2 di Shibuya, jalan2 ke Hiroshima, Kyoto, dan hari terakhir di Tokyo sebelum pulang ke Indonesia. Nantikan kisah selanjutnya ya! Tetap di Sumur Timba! (macam pembawa acara reality show garing)
good night and see you!
=D
Long time no see! =D
Menyusul kumpulan foto sekenanya yang sudah aku share lebih dulu di facebook, kali ini aku ingin sedikit (atau banyak? entahlah, kita lihat saja nanti) bercerita tentang pengalaman pertamaku pergi ke (salah satu) negara impian yang ingin kukunjungi, Jepang. Sebisa mungkin, aku akan menyantumkan foto dan video yang aku (kami) potret dan rekam sendiri. Tapi mohon maaf sebelumnya, karena aku kurang suka foto2, jadi aku sering kali lupa menangkap momen/pemandangan memorable dengan kameraku. Aku sih nggak keberatan, selama semua itu masih bisa terekam dalam ingatanku. Semoga saja kekuatan deskripsiku cukup kuat untuk membantu kalian membayangkan apa yang sebenarnya ingin kusampaikan. Selain menceritakan hal2 yang kulihat, tentu saja akan banyak bumbu2 pendapat pribadi dan subjektivitas. Harap maklum, namanya juga anak muda (apasih).
Perlu diketahui sebelumnya, bahwa alasanku ke Negeri Matahari Terbit itu bukan sesuatu yang terdengar menjanjikan dan bersahaja(?) seperti dapat beasiswa atau ikut seminar atau kegiatan bersifat akademik lain, seperti yang biasanya dilakukan teman2 sastra jepang yang berprestasi. Aku pergi dengan biaya (orang tua) sendiri (alhamdulillah) setelah sebelumnya diajak oleh Azam--teman seperjuangan seperguruan--yang sebelumnya diajak oleh band indie-pop kece asal Jogja, Brilliant at Breakfast (selanjutnya akan disebut Brilliant, karena kalau disingkat menggunakan huruf awal masing2 kata, akan menjadi singkatan yang kurang menyenangkan), yang direncanakan akan tampil live di dua tempat di Tokyo. Diharapakan kami--aku dan Azam--yang notabene mahasiswa pembelajar bahasa Jepang (yang sebenarnya masih sangat payah) ini dapat membantu mereka selama di sana dalam hal komunikasi dan menjadi guide terutama untuk urusan membaca peta jalur transportasi--yang ternyata sebagian besar memang tertulis dalam huruf kanji.
Kami berangkat dari Jakarta tanggal 17 mruput--jam 6 pagi--lalu transit di Kuala Lumpur. Setelah kurang lebih 6 jam yang membosankan akibat suasana "bilik menunggu keberangkatan antarabangsa" yang sumpek sempit rame dengan toko dan pemandangan yang itu2 saja, akhirnya kami dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan menuju Haneda yang memakan waktu sekitar 7 jam (kalo nggak salah ingat). Berikut ini beberapa foto menarik di bandara Kuala Lumpur.
| air mineral yang kubeli di bandara KL. "Setiap tetesan Alla Fonte menjana saya ke cabaran F1..." hahaha ngemeng epeh |
| ini luar biasa bombastis: Special waiting room = Bilik menunggu khas. lololol. |
| tempatku beli sarapan. aku beli "mie mamak". rasanya sangat Malay. |
| suasana terminal tempat kami menunggu saat itu. ruame bianget kayak terminal giwangan -_- |
Kala itu adalah pertama kalinya aku naik pesawat Air Asia (bukan berarti biasanya selalu naik Garuda ya, bukan). Ternyata memang sempit dan sekenanya. Apa boleh buat, ada rupa ada harga. Udah alhamdulillah bisa dapet tiket murah, yang penting sampai dengan selamat. Toh sebagian besar waktuku dalam pesawat habis buat tidur.
