Di dalam hati manusia, ada banyak emosi. Kadang mereka tertata dengan rapi. Beberapa disusun berderet di dalam rak, beberapa tersimpan di dalam lemari, terkunci. Beberapa dibiarkan saja berserakan di atas lantai, terlupakan.
Seiring berjalannya waktu, manusia menjadi semakin sibuk dan sibuk. Sibuk oleh pendidikan. Sibuk oleh pekerjaan. Sibuk oleh tuntutan masyarakat. Sibuk oleh kesenangan diri sendiri. Ketika sibuk, manusia menjadi sering lupa. Emosi di dalam hati pun tak terurus. Mereka berjatuhan dari rak, tumpang-tindih, beberapa hilang entah ke mana. Dan lemari yang terkunci itu pun, rantai gemboknya mulai karatan.
Seringkali manusia tidak menyadari itu. Bahwa apapun yang mereka lakukan, sekecil apapun, dapat menimbulkan gempa yang entah sampai berapa besar guncangannya. Kadang, ketika guncangannya terlalu kencang, rantai gembok yang berkarat itu pun putus. Dan lemari itu, yang selama ini mereka kira hanya lemari biasa, ternyata adalah gudang senjata.
Meskipun dibilang gudang senjata, ternyata isinya hanya pisau. Banyak sekali pisau, melayang-layang. Ada beberapa manusia yang begitu menyadari bahwa gudang senjatanya terbuka, ia akan terburu-buru menutupnya lagi, dan dengan segera menemukan gembok beserta kunci yang lebih kuat. Namun kebanyakan manusia membiarkan pintu gudang itu terbuka, sehingga pisau-pisau bermata tajam itu dapat dengan leluasa melayang-layang di seluruh penjuru ruangan.
Pisau-pisau ini suka mendominasi. Mereka dapat bertindak sesukanya, berkeliling mencari mangsa emosi yang terlihat lemah, dan menusuknya. Sekali tertusuk, sulit untuk menyembuhkannya kembali selama pintu gudang senjata itu belum benar-benar tertutup. Pisau itu sudah menusuk banyak sekali. Cinta, Gembira, Asa, Rasa, dan Empati. Mereka menusuk Empati berkali-kali, sampai bentuknya sulit dikenali.
Namun mereka tidak menyerang Takut, Khawatir, dan Sedih. Mereka berkawan baik. Bersama, mereka berambisi menciptakan sebuah jiwa yang baru, yang kuat dan tak terkalahkan. Yang menjadi pemenang dalam setiap peperangan, yang berdiri paling akhir di atas tumpukan mayat-mayat nilai moral.
Yang mereka tak tahu adalah, ambisi mereka sesungguhnya palsu. Takut, Khawatir, dan Sedih sebenarnya bukan kawan sejati mereka. Sekuat apapun mereka, ketika manusia telah menemukan kembali gembok dan kunci yang lebih kuat, pisau-pisau itu bisa dipaksa menyerah tanpa perlawanan. Mereka tak tahu bahwa Cinta, Gembira, Asa, Rasa, dan Empati, apabila bersatu akan menjadi pasukan terkuat. Super Hero. Super Hero ini dapat mengembalikan Takut, Khawatir, dan Sedih kembali pada tempatnya, menata mereka untuk bekerja di saat-saat yang sepantasnya saja.
Pada akhirnya, tak semua manusia dapat menutup kembali gudang senjatanya. Dan membiarkannya terbuka hingga akhir hayatnya. Tapi sesungguhnya adalah harapan semua manusia untuk menciptakan Super Hero. Maka ciptakanlah ia dalam hatimu.
Ciptakanlah Super Hero di dalam hatimu.
Oktober 06, 2013
Oktober 02, 2013
Paranoia
Dingin. Maya terbangun oleh gigilnya sendiri. Ia sudah terlanjur membuka mata. Ia harus segera bangun, atau air yang mulai menggenang di sekelilingnya akan menenggelamkannya. Ia melompat seperti kesetrum, meraba-raba dinding mencari saklar. Kenapa gelap sekali? Mati listrik? Ada yang mematikannya? Siapa? Untuk apa?
