Januari 08, 2011

(no title)

Aku memiliki tiga orang sahabat: Surya, Ana, dan Fani.

Surya luar biasa pintar, dan juga luar biasa kaya. Begitu kayanya sampai tak pernah sekalipun ia perlu melihat label harga atau nilai tukar mata uang. Ia tak pernah mengkhawatirkan krisis global atau harga barang yang terus naik. Ia tak pernah mencemaskan apapun.

Ana berasal dari keluarga menengah yang bahagia. Ia tidak terlalu pintar, namun ia cantik dan dewasa. Ia berpegang teguh pada agamanya dan tak pernah ragu melangkahkan kakinya. Ia selalu terlihat percaya diri berjalan di jalan yang telah ia pilih.

Fani sedikit misterius. Ia jarang membicarakan dirinya, namun ia merupakan seorang pengamat yang baik. Ia juga mempunyai selera humor yang tinggi. Hanya dengan beberapa patah kata ia bisa membuat seseorang terpingkal-pingkal hingga sakit perut.
Terkadang ia menghilang, tapi selalu kembali kepada kami.

Kami telah bersahabat cukup lama.


Suatu hari, datang seorang perempuan dalam lingkaran persahabatan kami. Ia bernama Reni, cantik dan atraktif. Kami bersedia menjadikannya teman kami.

Namun setelah beberapa waktu berselang, aku menyadari bahwa keputusan kami salah.

Reni adalah seorang penyihir jahat.

Ia melakukan segala cara untuk mendapatkan cinta Surya. Ia menghipnotis, mencuci otak, menghapus ingatan, memberi berbagai ramuan kepada lelaki malang itu, hingga akhirnya Surya berubah menjadi anjing peliharaan bodoh yang tergila-gila kepadanya.

Ia mencengkoki Ana dengan berbagai makian dan cacian pedas yang menusuk Ana bagaikan gergaji mesin. Sambil tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, ia terus menusuk Ana, mencabik-cabiknya, mengulitinya, hingga gadis malang itu hanya berupa selongsong kosong—mayat hidup yang bisa berjalan.

Fani?
Ia pergi menghilang entah kemana. Ia pergi tanpa tanda, dan tak pernah kembali.

Reni telah mengacaukan segalanya.

Ia adalah seorang perempuan bermuka dua—bahkan lebih—yang dengan mudah dapat menelanjangi dirinya dengan menjual fitnah dan gosip palsu tentang orang lain demi mendapatkan simpati.

Ia menjilati satu sepatu baru setelah memuntahi sepatu lamanya, yang dulu ia jilati dengan bernafsu pula.

Ia senang membunuh, dan selalu tertawa girang saat melakukannya. Ia membunuh orang-orang yang membahayakan reputasinya, lalu menggantung mereka terbalik di kawat listrik, di tiang bendera, di tali jemuran, di mana-mana, agar ia bisa menyaksikan para pengikutnya menertawakan mayat-mayat itu.

Ya, ia bahkan punya banyak pengikut—orang-orang hina yang memuja kebejatannya.


Reni adalah penyihir kejam yang sakit jiwa.


Aku ingin mengambil kembali ketiga sahabatku, namun apa dayaku?
Aku pengecut dan sendirian.

Pengecut dan sendirian.
  
Karena itu aku membutuhkan Surya.
Karena itu aku membutuhkan Ana.
Karena itu aku membutuhkan Fani.

Entah bagaimana caranya, aku akan mengambil mereka kembali, meskipun itu akan memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun.
Entah bagaimana caranya.
Entah bagaimana caranya.


Entah bagaimana caranya
.




-bersambung hingga entah kapan-

Desember 30, 2010

Suatu Saat Nanti, Pasti.

Hello there,,

Sudah jutaan taun aku nggak menulis blog.

Mengingat koneksi internetku yang kelewat lambat, aku memang menghindari segala bentuk hubungan dengan dunia maya, termasuk facebook dan bahkan membaca manga scan yang sangat aku sukai.

Tapi kali ini aku sangat sangat sangat ingin menulis. Ada satu hal yang begitu mengusik pikiranku, sampai aku rela mengorbankan waktu dan kesabaran menghadapi koneksi internet yang jalannya bagaikan keong-hamil-sembilan-bulan-anak-kembar-lima ini.

I’ts all about The one and only 2010 AFF Cup.

Memang sudah jutaan kali dibahas dimana-mana—di TV, koran, majalah—bahkan kau mungkin sudah bosan mendengarnya menjadi pembahasan di lingkungan sekitarmu, tapi aku nggak peduli.