Duduk di sebelahku waktu itu adalah seorang ojii-san (kakek2 jepang) yang selama sepertiga perjalanan tak berkata sepatah pun. Lalu ketika tiba waktu pramugari membawa kereta dorong berisi makanan, ojii-san itu memesan sebotol minuman yang terlihat mencurigakan. Benar saja, ketika aku sedang menikmati nasi lemak (dari namanya terbayang kelemakannya--halah) si ojii-san itu tiba2 ngajakin aku ngobrol geje pake bahasa Jepang. Aku pun menanggapinya sekenanya karena aku tahu ojii-san itu pasti sedang berada dalam pengaruh minuman beralkohol. Biar kukasih tahu sesuatu, ada anggapan umum bahwa orang Jepang (yang asli, benar2 njepang, belum pernah ke luar negeri, dan jarang bersentuhan dengan orang asing) biasanya tidak mudah berbicara ramah sok akrab dengan orang asing dan baru bisa membuka diri/berbicara banyak setelah mereka minum. Nggak kayak orang Indonesia, yang tanpa perlu minum aja udah pada "mabok", sapa sana-sini ngajak ngobrol sok kenal--namanya aja belum tahu, udah tahu pernah pacaran berapa kali. Generally, orang Indonesia memang lebih "ramah" daripada orang Jepang. Ada bagus-nggak nya sih. Aku pribadi nggak begitu suka kalau harus beramah-tamah dengan orang yang nggak aku kenal. Sudah kenal pun, kalau nggak sedang ada urusan penting, malas juga berurusan. Mungkin bagi orang Jawa aku ini orang yang sombong sekali, tapi ya, sudahlah, semoga saja bagaimanapun sifatku, aku masih bisa menempatkan diri dengan baik.
Setelah sisa perjalanan yang kurang nyaman karena terus2an diajak ngobrol sama ojii-san mabok, alhamdulillah akhirnya pesawat mendarat di Bandara Internasional Haneda, Tokyo. Langit gulita di luar tak menunjukkan tanda2 kehidupan, namun gemerlap warna-warni lampu yang menghiasi pemandangan sejauh mata memandang di bawahnya menunjukkan bahwa Tokyo adalah kota yang tak pernah tidur.
Surprisingly, malam itu Mikiko dan Kazu, bassis dan gitaris band super kece Texas Pandaa--yang juga akan tampil live bareng Brilliant--ternyata waza2 menjemput kami dan bahkan menemani kami menginap di bandara karena kereta terakhir udah nggak ada. Mengharukan sekali ='). Pada akhirnya kami nggak tidur karena ngobrol semalaman. Kazu ngajak kami ke convenient store ala Jepang (untuk selanjutnya akan disebut konbini, karena memang itu bahasa jepangnya) yang kalo di Indonesia mungkin semacam CircleK ato Indomaret tapi lebih macem2 isinya. Kami tidak bisa menahan ke-ndeso-an khas indonesia kami di konbini-super-kece-penuh-benda2-yang-baru-pertama-kali-kami-lihat itu, sampai Kazu terheran2 "This is only convenient store!" katanya sambil ketawa2. No, it's not the same, dude. We don't see that many variations of onigiri and other bento whatsoever, so pardon us but we couldn't help it. Di sana, untuk pertama kalinya aku membeli onigiri dan "Royal" milk tea manstab.
| onigiri salmon-mayones dan royal milk tea. enyaaak. |
| tempat sampah di bandara, dibagi jadi sampah botol dan kaleng, koran/majalah (serius di situ tulisannya koran/majalah), dan sampah lain2 |
Setelah semalaman ngobrol ngalor-ngidul pake bahasa campur2 nggak karuan, akhirnya kami berangkat naik subway pertama keesokan harinya, sekitar jam 5 mruput--kalo nggak salah ingat. Semenjak menginjakkan kaki di negeri yang sudah lama aku mimpikan itu, entah kenapa aku tidak merasa se-excited yang kubayangkan sebelumnya. Kecuali macam2 onigiri yang menarik perhatianku di konbini tadi (pasti kalian pada mikir, yappari sarah tertariknya sama makanan muluk), aku tidak merasakan kegirangan yang sama terhadap suhu musim gugur yang kira2 kayak di Kaliurang, toilet bandara--WC-nya dilengkapi dengan banyak tombol yang sangat memanjakan, mesin tiket kereta--tinggal pencet sana-sini masukin duit tiketnya keluar, subway kece yang berjalan mulus di atas rel, maupun pemandangan kota penuh reklame bertuliskan huruf Jepang di sepanjang jalan. Setelah kupikir2, mungkin itu karena aku sudah mempelajari tentang Jepang selama kurang lebih 4 tahun dan melihat pemandangan2 itu melalui manga,anime, dan dorama. Selain itu aku juga merasa sangat capek. Mungkin perjalanan kami memakan waktu terlalu lama sampai excitement-ku habis tergerus rasa lelah. Begitu sampai di penginapan pun, aku langsung mandi terus tidur. Kami menginap di Hotel Empire di Shinjuku, by the way. Jangan salah, namanya memang meyakinkan, tapi itu bukan hotel bintang lima, meskipun tetap agak kelewat kece untuk pelancong muda kere macam kami--dilengkapi penghangat ruangan, TV, kulkas, kamar mandi dalam+peralatan mandi, dan cleaning service setiap hari. Alhamdulillah. Berikut ini pemandangan dari jendela kamar kami. Di luar sering ada gagak hitam besar seliweran, sayangnya nggak tertangkap kamera.
