Mei 11, 2013

Huruf-huruf Gemetaran


Selambang huruf h membuka matanya, dengan antusias memandang sekeliling, penasaran di medan seperti apa ia berada sekarang. Tak lama berselang, selambang huruf a muncul di sampingnya.

“Ya ampun!” seru h kaget, “jelek sekali bentukmu!”

a, merasa tersinggung, membalas, “Kau sudah melihat bentukmu sendiri belum?”

spontan h memandang ke bawah, ke badannya yang tak karuan garisnya. Meskipun ia selambang h, tapi ia terlihat seperti b.

Sekejap kemudian teman-teman huruf yang lain bermunculan, berjejer di samping mereka. Ketika semua berpandangan, komentar mereka sama, “Jelek!”

“Siapa Penggubah kita kali ini?” tanya selambang huruf y yang tampak seperti t. Mereka semua mendongak ke atas, dan menemukan manusia laki-laki yang sepertinya baru beranjak dari masa kanak-kanak, sedang membubuhkan tinta dengan ekspresi tegang luar biasa. Beberapa huruf bahkan garis tubuhnya sedikit pudar karena terkena tetes air yang berasal dari wajah Penggubah itu.

Serempak terjadi protes di sana-sini.

“Padahal sudah besar, tapi kenapa Ia membuat kita sejelek ini!?”

“Lakukan yang benar, dong!”

“Belajar lagi, sana!”

“Betul, betul!”

“Berisik sekali, sih!”

Semua pemrotes memandang ke arah sumber suara barusan. Ternyata selambang huruf k yang sudah sangat tua. Begitu tua sampai ia harus memakai tongkat untuk membantunya berdiri. Ah, tapi k memang memakai tongkat sejak kecil.

“Dasar amatiran,” lanjut kakek k lagi, “menurut kalian apa yang membuat Sang Penggubah membuat kita sejelek ini?”

Para huruf yang tak karuan bentuknya itu berpikir sebentar, mengingat pelajaran mereka bertahun-tahun silam, ketika nenek moyang mereka yang mengendap indah menghiasi dinding-dinding batu menyerahkan tugas mulia membantu manusia itu pada mereka, generasi huruf.

“Kalau tidak salah ada tiga penyebab Sang Penggubah tidak becus dalam pembuatan kita.” ujar selambang huruf g yang kakinya kelewat panjang hingga ia jadi kembar dempet dengan huruf n di sebelahnya.

“Hm...apa ya, aku tidak ingat.” timpal selambang huruf z malas, beberapa baris di bawah g tadi. z memang terkenal acuh. Ia tak pernah mendengarkan ketika para nenek moyang mengajari mereka dulu, akibatnya para Penggubah pun jarang memanggilnya dalam misi. Tapi kelihatannya ia sama sekali tak peduli.

“Beliau masih anak-anak!” tebak selambang u.

“Beliau sedang merasa sedih!” tebak selambang m, “satu lagi...”

“Beliau sedang jatuh cinta!” seru j, o, dan d bebarengan.

Kakek k menghela napas tidak sabar, “Terlambat sekali baru menyadarinya sekarang,” ia menggeleng-gelengkan kepala, “amatir...amatir...aku sudah berkelana jutaan tahun dari satu kertas ke kertas lain, untuk menjalankan misi yang sangat populer di kalangan manusia muda ini.”

Menyebalkan sekali lagaknya kakek ini. Seandainya bukan karena mengasihani bentuknya yang menyedihkan karena garis tubuhnya yang seperti nyaris mau jatuh itu, huruf-huruf di sekelilingnya pasti sudah memukulinya.   

“Tapi, lihat!” seru selambang p di baris kedua, menunjuk ke beberapa baris di bawahnya. “Yang di sana sepertinya sudah jadi lebih bagus.”

Benar saja. Beberapa baris di bawahnya, bentuk para huruf mulai membaik. Mereka mendongak ke atas, dan menyadari bahwa ekspresi Sang Penggubah telah berubah. Kecepatannya menggubah pun bertambah, ia nyaris mencapai baris paling bawah.