Aku sudah membaca sebagian bahasan dari koran dan televisi, tapi aku tetap ingin menuliskannya, pendapatku sendiri tentang segala hingar-bingar AFF yang semalam telah berakhir.

Aku menonton pertandingan final tadi malam tanpa absen sedetikpun. Aku melihat Indonesia mengalahkan Malaysia dengan skor 2-1, tapi tetap kalah agregate 4-2.
Aku sudah nggak peduli dengan skornya.
Ada satu hal yang aku yakini setelah menonton pertandingan itu: Tim Indonesia bermain dengan SANGAT BAGUS.

Sungguh. Serius.
Terlepas dari tendangan penalti sang kapten Firman Utina, yang lemah dan berhasil ditangkap sama kiper Malaysia, dan kesalahan pemain belakang yang membiarkan si Safee Sial (anggap aja salah tulis) itu menambah gol satu lagi buat negeri tetangga kita itu, tim garuda bermain dengan luar biasa.
Di luar ekspektasiku, setidaknya.

Pembangunan serangan yang mereka lakukan, passing2 pendek dengan sentuhan one-two dan diakhiri dengan crossing yang indah.
Banyak sekali kesempatan yang mereka ciptakan. Aku nggak ngitung sih, tapi kira2 ada lebih dari 10 deh. Seandainya, seandainya, paling nggak separuh dari kesempatan itu berhasil mereka selesaikan, pasti Indonesialah yang memegang piala itu.

Aku sangat suka menonton sepak bola.
Aku merasakan badai emosi yang sedemikian rupa setiap kali melihat bola itu bergulir di lapangan, dari satu kaki ke kaki yang lain, menciptakan sebuah irama dalam permainan sepak bola yang indah.

Itulah yang kurasakan semalam. Aku begitu terkesan. Aku terharu sampai hampir menangis ketika menyaksikan perjuangan mereka, dari awal hingga akhir tiada henti berusaha menggempur pertahanan lawan.

Oke, mungkin aku terlihat agak lebay.
Apa boleh buat, jujur saja, selama ini aku tidak begitu memperhatikan perkembangan sepak bola dalam negeri. Tidak untuk PSSI, apalagi yang klub2 daerah. Ditambah lagi banyaknya berita buruk tentang dunia persepakbolaan kita, mulai dari penonton lokal yang mau nonton bola pada bawa clurit sama kerikil, sampai skandal koruptor Nurdin Halid sang ketua PSSI, yang dengan tidak tahu malu sampai hari ini menolak untuk mundur.

Aku baru benar2 mengikuti sepak bola kita tahun ini, dalam perhelatan AFF Cup ini.
Dan jangan salah—aku TIDAK tiba2 tertarik dengan timnas karena ada si ganteng Irfan Bachdim yang sensasional itu. Jangan salah paham.

Sekarang, setelah aku melihat dengan mata kepala sendiri potensi para pemain yang kita miliki, aku sangat sangat sangat menyesali keadaan kepengurusan PSSI yang kurang tanggap terhadap perkembangan ini.

Seperti artikel yang ditulis oleh Anton Sanjoyo dalam kolom olahraga KOMPAS hari ini:
”PSSI tak perlu malu untuk mengakui bahwa selama ini abai terhadap youth development. Ratusan miliar tiap tahun berputar dalam persepakbolaan nasional, tetapi nyaris tak ada yang menetes ke pembinaan usia dini. PSSI terlalu asyik masyuk mengurusi kompetisi paling top: Liga Super indonesia, yang memang seksi, bergelimang uang, berlimpah sponsor, bermewah dengan liputan media.”

Like this.
Uang, sponsor, dan media mungkin memang telah membutakan kita, sampai2 menjelang pertandingan final yang penting, para pemain timnas sempat diajak berpolitik dengan makan siang bersama Abu Rizal Bakrie dan para petinggi golkar, lalu makan malam bersama menteri ini dan itu, lalu istighosah bersama Nurdin Halid dan para kyai. Riedl sang pelatih tidak setuju karena menurutnya pemain perlu waktu lebih untuk mempersiapkan diri, tapi orang2 politik itu mana mau dengar. Kuasa Riedl tidak cukup untuk menghentikan ambisi bodoh mereka ikut2an nyumbang nama sebagai orang-yang-mempengaruhi-keberhasilan-timnas.