Setelah sesiangan tidur, sorenya kami menuju venue gig pertama di Koenji High, Shinjuku. Acaranya sih mulai jam 7 malam, tapi Brilliant--beserta band2 lain yang akan tampil--harus datang untuk check sound dulu. Kami berangkat bersama Nadehiko, om2 super kece (beneran kece deh) drummer Texas Pandaa, dan Hiro, salah satu teman dari Togaidai (Tokyo University of Foreign Studies) yang pernah berguru di Indonesia. Hiro udah jago banget bahasa Indonesianya, jadi aku nggak perlu (dan nggak mau =P) repot2 pake bahasa Jepang kalo ngomong sama dia.
Koenji High adalah live house yang sangat menyenangkan. Tempatnya nggak terlalu besar dan suasananya sangat cozy. Cuma ada panggung, space kosong di bawahnya buat penonton lonjak2 (nggak, nggak ada kursi), bar di belakangnya, toilet di sebelah kiri bar, dan sound operating system di sebelah kanannya. Ada tangga ke atas, tapi di atas cuma ada sebuah ruangan kecil untuk tempat performer siap2. Kami membeli makanan di konbini terdekat (aku lagi2 beli onigiri) lalu makan malam di situ. Sayang sekali aku nggak foto2 di sini, karena sibuk ngeliatin check sound para band. Check sound nya pun sangat menjanjikan, karena bener2 di-cek satu2 kualitas suara yang keluar dari masing2 alat musik dan mic. Walhasil suara yang dikeluarkan pun memuaskan.
Menjelang malam, mood-ku benar2 sudah kembali. Seperti mendapat suntikan semangat baru entah dari mana, mungkin dari suasana sekeliling saat itu dan check sound band2 yang akan tampil yang semuanya keren2 (serius keren, bukan basa-basi--karena aku nggak suka basa-basi), excitement yang tadinya menghilang telah merasukiku lagi. Girang sekali rasanya kembali menjadi diri sendiri.
Jam 7--beneran jam 7, nggak molor dan penonton memang sudah berdatangan--acara dimulai. Acara dibuka oleh 4 Bonjour's Parties, band dengan banyak personel yang memainkan macam2 alat musik seperti--selain instrumen band biasanya--xylophone, glockenspiel, brass instrument yang seingatku nggak cuma satu macam, dan biola--yang dimainkan pake efek. (bagi yang have no idea aku ngemeng epeh di kalimat barusan, monggo buka google di tab sebelah) Seakan belum cukup keren, selama tampil beberapa personel saling bergantian memainkan alat musik mereka. Mas2 pemain keyboard gantian sama gitarisnya, yang lalu gantian sama pemain xylophone. Aku bahkan nggak ingat siapa aja dari mereka yang gantian main xylophone. Jangan2 semuanya bisa. Vokalisnya ada dua mbak2 kawaii dengan suara manis menggemaskan. Di depan mereka ada meja tempat meletakkan macam2 alat musik kecil2--misalnya beberapa jenis kecrekan, glockenspiel, dan instrumen kotak lucu warna-warni mirip pianika yang aku nggak tahu namanya. Musik yang mereka mainkan sangat manis dan menyenangkan, kayak loncat2 naik-turun di tangga yang disiram pelangi. Keren banget. Sangar. Sumpah. Berikut ini video salah satu lagu yang mereka mainkan. Aku yang merekam pakai iPad (ibunya) Azam, dan terima kasih banyak buat Azam yang sudah upload di youtube =D.