Ada yang memandanginya dari sudut kamar. Siapa? Pencuri? Hantu? Tapi ia tak punya apa-apa. Tangannya menemukan kenop pintu. Ia membuka selot bawah. Satu, dua. Lalu selot atas. Satu, dua. Lalu gerendel gembok di kenop pintu. Satu, dua. Lalu, terakhir, selot rantai. Semua itu dilakukannya tak sampai lima detik. Ratusan orang meneriakinya, menyuruhnya cepat. Ia menghentakkan pintu terbuka, lalu menghambur ke luar, ke koridor apartemennya. Beberapa langkah kemudian, ia bimbang. Ia belum menutup kembali pintunya. Bagaimana kalau ada yang masuk? Tapi tadi ada pencuri di dalam. Bagaimana kalau saat ia menutup kembali pintu itu, pencuri itu menyergapnya?
Ia mendengar langkah kaki dari kejauhan. Semakin lama semakin keras, dari arah tangga. Ada yang naik. Siapa? Apakah seseorang yang dikenalnya?
Seraut wajah muncul dari balik tembok. Laki-laki paruh baya. Matanya menangkap mata Maya, lalu ia tersenyum sembari berjalan mendekat. Kenapa? Siapa? Apa ia harus menyapanya? Bagaimana kalau ia orang jahat? Laki-laki itu membawa plastik hitam di tangan kanannya. Apa itu? Bagaimana kalau isinya pisau dapur? Atau potongan mayat?
Laki-laki itu melihat Maya, kemudian matanya beralih pada pintu kamarnya yang terbuka. Gawat! Ia melihatnya! Ia melihat pintunya yang terbuka! Spontan Maya berbalik dan berlari, lalu membanting pintunya menutup dan menguncinya. Kuncinya ia kantongi. Tunggu dulu. Jangan-jangan kantongnya bolong?
Maya berpaling ke arah laki-laki tadi, yang masih berjalan ke arahnya. Senyumnya tidak hilang. Senyumnya tak juga hilang! Ada apa ini? Apa maunya? Kenapa senyum-senyum terus?
Laki-laki itu berhenti dua langkah di depannya. Maya membatu, menahan napas sampai lehernya kaku. Laki-laki itu mengangguk singkat, lalu masuk ke kamar di depan kamar Maya.
Maya memastikan sejenak bahwa laki-laki tadi tak keluar lagi untuk menusuknya. Tapi beberapa saat kemudian ia ketakutan, dan mulai berlari lagi. Kamarnya di lantai 3. Ia harus turun lewat tangga. Tunggu dulu. Apakah tangganya aman? Kapan bangunan ini dibangun? Bagaimana kalau tiba-tiba ada gempa dan tangganya runtuh?
Ia berganti pikiran dan menghempas masuk ke dalam elevator. Tapi seketika setelah pintunya menutup, ia menyesal luar biasa. Apakah elevator ini berfungsi dengan benar? Apakah tombol-tombol yang berderet itu bukan cuma hiasan? Bagaimana kalau tiba-tiba alat penggerak atau entah apa itu namanya, macet dan elevatornya berhenti di tempat yang tak seharusnya? Apakah ia akan terkurung di dalam situ? Akankah ada yang menyelamatkannya? Atau ia akan terus terperangkap di situ sampai membusuk?
Ia mengawasi angka 3 yang kemudian berubah menjadi angka 2. Lama sekali. Sudah berapa jam ia berada di situ? Tempat ini mengerikan. Sungguh mengerikan. Berada di dalam elevator adalah mimpi buruk. Perutnya mual, pandangannya berputar, lututnya lemas. Ia terjatuh, tersengal-sengal.
Ting!
Pintu elevator terbuka. Ia sudah berada di lantai 1. Tapi kakinya menolak untuk bergerak, jadi ia menyeret tubuhnya keluar dari kotak mimpi buruk itu.
Tapi rupanya mimpi buruknya belum berakhir. Ia mendongak dan menemukan banyak orang. Banyak sekali. Mungkin ratusan, ribuan, jutaan. Semuanya berhenti bergerak ketika ia melihat mereka. Semua orang memandanginya. Jutaan pasang mata itu memandanginya, bergeming. Bahkan jam dinding, jendela kaca, daun-daun pintu, langit-langit, seluruh permukaan gedung itu, seluruh partikel udara di tempat itu, ikut memandanginya. Nanar dan menusuk-nusuk. Waktu pun tak mau repot-repot berjalan, demi menyaksikan kejadian itu.