“Ayoo!” seru selambang huruf c menyemangati.

“Untuk apa? Dia tidak bisa mendengar kita.” kata b heran.

“Tidak apa-apa,” jawab c, “sudah turun temurun kami keluarga c selalu menyemangati Penggubah sepanjang penggubahannya.”

Tapi sorak sorai mulai bermunculan dari seluruh penjuru.

“Ayo, ayo!”

“Selesaikan!”

“Berusahalah!”

Akhirnya sampailah Sang Penggubah di baris terakhirnya, dimana ia menggubah selarik untaian huruf yang sempurna, bagaikan si cantik dan si buruk rupa apabila bersanding dengan larik huruf di baris pertama tadi.

Semuanya bertepuk tangan ketika Komandan suruhan Sang Penggubah akhirnya muncul di baris paling akhir. Komandan berbeda dengan para huruf. Ia hanya ada satu untuk setiap Penggubah, tidak ada yang sama. Tugasnyalah untuk menyampaikan misi kepada para huruf dalam sebuah gubahan. Entah apakah mereka bertugas menyampaikan sebuah curahan perasaan, tantangan, tagihan, maupun pernyataan cinta.

“Apa misi kita kali ini, Komandan?” tanya selambang huruf t yang sempurna di baris akhir.

“Menyatakan cinta! Ya, kan? Ya, kan?” sambar i usil.

“Ehem,” deham Komandan, berusaha menarik perhatian semua hadirin. Ketika semuanya mulai tenang, ia melanjutkan, “Mungkin kalian tidak ingat, tapi Tuanku ini telah berkali-kali memanggil kalian dalam misi yang sama sebelumnya. Hanya saja, ia tak pernah berhasil menyelesaikannya, sehingga misinya selalu dibatalkan.”

“Tapi hari ini, akhirnya ia berhasil menurunkanku. Hari ini, akhirnya, bersama kalian aku akan menjalankan misi pertamaku untuk menyampaikan perasaannya kepada lawan jenis.”

Terdengar siulan dan sorakan riuh rendah dari para hadirin. “Bagus, anak muda!” teriak kakek k.   

“Maaf, komandan!” teriak selambang huruf di baris paling atas. Huruf-huruf lain menoleh. “Kalau Beliau memang telah berhasil menggubah hingga akhir, kenapa Beliau tidak memperbaiki bentuk kami? Lihat, kami masih jelek begini!”

Komandan tersenyum, “Tidak apa-apa. Bagaimanapun kalian muncul karena Tuanku sedang mengumpulkan keberaniannya pada awal gubahan. Sekarang, lihatlah keseluruhan barisan ini. Tuanku tidak ingin menghapus prosesnya. Keberadaan kalianlah yang menunjukkan usahanya yang sesungguhnya.”

Huruf-huruf gemetaran berpandangan, kemudian berdiri dengan dada lebih membusung. Misi ini pasti akan mereka selesaikan.

Seiring dengan hormat singkat dari Komandan, seluruh penghuni kertas memandang sekilas ke atas, ke arah wajah puas yang bahagia, hingga wajah itu hilang dari pandangan karena mereka telah dimasukkan dalam pesawat tempur, siap menjalankan misi.


-selesai-

April 23, 2013

Kalo Mau Request Komik Mbok Dipikir Dulu

Halo semua.

Sebelumnya kuingatkan bahwa postingan kali ini mungkin mengandung banyak istilah atau kata atau hal yang tidak kalian mengerti kalo kalian bukan penggemar manga. Tapi kalo mau tetep baca ya silakan, toh inti isinya tetap pendapatku tentang sesuatu. 