Selanjutnya adalah Bertoia, band shoegaze yang kata Azam sangat terasa japanese shoegaze-nya. Bagus, tentu saja, but to be honest tidak terlalu menarik perhatianku, jadi nggak kuceritakan lebih lanjut (->>seenaknya =P). Berikut ini salah satu video live mereka malam itu.
Setelah itu adalah band alternative rock beranggotakan 3 orang (gitar/vokal, bass/vokal perempuan, dan drum) yang menurutku musiknya mirip2 musik band2 Amerika, Honeydew. Mas2 gitaris/vokalisnya terlihat sangat muda dan imut. Tadinya kukira dia anak SMA, tapi ternyata dia dan bassis/vokalisnya adalah pasangan suami-istri! Uapah?? Kaget banget..memang don't judge book by its cover ya. Hahaha. Di luar dugaan juga, mereka memainkan musik yang cukup cadas. Gitarnya terutama, keren banget, rasanya kayak tersedot. Aku sangat menikmati penampilan mereka. Hal yang kusadari waktu itu adalah pada penampilan kedua band sebelumnya, penontonnya lumayan anteng, tapi waktu Honeydew tampil, orang2 yang random mulai bermunculan. Ada beberapa orang asing (dalam konteks ini, tentu saja orang asing berarti non-japanese dan non-indonesian), dan pasangan bapak2 dan ibu2 yang terlihat sangat khidmat menikmati entakan musik. Aku mulai mendengar teriakan2 penyemangat yang sebelumnya tidak kudengar. Suasana pun sudah lebih memanas ketika akhirnya Brilliant tampil setelah Honeydew. Berikut video salah satu penampilan Honeydew malam itu.
Jujur saja ini juga pertama kalinya aku nonton Brilliant secara live. Ternyata Eka (bass/vokal) gemar sekali menyelipkan narasi di awal dan di antara lagu2nya. Nggak apa2 sih, cuma aku agak ragu para penontonnya ngerti, soalnya dia ngomong pake bahasa Inggris..haha. Musik mereka juga manis dan menyenangkan, rasanya kayak lari2 kecil di padang lavender sambil meniup gelembung sabun, atau sepedaan di jalan2 sempit sambil menyapa semua makhluk hidup yang ditemui. Oke entah apakah perasaan2 itu bisa dimengerti, pokoknya aku ngerasa kayak gitu. Hahaha. Berikut ini adalah, bukan salah satu, tapi video penampilan Brilliant full dari depan sampai selesai total 39 menit. Aku sengaja merekamnya tanpa cut, biar narasinya Eka juga terekam semua. Kalau malas liat karena kepanjangan ya nggak usah di-klik.
Ketika mereka selesai tampil dan menerima respon penonton yang tidak kalah meriah dengan band2 lain, aku pun merasa ikut senang dan bangga. You rock, Brilliant! XD
Kemudian, tibalah saatnya Texas Pandaa menutup parade malam itu dengan penampilan yang fascinating seperti biasanya. Aku selalu suka dengan live mereka (padahal baru nonton langsung dua kali =P) karena nuansanya membuatku terlena khidmat, menenangkan. Rasanya seperti melamun di bawah pohon besar teduh di tengah2 padang rumput yang luas, sendirian, tanpa perlu memikirkan apa2. Berikut ini salah satu video penampilan mereka malam itu.
Ngomong2, entah kenapa aku merasa Asako (gitar/vokal) terlihat jauh lebih cantik daripada pertemuan terakhir kami tahun lalu. Mungkin karena dia baru saja punya anak? Entahlah, yang jelas badannya nggak kayak habis melahirkan. Hahaha. Mikiko (bass/vokal) juga manisss banget s-nya tiga. Kalo berdiri di sampingnya, aku berasa kayak TKW salah tempat. Dan yang jelas, Nadehiko (drum) dan Kazu (gitar) tetap dua om2 paling kece di panggung itu malam itu. Sedikit tambahan yang rada nggak nyambung, menurutku cowok Jepang yang masih muda (25 ke bawah) itu rada kelewat oshare--suka dandan/metroseksual/sangat memperhatikan penampilan dan entah kenapa cengkring2 (banget). Dengan kata lain, kurang macho. Nggak semuanya gitu sih, tapi sebagian besar yang kuamati di beberapa tempat umum sih gitu. Jadi aku biasanya lebih tertarik dengan yang sepertinya sudah lebih berumur, yang di wajahnya sudah ada hiasan2 kedewasaan (ceileh).