Tiba-tiba Maya tak ingat cara bernapas. Oksigen pun menolak keberadaannya. Lehernya tercekik, matanya memberontak ingin melompat dari rongganya. Dadanya sakit. Tangannya menggelepar mencakari sekujur tubuhnya sendiri, yang seluruh urat sarafnya bersitegang satu sama lain, meronta-ronta.
Ia bisa mendengar tawa. Banyak tawa, berderai-derai. Seluruh makhluk di ruangan itu sedang menertawakannya. Tawa mereka bergaung, panjang dan tanpa henti. Beberapa pasang tangan menggerayanginya. Tangan-tangan dari orang berbaju putih.
Oh, tidak! Orang-orang ini lagi! Mereka selalu, selalu, dapat menemukannya. Siapa orang-orang ini? Kenapa mereka tidak ikut tertawa saja bersama yang lain?
Orang-orang itu akan membawanya kembali. Kembali masuk ke kotak mimpi buruk itu. Kembali ke koridor dengan laki-laki paruh baya kejam itu. Kembali ke kamarnya, yang dipenuhi pencuri dan hantu, yang gelap dan dingin, yang penuh dengan air, siap menenggelamkannya kapan saja.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!
Maya berteriak, keras dan panjang, memilukan. Pita suaranya bergetar liar, seperti berusaha untuk keluar dari mulut. Suara-suara berkerubutan dalam kepalanya. Warna-warni berkelebat dalam matanya.
Dan gelombang air itu pun datang. Menghantamnya bak ombak tsunami, menenggelamkan teriakannya, dan pada saat yang bersamaan, kesadarannya.
-selesai-
Ada yang memandanginya dari sudut kamar. Siapa? Pencuri? Hantu? Tapi ia tak punya apa-apa. Tangannya menemukan kenop pintu. Ia membuka selot bawah. Satu, dua. Lalu selot atas. Satu, dua. Lalu gerendel gembok di kenop pintu. Satu, dua. Lalu, terakhir, selot rantai. Semua itu dilakukannya tak sampai lima detik. Ratusan orang meneriakinya, menyuruhnya cepat. Ia menghentakkan pintu terbuka, lalu menghambur ke luar, ke koridor apartemennya. Beberapa langkah kemudian, ia bimbang. Ia belum menutup kembali pintunya. Bagaimana kalau ada yang masuk? Tapi tadi ada pencuri di dalam. Bagaimana kalau saat ia menutup kembali pintu itu, pencuri itu menyergapnya?
Ia mendengar langkah kaki dari kejauhan. Semakin lama semakin keras, dari arah tangga. Ada yang naik. Siapa? Apakah seseorang yang dikenalnya?
Seraut wajah muncul dari balik tembok. Laki-laki paruh baya. Matanya menangkap mata Maya, lalu ia tersenyum sembari berjalan mendekat. Kenapa? Siapa? Apa ia harus menyapanya? Bagaimana kalau ia orang jahat? Laki-laki itu membawa plastik hitam di tangan kanannya. Apa itu? Bagaimana kalau isinya pisau dapur? Atau potongan mayat?
Laki-laki itu melihat Maya, kemudian matanya beralih pada pintu kamarnya yang terbuka. Gawat! Ia melihatnya! Ia melihat pintunya yang terbuka! Spontan Maya berbalik dan berlari, lalu membanting pintunya menutup dan menguncinya. Kuncinya ia kantongi. Tunggu dulu. Jangan-jangan kantongnya bolong?
Maya berpaling ke arah laki-laki tadi, yang masih berjalan ke arahnya. Senyumnya tidak hilang. Senyumnya tak juga hilang! Ada apa ini? Apa maunya? Kenapa senyum-senyum terus?
Laki-laki itu berhenti dua langkah di depannya. Maya membatu, menahan napas sampai lehernya kaku. Laki-laki itu mengangguk singkat, lalu masuk ke kamar di depan kamar Maya.
Maya memastikan sejenak bahwa laki-laki tadi tak keluar lagi untuk menusuknya. Tapi beberapa saat kemudian ia ketakutan, dan mulai berlari lagi. Kamarnya di lantai 3. Ia harus turun lewat tangga. Tunggu dulu. Apakah tangganya aman? Kapan bangunan ini dibangun? Bagaimana kalau tiba-tiba ada gempa dan tangganya runtuh?