Jadi belum lama ini, karena satu dan lain hal, aku harus nge-like fan page salah satu penerbit komik terbesar di Indonesia yang kebetulan menerbitkan manga favoritku seumur hidup (yang kebetulan juga nggak terkenal =P): Tomo'o. Berkat itu, aku jadi tahu informasi tentang komik apa saja yang mereka terbitkan setiap minggu dan minggu lalu aku menemukan wall post yang menyatakan bahwa setiap hari selasa (kalo nggak salah), mereka menerima request komik yang ingin pembaca terbitkan. Aku pribadi sangat menghargai aktivitas ini, dan dengan segera mengusulkan seinen manga berjudul Uchuu Kyoudai (bagus banget, sumpah. coba baca scanlation-nya deh kapan2). Di wall fan page itu, kita yang ingin request harus menulis sesuai format yang telah mereka tentukan, yaitu judul disertai data komik lengkap termasuk sinopsis dan komentar kita terhadap komik tersebut. Setelah aku menuliskan dengan lengkap semua yang perlu ditulis sesuai format, dan setelah dengan agak setengah mati mengurangi dorongan untuk menulis sinopsis yang kelewat detail karena aku-nya kelewat semangat, aku iseng melihat-lihat komik2 lain yang di-request oleh orang2 lain. Dan menurutku, beberapa request sedikit mengejutkan.

Aku menemukan beberapa request judul manga yang tidak kubayangkan bakal bisa terbit secara resmi di Indonesia. Nggak perlu kutulis apa saja judulnya, yang jelas manga2 ini benar2 sarat dengan konten seksual (baik yang normal maupun yang kelainan, sampe yang ekstrim macam seks dengan mayat ato hantu, ato nge-seks terus pasangannya dimakan hidup2) dan kekerasan (bukan sekedar pedang2an ato jotos2an level One Piece, tapi yang ekstrim macam merobek manusia pake tangan kosong sampe kebelah dua, terus ususnya dimakan, dan potongan tubuh sisanya dihancurkan sampe jadi bubur organ tubuh), dan konten2 lain yang melibatkan penyimpangan2 sosial khas Jepang seperti ijime (bullying), hikikomori (semacam NEET), dll. Intinya, manga yang penuh disturbing image dan ideologi, yang kalo kita mau baca di situs2 mangascan, bakal ada peringatan "warning, categorized as 'mature', therefore may contain bla bla bla don't read if you under 18" tapi tetep bisa di-klik jadi ujung2nya siapa aja bisa baca -_-. 

Kenapa aku bisa tahu konten2 manga seperti itu? Karena aku memang membaca beberapa di antaranya. Beberapa yang tidak kubaca pun, akhirnya jadi kucari tahu karena penasaran. Dan ada, memang, satu atau dua manga yang--lepas dari isinya yang penuh manusia telanjang dan organ2 yang beterbangan--dari segi cerita memang bagus, diakui di Jepang, populer, sampai dibuat film. Aku sendiri juga lumayan suka. Tapi tetap, menurutku TIDAK SEMUA manga (atau apapun) bisa diterbitkan secara resmi dan terbuka, dijual untuk umum, bisa dibaca siapa saja--di Indonesia.

Mungkin kita semua sudah tahu, bahwa di sini orang masih menganggap "komik" itu konsumsi anak2. "Udah gede kok masih baca komik" kata mereka. Masalah ini sungguh klise, tapi nyatanya ini memang jadi masalah. Berkat (atau akibat?) Naruto dkk yang ceritanya meledak luar biasa di kalangan anak2, aku yakin banyak anak sudah mulai membaca komik sejak SD atau SMP. Beberapa dari mereka mungkin sudah bisa membacanya di internet, kalo nggak keberatan dengan teksnya yang berbahasa Inggris. Tapi sebagian besar pasti--karena uang jajan anak2 yang nggak seberapa--menjadikan rental komik (atau yang selalu disebut sebagai Taman Bacaan di Jogja--meskipun dibilang taman bacaan juga, yang disewain cuma komik doang -_-) sebagai destinasi mereka untuk bisa baca komik secara murah--gratis, malah, kalo baca di tempat.

Bagi kalian yang nggak tahu, Taman Bacaan (biasa disingkat TB) menyewakan segala jenis komik, nggak pandang bulu. Komik2 porno bajakan tanpa sensor--dan tanpa cerita--pun beredar tanpa basa-basi di situ. Beberapa penjaga TB mungkin masih peduli dan dengan sabar menasehati anak2 di bawah umur yang coba2 pinjam komik yang tidak sesuai dengan usia mereka. Tapi yang lain aku rasa nggak bakal peduli, yang penting ada yang pinjem komik, bayar, balikin, beres.