Setelah Texas Pandaa tampil, acara resmi ditutup. Sebagian penonton pulang, ada yang masih minum2 sambil ngobrol, ada yang beli CD dan T-shirt dari masing2 band penampil, dan ada juga yang jalan sana-sini kayak orang bingung sambil sesekali sok akrab nyapain orang2, yaitu saya. Seperti sudah diduga sebelumnya, setelah acara selesai akan ada party kecil2an, yang dalam budaya Jepang biasa disebut nomikai (nomi=minum, kai=pertemuan/perkumpulan) dimana orang2 yang sebelumnya telah bekerja bersama lalu bersantai sambil minum. Menurut kode etik tak tertulis, akan menjadi kurang sopan apabila kita--sebagai pihak yang juga ikut meramaikan acara--tidak ikut serta. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan kami takut ketinggalan kereta terakhir, jadilah kami membagi dua grup; grup yang pulang ngejar kereta dan grup yang tinggal untuk ikut nomikai. Karena (yang dianggap sebagai) guide (yang sebenarnya sangat payah) cuma aku dan Azam (padahal ada Hiro), jadi kami berpisah. Aku, Hiro, dan hampir semua anggota band pulang, meninggalkan Azam, Arkham (manajer Brilliant) dan Eka untuk menjadi bagian dalam salah satu ajang sosialisasi masyarakat Jepang itu.
Sepanjang perjalanan kami pulang malam itu, aku menyadari beberapa hal. Menurut pandanganku, suasana terasa lebih "hidup" ketika malam hari. Ketika pagi hari setiap kami pergi naik kereta, aku hanya melihat orang2 berangkat kerja yang terlihat bosan dan ngantuk, nggak semangat. Tapi pada malam hari, kita bisa menemukan gerombolan gadis menor cekakak-cekikik di pinggir jalan, cowok2 muda nongkrong geje di depan konbini sambil minum, bapak2 salaryman kelewat mabok sampai nggak bisa jalan, sampai pasangan yang terlihat sangat asik asoy geboy di dalam kereta.
Oh ya, salary man. Salary man--atau pegawai perusahaan--adalah (sepertinya) pekerjaan yang sangat umum di Jepang. Mereka ada buanyak sekali, nyaris di mana2. Biasanya mereka selalu terlihat mengenakan setelan jas hitam+kemeja putih+dasi dan selalu seliweran di stasiun pada pagi hari--bikin rush hour--dan sering terlihat dalam keadaan mabok di stasiun pada malam harinya. Mungkin tikngkat kepopuleran salary man di Jepang sama seperti PNS di Indonesia, tapi tetap dua pekerjaan yang berbeda. Salary man (setahuku) dituntut untuk memiliki kesetiaan terhadap perusahaan tempatnya bekerja, sedemikian rupa hingga menimbulkan tekanan tersendiri bagi mereka. Entah apa benar begitu atau aku hanya sok tahu setelah melihat sampel yang tidak terlalu banyak juga, hanya Tuhan dan para salary man yang tahu.
![]() |
| foto bareng di stasiun sepulang gig hari pertama. otsukareee, minna! =D |
Daan seperti itulah malam pertama kami di Jepang berakhir. Antusiasme baru yang menyenangkan mengantarkanku sampai terlelap tanpa mimpi sama sekali. =)
Dan aku baru saja memutuskan untuk membagi ceritaku menjadi entah berapa bagian, lihat saja besok (->seenaknya =P). Masih ada cerita tentang gig ke-2 di Shibuya, jalan2 ke Hiroshima, Kyoto, dan hari terakhir di Tokyo sebelum pulang ke Indonesia. Nantikan kisah selanjutnya ya! Tetap di Sumur Timba! (macam pembawa acara reality show garing)
good night and see you!
=D
Juli 29, 2012
Rasa Suka
Hello, there.