Ia berganti pikiran dan menghempas masuk ke dalam elevator. Tapi seketika setelah pintunya menutup, ia menyesal luar biasa. Apakah elevator ini berfungsi dengan benar? Apakah tombol-tombol yang berderet itu bukan cuma hiasan? Bagaimana kalau tiba-tiba alat penggerak atau entah apa itu namanya, macet dan elevatornya berhenti di tempat yang tak seharusnya? Apakah ia akan terkurung di dalam situ? Akankah ada yang menyelamatkannya? Atau ia akan terus terperangkap di situ sampai membusuk?
Ia mengawasi angka 3 yang kemudian berubah menjadi angka 2. Lama sekali. Sudah berapa jam ia berada di situ? Tempat ini mengerikan. Sungguh mengerikan. Berada di dalam elevator adalah mimpi buruk. Perutnya mual, pandangannya berputar, lututnya lemas. Ia terjatuh, tersengal-sengal.
Ting!
Pintu elevator terbuka. Ia sudah berada di lantai 1. Tapi kakinya menolak untuk bergerak, jadi ia menyeret tubuhnya keluar dari kotak mimpi buruk itu.
Tapi rupanya mimpi buruknya belum berakhir. Ia mendongak dan menemukan banyak orang. Banyak sekali. Mungkin ratusan, ribuan, jutaan. Semuanya berhenti bergerak ketika ia melihat mereka. Semua orang memandanginya. Jutaan pasang mata itu memandanginya, bergeming. Bahkan jam dinding, jendela kaca, daun-daun pintu, langit-langit, seluruh permukaan gedung itu, seluruh partikel udara di tempat itu, ikut memandanginya. Nanar dan menusuk-nusuk. Waktu pun tak mau repot-repot berjalan, demi menyaksikan kejadian itu.
Tiba-tiba Maya tak ingat cara bernapas. Oksigen pun menolak keberadaannya. Lehernya tercekik, matanya memberontak ingin melompat dari rongganya. Dadanya sakit. Tangannya menggelepar mencakari sekujur tubuhnya sendiri, yang seluruh urat sarafnya bersitegang satu sama lain, meronta-ronta.
Ia bisa mendengar tawa. Banyak tawa, berderai-derai. Seluruh makhluk di ruangan itu sedang menertawakannya. Tawa mereka bergaung, panjang dan tanpa henti. Beberapa pasang tangan menggerayanginya. Tangan-tangan dari orang berbaju putih.
Oh, tidak! Orang-orang ini lagi! Mereka selalu, selalu, dapat menemukannya. Siapa orang-orang ini? Kenapa mereka tidak ikut tertawa saja bersama yang lain?
Orang-orang itu akan membawanya kembali. Kembali masuk ke kotak mimpi buruk itu. Kembali ke koridor dengan laki-laki paruh baya kejam itu. Kembali ke kamarnya, yang dipenuhi pencuri dan hantu, yang gelap dan dingin, yang penuh dengan air, siap menenggelamkannya kapan saja.
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!
Maya berteriak, keras dan panjang, memilukan. Pita suaranya bergetar liar, seperti berusaha untuk keluar dari mulut. Suara-suara berkerubutan dalam kepalanya. Warna-warni berkelebat dalam matanya.
Dan gelombang air itu pun datang. Menghantamnya bak ombak tsunami, menenggelamkan teriakannya, dan pada saat yang bersamaan, kesadarannya.
-selesai-
September 28, 2013
Still a Long Way to Go
Halo, semua.
Ternyata lama juga aku nggak nulis di sini. Bukannya nggak ada yang bisa ditulis, malah ada banyak sekali. Saking banyaknya, semua keburu menguap ditelan kesibukan sehari-hari. Tapi malam ini aku lumayan senggang, jadi mari mengisi waktu =)
Kali ini aku ingin sedikit berbagi pengalaman tentang pekerjaan yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku. Setelah lulus dari jurusan Sastra Jepang, yang ada dalam kepalaku adalah bagaimana caranya agar bahasa yang kupelajari selama 4 tahun ini nggak hilang begitu saja. Jadi, sembari menunggu kesempatan untuk melanjutkan S2, aku melanjutkan pekerjaanku sebagai pengajar les privat bahasa Jepang lepas dan mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar bahasa Jepang di Jogja.