Nggak cuma anak2 yang patut dikhawatirkan, melainkan juga orang2 dewasa yang berpendidikan kurang sehingga wawasan dan pemikirannya belum terbuka (eh tunggu, kedua hal ini mungkin nggak selalu berbanding lurus ya, bisa jadi berpendidikan tinggi tapi pikiran sempit). Masih dalam konteks konsumen komik, pasti orangnya bermacam2 dan dari lingkungan yang berbeda2. Melepaskan manga2 ekstrim tadi ke khalayak umum--ke toko2 buku, ke rental2 komik--sama aja kayak jual bir di toko permen. Nggak layak, meskipun dengan embel2 tulisan "Dewasa" di covernya dan hasil sensoran kasar yang saking banyaknya editornya sampe monjrot.

Untungnya, sang penerbit dengan bijak menolak sebagian besar permintaan manga2 yang semacam itu. Gilanya, udah jelas ditolak mentah2--nggak jarang sang admin mengeluarkan kata2 yang ketus dan dingin sebagai penolakan yang tegas--tapi si peminta masih juga ngeyel maksa dan memohon2 agar komik itu diterbitkan, beberapa malah minta sampai berkali2 -_-. Belum lagi banyak dari mereka yang menulis request tidak sesuai format, atau yang melampirkan sinopsis sekenanya copy-paste dari situs mangascan, jadi masih pake bahasa Inggris -_-. Aku ngerti banget perasaannya si admin. Sabar ya, min.

Begitulah, aku suka banget manga, bahkan yang ekstrim psyco apapun itu, aku tetap menikmati semuanya, sekadar sebagai hiburan. Hanya saja, menurutku beberapa jauh lebih baik tetap menjadi konsumsi para pengguna internet. Nggak perlu lah diterbitin cetak legalnya. Kalo bener2 pengen versi cetaknya, online shopping aja terus terjemahin sendiri. Be wise of what you read, mates. Kalo sekiranya akan berpengaruh buruk terhadap dirimu, nggak usah dibaca.

Baca Tomo'o wae.

Tomo'o 16 (yang terakhir terbit di sini, status masih ongoing) by Oda Tobira.


Maaf ya kalo postingan ini geje. Aku cuma agak geregetan.



Sampai ketemu lagi =)       
    

Maret 28, 2013

Kucing Loncat


Ulin adalah seorang gadis kecil yang agak gila, kata orang-orang.

Ia sering berbicara sendiri, tiba-tiba bernyanyi, tiba-tiba marah. Orang-orang di sekitarnya tak pernah mengerti apa yang ia katakan. Pada awalnya, mereka masih memperlakukannya dengan baik, namun kelamaan mereka muak dan mulai mengacuhkannya. Toh tak ada bedanya bagi Ulin, karena dia selalu hidup dalam dunianya sendiri, kata mereka.

Belakangan Ulin sering memanggil-manggil orang di sekitarnya, menarik-narik tangan mereka, menjambaki rambut, menampar-nampar pipi. Karena telah sepakat untuk mengacuhkannya, semua orang diam saja diperlakukan begitu. Tapi ulah Ulin semakin menjadi-jadi. Ia berteriak meraung-raung sambil memukul-mukul siapapun yang bisa diraihnya. Semua orang menjadi habis sabar.

"Apa, sih?!" hardik salah satu dari mereka.

"Kucing loncat!" jawab Ulin keras, tangannya menunjuk-nunjuk liar entah ke mana, matanya yang besar membulat, napasnya putus-putus.

Semua orang mengernyitkan dahi, tapi tidak ada yang membalas ucapannya lagi. Mereka semua beranjak meninggalkan Ulin.

"Kucing loncat! Kucing loncat! Kucing loncat!" teriak Ulin berulang kali, entah frustasi, entah senang, entah apa, tak satupun dari mereka yang tahu, tak satupun dari mereka menanggapi.