Aku baru saja berkumpul dengan teman-teman lama. Kami buka puasa bareng di angkringan kopi joss, maen ke pameran seni ART JOG 12, lalu melaju ke rumah salah satu dari kami dan berakhir melakukan "joshi-kai" (joshi=cecewek, kai=pertemuan/perkumpulan), dimana kami ya ngobrol ngalor-ngidul mulai dari masalah sepele, seperti Jupe yang kabarnya buka warung fried chicken, sampe curhat2an.
Salah satu tema yang (biasanya) selalu muncul ketika joshi-kai adalah masalah percintaan. Biasanya aku hanya jadi pendengar, pengamat, dan komentator netral, sih =P
Tapi tema percintaan kali ini meninggalkan beberapa komentar di kepalaku yang ingin aku tulis di sini.
Jadi, berkat salah satu temanku yang adalah seorang mahasiswa fakultas Psikologi, kami jadi membicarakan beberapa masalah percintaan dari banyak sisi dan ujung2nya aku malah jadi kepikiran, bagaimana sebenarnya proses seseorang bisa memiliki rasa suka terhadap orang lain?
Kata salah satu temanku yang membaca sebuah buku yang aku lupa judulnya, ada hasil penelitian yang menyatakan bahwa--sepenangkapku--setiap manusia memiliki gelombang otak berbeda-beda, yang memungkinkannya untuk menangkap gelombang otak lawan jenis (atau sesama, mungkin, in case dia seorang gay) yang sama atau setipe. Berdasarkan itulah bisa muncul ketertarikan, atau dalam bahasa yang biasa kuketahui, chemistry antara dua orang.
Nah, masalahnya adalah, apakah gelombang otak yang sama denganku hanya ada satu orang? Bagaimana kalau gelombang otakku menangkap sinyal dari dua atau tiga orang? Mungkinkah itu? Mungkin aku perlu baca bukunya dulu baru menimbang-nimbang.
Sekarang, aku yakin banyak orang yang mudah menyukai orang lain. Dibaiki sedikit, suka. Menemukan beberapa kesamaan, suka. Secara fisik sesuai tipe, suka. Bagaimana teorinya kalau seperti itu? Orang-orang yang seperti ini biasanya dengan mudah mengikuti insting mereka dan tidak merasa perlu repot-repot memikirkan kemungkinan2 bahwa orang itu bukan "the one" untuk dia. Kalaupun lalu mereka pacaran, dan menemukan kesulitan, mereka selalu punya opsi untuk mengakhiri hubungan, dan mungkin tidak akan terlalu sulit, karena ia tahu ia akan segera jatuh cinta lagi.
Sebaliknya ada juga orang yang tidak mudah jatuh cinta. Ketemu berapa orang pun ia tak juga jatuh cinta. Sudah cocok pun, ia tidak lantas menjadi suka. Baru setelah beberapa lama, mungkin dalam hitungan bulan, bahkan tahun, baru ia bisa memutuskan bahwa ia menganggap orang itu "lebih". Ia membutuhkan proses, dan memerlukan banyak pertimbangan untuk dipikirkan tentang haruskah ia mempercayai perasaan lain yang muncul tersebut.
Aku sendiri masih beranggapan bahwa adanya kata hati itu bukan bullshit. Bahwa seseorang bisa bertemu dengan orang lain dan pop! muncul rasa percaya dalam hati bahwa ia adalah "the one", yang setelah dijalani, hal itu memang benar. Ada memang yang seperti itu. Sungguh beruntungnya mereka.
Tapi aku juga percaya bahwa pemikiran yang ikut andil juga sebuah keputusan yang bijaksana. Bahwa seseorang dapat tertarik pada orang lain dalam hitungan detik, namun otaknya mencegahnya untuk cepat bertindak dan menyuruhnya untuk jalan pelan2 saja, berhati-hati. Apabila pemikiran dan perasaan dapat bekerja sama dengan baik, persentase keberhasilan pengambilan keputusan bisa lebih besar, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi hal sebaliknya.
Aku percaya bahwa segalanya mungkin di sini--teori, perasaan, logika, dan waktu--baik berjalan sendiri-sendiri maupun secara bekerja sama, memungkinkan seseorang untuk jatuh cinta, dan tidak selalu ada yang lebih benar daripada yang lain. Perasaan manusia bisa dipandang sebagai sesuatu yang kompleks, serumit rasa dilema ketika memutuskan sesuatu atau kegalauan ketika jatuh cinta pada orang yang tidak sesuai dengan harapan. Namun perasaan manusia juga bisa dipandang sebagai sesuatu yang sangat mudah, semudah mempercayai kata hati. Menurutku, itu pilihan, bebas.