Saat ini, selain sebagai pengajar les privat, aku juga menjadi pengajar di dua instansi yang berbeda. Instansi A adalah lembimjar umum dan Instansi B adalah lembimjar untuk calon tenaga kerja magang ke Jepang. Selain itu, aku juga menjadi penerjemah komik di Instansi C. Semua pekerjaan itu bersifat freelance, jadi jadwalku dalam seminggu pun berubah-ubah. Tapi saat ini aku cukup menikmatinya, mungkin akan kubiarkan comfort zone ini memanjakanku untuk beberapa waktu ke depan. =)
Di instansi A, kebanyakan peminatnya adalah anak SMP, SMA, dan mahasiswa yang, kalau bukan penyuka budaya jejepangan, ya orang yang memang mau ke Jepang, atau keduanya. Seringkali aku menggunakan pendekatan sebagai sesama penyuka budaya jejepangan di sini. Misalnya, membuat contoh kalimat menggunakan nama karakter anime, atau memperdengarkan lagu J-Pop sebagai materi pelajaran. Menyenangkan sekali. Yang menarik adalah adanya kecenderungan anak-anak ini kelewat mendewakan segala sesuatu tentang Jepang. Aku suka geli sendiri tiap ada yang bilang, "Sensei (ya, aku dipanggil Sensei. hahaha :v), lagu-lagu Jepang itu keren banget, ya. Liriknya dalem banget (lu kate sungai). Nggak kayak lagu Indonesia, alay." atau "Drama Jepang itu ceritanya bagus banget, aktornya juga ganteng-ganteng! ihihihi. Nggak kayak sinetron, alay." dan sebagainya.
Setiap aku mendengar pendapat macam itu, aku selalu menimpali, "Ah, masak, sih? Nggak juga kok." sambil dalam hati bertanya-tanya, memangnya kamu sudah mendengarkan semua lagu Jepang dan Indonesia? Memangnya kamu sudah nonton semua drama Jepang dan sinetron Indonesia? Oh well, meskipun kualitas sinetron jaman sekarang yang memang inferior itu rasanya sudah merupakan suatu hal yang pasti, sama pastinya dengan pendapat "Bumi itu bulat" dan "Kucing itu lucu". Dan dia mengatai segala sesuatu yang di Indonesia itu alay. Bagiku, kamu yang membanggakan produk Jepang dengan membabi buta itu sebenarnya nggak kalah alay.
Tapi, yah, waktu SMA dulu aku juga begitu, kok. Biar sajalah, mungkin memang lagi umurnya harus nge-fans sama sesuatu. Toh, berkat kesukaan mereka yang sedemikian rupa terhadap Jepang, semangat belajar bahasa Jepang mereka lebih besar. Bagiku sebagai pengajar, itu yang paling penting, 'kan?
Situasi di instansi B sedikit berbeda. Di sini, sebagian besar dari mereka belum mengetahui apapun tentang Jepang. Bagiku, ini jadi gampang-gampang susah. Aku harus menggunakan pendekatan yang berbeda. Kalau di instansi A kami belajar dengan santai, di instansi B tidak bisa seperti itu. Sistem di instansi B mengharuskan murid-muridnya mengenakan seragam dan berbicara layaknya tentara--keras dan tegas. Sebenarnya, para pengajar di situ pun dituntut untuk menjadi lebih "galak", dan meskipun banyak teman mengatakan aku ini galak, menjadi galak ketika mengajar itu ternyata tak semudah yang kubayangkan.
Aku suka mengajar dengan santai, yang melibatkan banyak lelucon dan selipan cerita-cerita ringan tentang Jepang--berdasarkan pengalaman pribadiku, tentunya. Aku suka membuat kelompok-kelompok dan menyuruh mereka membuat kaiwa (percakapan) lalu menampilkannya di depan kelas. Aku suka menyuruh mereka membuat sakubun (karangan) dengan tema tertentu. Aku nggak terlalu terganggu dengan murid yang cara bicaranya agak nyolot, selama ia memperlihatkan performa yang bagus dalam belajar. Aku nggak keberatan kalau ada yang tidur di kelas, selama ia nggak mengganggu teman-temannya yang lain.
Nah, kebiasaan-kebiasaan itu sepertinya perlu dikurangi saat aku mengajar di instansi B, yang metodenya melulu teori dan latihan soal. Tadinya aku menerapkan cara itu juga, tapi lama-lama akunya yang bosan, ujung-ujungnya balik ke caraku sendiri =P.