"...kucing loncat..." ujar Ulin lirih, mengawasi semua orang pergi meninggalkannya. Air menggenang di sudut matanya. 

--------------------------------------------------------------- 

Beberapa hari setelah itu, Ulin nyaris tidak pernah terlihat. Ia hanya terlihat berlarian di suatu tempat selama beberapa saat, lalu menghilang. Memanjati pohon-pohon di taman, lalu hilang. Memainkan ayunan yang berderit-derit, lalu hilang. Semua orang merasa lega karena tak harus menghadapi kenakalan Ulin lagi. 

Tapi tidak demikian halnya dengan Nala, gadis 20 tahun yang baru pindah ke daerah itu. Ia mengkhawatirkan Ulin, yang mungkin sendirian dan entah berada di mana. Mungkin kesepian dan kelaparan. Mungkin merasa tidak diinginkan dan bisa jadi berpikiran untuk kabur.

Maka Nala pergi mencari Ulin. Ia mencari di rumah-rumah, taman, sungai, pepohonan, tanah lapang. Ia mencari ke segala tempat di daerah itu yang mungkin didatangi Ulin. Tapi ia tak juga menemukannya. Langit mulai gelap, membuat firasat Nala tidak enak. Ia merasa harus menemukan Nala malam ini, atau segalanya akan terlambat. 

Tiba-tiba tertangkap oleh matanya, sebuah pohon di atas bukit tak jauh dari sana, tempat yang belum ia lihat. Jalan naik ke bukit itu cukup terjal, maka tadi ia langsung mengeliminasinya dari daftar. Tapi kalau dipikir lagi sekarang, mungkin sekali Ulin berada di sana. Mungkin mudah saja bagi badan Ulin yang mungil untuk memanjati bebatuan itu.

Maka Nala pun pergi ke sana, mendaki setapak demi setapak. Bajunya robek-robek, tangannya luka, seluruh tubuhnya lecet, peluhnya bertetesan. Tapi akhirnya ia berhasil memanjat sampai ke atas, dimana pohon yang besar dan rindang telah menantinya. Dan bersandar di bawah pohon itu--Ulin.

Menghembuskan napas lega, Nala mendekati Ulin dan duduk di sampingnya. Tepat di bawah mereka, rumah-rumah mulai menyalakan lampu, dan matahari menghilang dari pandangan.

Lalu terlihatlah oleh Nala, siluet yang terbentuk oleh lampu-lampu di bawah mereka, berwarna-warni membentuk lengkungan yang indah.

"Kucing loncat." bisik Ulin.

Ya, siluet kerlap-kerlip lampu itu memang terlihat seperti bentuk kucing yang sedang melompat. Sekarang Nala sudah mengerti. 

"Iya, bagus, ya." ujar Nala, memandang Ulin, yang balas memandangnya dengan mata berbinar-binar.

Tiba-tiba Ulin melonjak berdiri. "Orang tidur!" katanya sambil menunjuk bukit-bukit di kejauhan, yang setelah diperhatikan bentuknya seperti orang sedang tidur telentang.

"Dinosaurus!" teriaknya sambil menunjuk bayangan reruntuhan sebuah gedung yang diterangi cahaya lampu jalan. Meskipun butuh waktu, Nala dapat melihat maksud Ulin yang melihat siluet bayangan itu seperti bentuk Tyrannosaurus.

"Payung! Bebek! Kuda! Tangan!" seru Ulin girang sambil menunjuki gugusan-gugusan bintang yang menggerombol di beberapa tempat di atas mereka.

"Kucing loncat!" teriak Ulin dengan nada mantap, kembali menunjuk kota di bawah mereka, mengakhiri perjalanan imajinasinya. Matanya membulat bersinar-sinar memandang Nala.

"Iya," jawab Nala, tersenyum. "Bagus, ya."

Lalu Ulin kembali duduk di samping Nala, kepalanya bersandar. Di dekat mereka, seekor kucing tiba-tiba muncul.

"Kucing loncat!" teriak Nala dan Ulin bebarengan.


-selesai-