Lepas dari semua yang aku tulis di atas, aku pribadi percaya dengan pepatah "Witing tresna jalaran saka kulina" (Menyukai seseorang/sesuatu karena terbiasa dengannya). Dengan kata lain, menyukai karena telah mengenal lebih dulu. Tidak hanya sebulan dua bulan, tapi melewati proses yang lebih lama lagi. Mungkin dibangun dari sebuah pertemanan. Ya, aku percaya dengan lagu "Lucky I'm in Love with My Best Friend". Karena bagiku, menyukai tidak sekedar tertarik karena fisik atau adanya banyak kesamaan. Aku memerlukan banyak sekali pertimbangan untuk sekedar memutuskan pantaskah aku menyukai orang itu. Meskipun aku sadar sudah jelas-jelas suka, aku nggak bisa langsung memegang perasaan itu. Kadang-kadang kompleks sekali proses yang terjadi dalam kepalaku selama berhari-hari, sampai tanpa kusadari aku sudah tidak tertarik lagi. Mungkin sudah saatnya aku menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu dan menguatkan perasaan. Tapi entahlah, sejujurnya aku agak malas memikirkan perkara ini untuk diriku sendiri saat ini. -_-
Terakhir, apakah kau percaya bahwa jodoh ada di tangan Tuhan? Aku sih percaya =)
Aku pernah membaca postingan blog seorang kawan yang cukup menenangkan, yang kira2 cuplikannya seperti ini:
"Bagaimana saya bisa tahu bahwa dialah jodoh saya?"
"Ikuti kata hatimu. Apabila kau dekat dengan Tuhanmu, maka kata hatimu bisa dipercaya."
May love always be upon us, people!
Good night and sweet dreams.
=)
Aku baru saja berkumpul dengan teman-teman lama. Kami buka puasa bareng di angkringan kopi joss, maen ke pameran seni ART JOG 12, lalu melaju ke rumah salah satu dari kami dan berakhir melakukan "joshi-kai" (joshi=cecewek, kai=pertemuan/perkumpulan), dimana kami ya ngobrol ngalor-ngidul mulai dari masalah sepele, seperti Jupe yang kabarnya buka warung fried chicken, sampe curhat2an.
Salah satu tema yang (biasanya) selalu muncul ketika joshi-kai adalah masalah percintaan. Biasanya aku hanya jadi pendengar, pengamat, dan komentator netral, sih =P
Tapi tema percintaan kali ini meninggalkan beberapa komentar di kepalaku yang ingin aku tulis di sini.
Jadi, berkat salah satu temanku yang adalah seorang mahasiswa fakultas Psikologi, kami jadi membicarakan beberapa masalah percintaan dari banyak sisi dan ujung2nya aku malah jadi kepikiran, bagaimana sebenarnya proses seseorang bisa memiliki rasa suka terhadap orang lain?
Kata salah satu temanku yang membaca sebuah buku yang aku lupa judulnya, ada hasil penelitian yang menyatakan bahwa--sepenangkapku--setiap manusia memiliki gelombang otak berbeda-beda, yang memungkinkannya untuk menangkap gelombang otak lawan jenis (atau sesama, mungkin, in case dia seorang gay) yang sama atau setipe. Berdasarkan itulah bisa muncul ketertarikan, atau dalam bahasa yang biasa kuketahui, chemistry antara dua orang.
Nah, masalahnya adalah, apakah gelombang otak yang sama denganku hanya ada satu orang? Bagaimana kalau gelombang otakku menangkap sinyal dari dua atau tiga orang? Mungkinkah itu? Mungkin aku perlu baca bukunya dulu baru menimbang-nimbang.