Di instansi B, sebagian besar muridnya lebih tua daripada aku, dan nyaris semuanya laki-laki. Ini juga merupakan sebuah tantangan, bagaimana caranya agar aku bisa tetap mengajar dengan menarik dan menyenangkan tanpa membuat mereka merasa terlalu nyaman hingga bisa bersikap nyeleneh atau merendahkan. Sejauh ini sih nggak ada masalah, semoga selanjutnya pun nggak.
Begitulah. Aku paling suka kalau kami melakukan brainstorming di kelas. Ada yang bertanya, ada yang menimpali, ada yang nggak setuju, ada yang berkomentar, dan lain-lain. Kelas selalu terasa jauh lebih hidup. Resikonya adalah kami jadi terlalu berisik, bisa mengganggu kelas sebelahnya kalau dindingnya tipis.
Mengajar itu menyenangkan. Tapi tentu saja, ada saatnya aku bosan. Pada saat itu, aku bersyukur memiliki kesibukan lain: menerjemahkan komik. Pasti kalian semua sudah tahu bahwa aku suka komik. Jadi, menerjemahkan komik kadang rasanya nyaris seperti bukan sedang bekerja. Ya cuma baca komik aja. Bedanya, aku kadang harus cari cara baca kanji atau arti dari suatu kata, atau memutar otak untuk merangkai kalimat dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Dan aku sih cukup menikmatinya, meskipun beberapa waktu lalu sempat sebel karena diserahi komik cewek menye-menye yang sama sekali bukan tipeku. Tapi nggak apa-apa, komik itu sudah tamat dan sekarang aku dapat serial yang lebih bagus =))
Mungkin semua pekerjaanku itu cuma freelance kecil-kecilan yang kelihatannya tidak menjanjikan. Kalau mengisi formulir dan ada kolom "pekerjaan" pun aku bingung musti nulis apa. Waktu ditanya orang pun, meskipun sudah dijawab "saya sekarang mengajar dan menerjemahkan" selalu ada pertanyaan tambahan, "nggak kerja di perusahaan Jepang? kan ada banyak." aku hanya tertawa dan tidak menjawab secara khusus.
Bukan apa-apa, tapi sampai detik ini aku sama sekali nggak berkeinginan untuk kerja di perusahaan milik Jepang. Alasan utamanya adalah karena perusahaan-perusahaan itu ada di Jakarta. Dan aku NGGAK PENGEN hidup di sana. Benar-benar nggak pengen. Dalam beberapa kali kunjunganku je Jakarta, tidak pernah memberikan kesan apapun. Entah kenapa kota itu selalu membuatku capek. Jumlah orangnya, kemacetan lalu lintasnya, jarak tempuh antar tempat yang jauh dan lama, bahkan udara di sana membuatku capek. Mungkin nanti kalau aku sudah punya firebolt aku mau ke sana. Eh, tapi kalau punya firebolt mending sekalian aja ke New Zealand, ya. Tiduran di padang rumput bersama sapi dan biri-biri.
Bagiku, sih, yang penting nggak melupakan bahasa Jepang. Toh berkat freelance sana-sini itu, aku bisa berhenti minta uang dari orang tua. Tentu saja karena aku masih tinggal di Jogja, aku masih tinggal di rumah bersama orang tua. Setidaknya aku sudah bisa menabung, sambil tetap sesekali bersenang-senang lewat karaoke atau nonton film atau belanja di toko buku. Dan toh target utamaku masih melanjutkan kuliah, jadi aku memang nggak berniat punya pekerjaan tetap dulu. Tapi, yah, yang namanya nasib, siapa yang tahu. It's still a long way to go. Nikmati saja apa yang dimiliki sekarang.
Selamat malam. Selamat menikmati hidup. =)
Ternyata lama juga aku nggak nulis di sini. Bukannya nggak ada yang bisa ditulis, malah ada banyak sekali. Saking banyaknya, semua keburu menguap ditelan kesibukan sehari-hari. Tapi malam ini aku lumayan senggang, jadi mari mengisi waktu =)
Kali ini aku ingin sedikit berbagi pengalaman tentang pekerjaan yang akhir-akhir ini mengisi hari-hariku. Setelah lulus dari jurusan Sastra Jepang, yang ada dalam kepalaku adalah bagaimana caranya agar bahasa yang kupelajari selama 4 tahun ini nggak hilang begitu saja. Jadi, sembari menunggu kesempatan untuk melanjutkan S2, aku melanjutkan pekerjaanku sebagai pengajar les privat bahasa Jepang lepas dan mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar bahasa Jepang di Jogja.
Saat ini, selain sebagai pengajar les privat, aku juga menjadi pengajar di dua instansi yang berbeda. Instansi A adalah lembimjar umum dan Instansi B adalah lembimjar untuk calon tenaga kerja magang ke Jepang. Selain itu, aku juga menjadi penerjemah komik di Instansi C. Semua pekerjaan itu bersifat freelance, jadi jadwalku dalam seminggu pun berubah-ubah. Tapi saat ini aku cukup menikmatinya, mungkin akan kubiarkan comfort zone ini memanjakanku untuk beberapa waktu ke depan. =)
Di instansi A, kebanyakan peminatnya adalah anak SMP, SMA, dan mahasiswa yang, kalau bukan penyuka budaya jejepangan, ya orang yang memang mau ke Jepang, atau keduanya. Seringkali aku menggunakan pendekatan sebagai sesama penyuka budaya jejepangan di sini. Misalnya, membuat contoh kalimat menggunakan nama karakter anime, atau memperdengarkan lagu J-Pop sebagai materi pelajaran. Menyenangkan sekali. Yang menarik adalah adanya kecenderungan anak-anak ini kelewat mendewakan segala sesuatu tentang Jepang. Aku suka geli sendiri tiap ada yang bilang, "Sensei (ya, aku dipanggil Sensei. hahaha :v), lagu-lagu Jepang itu keren banget, ya. Liriknya dalem banget (lu kate sungai). Nggak kayak lagu Indonesia, alay." atau "Drama Jepang itu ceritanya bagus banget, aktornya juga ganteng-ganteng! ihihihi. Nggak kayak sinetron, alay." dan sebagainya.
Setiap aku mendengar pendapat macam itu, aku selalu menimpali, "Ah, masak, sih? Nggak juga kok." sambil dalam hati bertanya-tanya, memangnya kamu sudah mendengarkan semua lagu Jepang dan Indonesia? Memangnya kamu sudah nonton semua drama Jepang dan sinetron Indonesia? Oh well, meskipun kualitas sinetron jaman sekarang yang memang inferior itu rasanya sudah merupakan suatu hal yang pasti, sama pastinya dengan pendapat "Bumi itu bulat" dan "Kucing itu lucu". Dan dia mengatai segala sesuatu yang di Indonesia itu alay. Bagiku, kamu yang membanggakan produk Jepang dengan membabi buta itu sebenarnya nggak kalah alay.
Tapi, yah, waktu SMA dulu aku juga begitu, kok. Biar sajalah, mungkin memang lagi umurnya harus nge-fans sama sesuatu. Toh, berkat kesukaan mereka yang sedemikian rupa terhadap Jepang, semangat belajar bahasa Jepang mereka lebih besar. Bagiku sebagai pengajar, itu yang paling penting, 'kan?
Situasi di instansi B sedikit berbeda. Di sini, sebagian besar dari mereka belum mengetahui apapun tentang Jepang. Bagiku, ini jadi gampang-gampang susah. Aku harus menggunakan pendekatan yang berbeda. Kalau di instansi A kami belajar dengan santai, di instansi B tidak bisa seperti itu. Sistem di instansi B mengharuskan murid-muridnya mengenakan seragam dan berbicara layaknya tentara--keras dan tegas. Sebenarnya, para pengajar di situ pun dituntut untuk menjadi lebih "galak", dan meskipun banyak teman mengatakan aku ini galak, menjadi galak ketika mengajar itu ternyata tak semudah yang kubayangkan.
Aku suka mengajar dengan santai, yang melibatkan banyak lelucon dan selipan cerita-cerita ringan tentang Jepang--berdasarkan pengalaman pribadiku, tentunya. Aku suka membuat kelompok-kelompok dan menyuruh mereka membuat kaiwa (percakapan) lalu menampilkannya di depan kelas. Aku suka menyuruh mereka membuat sakubun (karangan) dengan tema tertentu. Aku nggak terlalu terganggu dengan murid yang cara bicaranya agak nyolot, selama ia memperlihatkan performa yang bagus dalam belajar. Aku nggak keberatan kalau ada yang tidur di kelas, selama ia nggak mengganggu teman-temannya yang lain.