Sekarang, aku yakin banyak orang yang mudah menyukai orang lain. Dibaiki sedikit, suka. Menemukan beberapa kesamaan, suka. Secara fisik sesuai tipe, suka. Bagaimana teorinya kalau seperti itu? Orang-orang yang seperti ini biasanya dengan mudah mengikuti insting mereka dan tidak merasa perlu repot-repot memikirkan kemungkinan2 bahwa orang itu bukan "the one" untuk dia. Kalaupun lalu mereka pacaran, dan menemukan kesulitan, mereka selalu punya opsi untuk mengakhiri hubungan, dan mungkin tidak akan terlalu sulit, karena ia tahu ia akan segera jatuh cinta lagi.
Sebaliknya ada juga orang yang tidak mudah jatuh cinta. Ketemu berapa orang pun ia tak juga jatuh cinta. Sudah cocok pun, ia tidak lantas menjadi suka. Baru setelah beberapa lama, mungkin dalam hitungan bulan, bahkan tahun, baru ia bisa memutuskan bahwa ia menganggap orang itu "lebih". Ia membutuhkan proses, dan memerlukan banyak pertimbangan untuk dipikirkan tentang haruskah ia mempercayai perasaan lain yang muncul tersebut.
Aku sendiri masih beranggapan bahwa adanya kata hati itu bukan bullshit. Bahwa seseorang bisa bertemu dengan orang lain dan pop! muncul rasa percaya dalam hati bahwa ia adalah "the one", yang setelah dijalani, hal itu memang benar. Ada memang yang seperti itu. Sungguh beruntungnya mereka.
Tapi aku juga percaya bahwa pemikiran yang ikut andil juga sebuah keputusan yang bijaksana. Bahwa seseorang dapat tertarik pada orang lain dalam hitungan detik, namun otaknya mencegahnya untuk cepat bertindak dan menyuruhnya untuk jalan pelan2 saja, berhati-hati. Apabila pemikiran dan perasaan dapat bekerja sama dengan baik, persentase keberhasilan pengambilan keputusan bisa lebih besar, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi hal sebaliknya.
Aku percaya bahwa segalanya mungkin di sini--teori, perasaan, logika, dan waktu--baik berjalan sendiri-sendiri maupun secara bekerja sama, memungkinkan seseorang untuk jatuh cinta, dan tidak selalu ada yang lebih benar daripada yang lain. Perasaan manusia bisa dipandang sebagai sesuatu yang kompleks, serumit rasa dilema ketika memutuskan sesuatu atau kegalauan ketika jatuh cinta pada orang yang tidak sesuai dengan harapan. Namun perasaan manusia juga bisa dipandang sebagai sesuatu yang sangat mudah, semudah mempercayai kata hati. Menurutku, itu pilihan, bebas.
Lepas dari semua yang aku tulis di atas, aku pribadi percaya dengan pepatah "Witing tresna jalaran saka kulina" (Menyukai seseorang/sesuatu karena terbiasa dengannya). Dengan kata lain, menyukai karena telah mengenal lebih dulu. Tidak hanya sebulan dua bulan, tapi melewati proses yang lebih lama lagi. Mungkin dibangun dari sebuah pertemanan. Ya, aku percaya dengan lagu "Lucky I'm in Love with My Best Friend". Karena bagiku, menyukai tidak sekedar tertarik karena fisik atau adanya banyak kesamaan. Aku memerlukan banyak sekali pertimbangan untuk sekedar memutuskan pantaskah aku menyukai orang itu. Meskipun aku sadar sudah jelas-jelas suka, aku nggak bisa langsung memegang perasaan itu. Kadang-kadang kompleks sekali proses yang terjadi dalam kepalaku selama berhari-hari, sampai tanpa kusadari aku sudah tidak tertarik lagi. Mungkin sudah saatnya aku menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu dan menguatkan perasaan. Tapi entahlah, sejujurnya aku agak malas memikirkan perkara ini untuk diriku sendiri saat ini. -_-
Terakhir, apakah kau percaya bahwa jodoh ada di tangan Tuhan? Aku sih percaya =)
Aku pernah membaca postingan blog seorang kawan yang cukup menenangkan, yang kira2 cuplikannya seperti ini:
"Bagaimana saya bisa tahu bahwa dialah jodoh saya?"
"Ikuti kata hatimu. Apabila kau dekat dengan Tuhanmu, maka kata hatimu bisa dipercaya."
May love always be upon us, people!
Good night and sweet dreams.
=)
Langganan:
Postingan (Atom)