Nah, kebiasaan-kebiasaan itu sepertinya perlu dikurangi saat aku mengajar di instansi B, yang metodenya melulu teori dan latihan soal. Tadinya aku menerapkan cara itu juga, tapi lama-lama akunya yang bosan, ujung-ujungnya balik ke caraku sendiri =P.
Di instansi B, sebagian besar muridnya lebih tua daripada aku, dan nyaris semuanya laki-laki. Ini juga merupakan sebuah tantangan, bagaimana caranya agar aku bisa tetap mengajar dengan menarik dan menyenangkan tanpa membuat mereka merasa terlalu nyaman hingga bisa bersikap nyeleneh atau merendahkan. Sejauh ini sih nggak ada masalah, semoga selanjutnya pun nggak.
Begitulah. Aku paling suka kalau kami melakukan brainstorming di kelas. Ada yang bertanya, ada yang menimpali, ada yang nggak setuju, ada yang berkomentar, dan lain-lain. Kelas selalu terasa jauh lebih hidup. Resikonya adalah kami jadi terlalu berisik, bisa mengganggu kelas sebelahnya kalau dindingnya tipis.
Mengajar itu menyenangkan. Tapi tentu saja, ada saatnya aku bosan. Pada saat itu, aku bersyukur memiliki kesibukan lain: menerjemahkan komik. Pasti kalian semua sudah tahu bahwa aku suka komik. Jadi, menerjemahkan komik kadang rasanya nyaris seperti bukan sedang bekerja. Ya cuma baca komik aja. Bedanya, aku kadang harus cari cara baca kanji atau arti dari suatu kata, atau memutar otak untuk merangkai kalimat dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Dan aku sih cukup menikmatinya, meskipun beberapa waktu lalu sempat sebel karena diserahi komik cewek menye-menye yang sama sekali bukan tipeku. Tapi nggak apa-apa, komik itu sudah tamat dan sekarang aku dapat serial yang lebih bagus =))
Mungkin semua pekerjaanku itu cuma freelance kecil-kecilan yang kelihatannya tidak menjanjikan. Kalau mengisi formulir dan ada kolom "pekerjaan" pun aku bingung musti nulis apa. Waktu ditanya orang pun, meskipun sudah dijawab "saya sekarang mengajar dan menerjemahkan" selalu ada pertanyaan tambahan, "nggak kerja di perusahaan Jepang? kan ada banyak." aku hanya tertawa dan tidak menjawab secara khusus.
Bukan apa-apa, tapi sampai detik ini aku sama sekali nggak berkeinginan untuk kerja di perusahaan milik Jepang. Alasan utamanya adalah karena perusahaan-perusahaan itu ada di Jakarta. Dan aku NGGAK PENGEN hidup di sana. Benar-benar nggak pengen. Dalam beberapa kali kunjunganku je Jakarta, tidak pernah memberikan kesan apapun. Entah kenapa kota itu selalu membuatku capek. Jumlah orangnya, kemacetan lalu lintasnya, jarak tempuh antar tempat yang jauh dan lama, bahkan udara di sana membuatku capek. Mungkin nanti kalau aku sudah punya firebolt aku mau ke sana. Eh, tapi kalau punya firebolt mending sekalian aja ke New Zealand, ya. Tiduran di padang rumput bersama sapi dan biri-biri.
Bagiku, sih, yang penting nggak melupakan bahasa Jepang. Toh berkat freelance sana-sini itu, aku bisa berhenti minta uang dari orang tua. Tentu saja karena aku masih tinggal di Jogja, aku masih tinggal di rumah bersama orang tua. Setidaknya aku sudah bisa menabung, sambil tetap sesekali bersenang-senang lewat karaoke atau nonton film atau belanja di toko buku. Dan toh target utamaku masih melanjutkan kuliah, jadi aku memang nggak berniat punya pekerjaan tetap dulu. Tapi, yah, yang namanya nasib, siapa yang tahu. It's still a long way to go. Nikmati saja apa yang dimiliki sekarang.
Selamat malam. Selamat menikmati hidup. =)
Langganan:
Postingan (Atom)