Hasilnya? Kita dibabat 3-0.
Mampus.
Penonton kecewa.
Pemain tegang.
Pasar taruhan rugi.
Riedl ngamuk. (nggak ding)

Makan tuh tanah pemberian Bakrie dan istighosah Nurdin.

Sumpah aku sebel banget kemarin pas kita kalah. Bukan sebel sama pemainnya, bukan juga sama suporter Malaysia yang nyorot2in laser dan nyumet petasan di tengah pertandingan.
Laser dan petasan tidak akan mengganggu seandainya pemain kita cukup persiapan hingga bisa konsentrasi penuh dalam pertandingan. Menurutku, laser dan petasan suporter Malaysia cuma jadi kambing hitam atas alasan yang sebenarnya: kurangnya persiapan pemain karena kebanyakan acara-nggak-penting-tapi-melelahkan.

Sebenarnya petasan itu malah bisa jadi inspirasi bagi suporter Indonesia. Bisa aja kita nyumet petasan ditengah2 pertandingan, bukan buat pemain Malaysia, tapi lempar aja ke kursi para pengurus PSSI. Haha.

Anyway, semuanya sudah berakhir sekarang. Perjalanan timnas kita masih panjang. Setelah ini masih ada ajang2 lain yang menanti. Aku percaya dan berharap, kalau permainan kita seindah tadi malam, dengan jam terbang yang semakin banyak dan tak pernah berhenti belajar dari setiap pertandingan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, entah kapan, timnas kita bisa ikut World Cup. (amiiin)

Maafkan aku karena selama ini meremehkan kalian dan terlalu sibuk memuja Barcelona. Mulai sekarang aku akan mulai memperhatikan perkembangan kalian dan terus mendoakan keberhasilan kalian.

Karena itu jangan menyerah. Boleh saja koruptor semakin merajalela, para penjilat semakin menjilat-jilat, dan media massa semakin ngawur. Tugas kalianlah untuk senantiasa menjaga kesucian dan keindahan sepak bola—tugas yang sama berlaku bagi para suporter. Tidak perlu ada pertengkaran, pertaruhan, atau segala bentuk kegiatan apapun yang bisa menodai dunia persepakbolaan kita yang tengah berkembang menuju arah yang bagus.
Aku berdoa. Aku memohon kepada kita semua.


Suatu saat nanti, aku akan mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang di kancah dunia.
Suatu saat nanti, aku akan melihat seragam merah putih dengan lambang garuda itu kalian kenakan di tanah rantauan.
Suatu saat nanti, aku akan menjagokan kalian—Indonesia—dan bukannya Spanyol atau Belanda atau Jerman atau Argentina.
Suatu saat nanti, pasti.



Happy New Year.

September 19, 2010

Kursi Reyot, Segelas Teh, dan Mbok Lasmi di Suatu Siang

Halo semua.
Berikut ini adalah cerpen yang kukirim ke majalah--entah bulanan, semesteran, atau tahunan--punya Fakultas Psikologi UGM.
Ceritanya sangat simpel karena saya lupa deadline akhirnya hanya mengerjakannya dalam satu malam. -_- jadi kalo jelek harap maklmum ya *ngerayu*

-----------------------------------------------------------------------------------
Kursi Reyot, Segelas Teh, dan Mbok Lasmi di Suatu Siang

 Citra berguling di tempat tidurnya, menggeliat dan menguap beberapa kali, sebelum akhirnya terbangun sepenuhnya. Ia mengerjapkan mata, kebingungan. Cahaya matahari menerobos masuk lewat celah jendela kayu yang renggang, menciptakan seleret garis kuning di seprai Citra yang usang. Sudah jam berapa ini? Masih kebingungan, gadis kecil itu melihat ke arah jam dinding, dan terperangah.

Masya’Allah!” teriaknya sambil melompat dari tempat tidur, yang memprotes dengan berderit keras mengerikan. Jam telah menunjukkan pukul 08.15, sudah sangat terlambat untuk pergi ke sekolah. Kenapa pula bapak dan ibu tidak membangunkannya?

Seketika ia tersentak, tertegun sebentar, lalu mulai tertawa terbahak-bahak. Ya ampun, bagaimana mungkin ia bisa lupa? Kenyataan yang menyenangkan datang dengan begitu mendadak—siapa yang sadar, dengan rutinitas setiap hari harus bangun pukul 05.00 pagi, dan tiba-tiba saja pagi itu, di hari pertama liburan semester itu, keharusan tersebut hilang entah kemana. Tentu saja, ini liburan semester!

Luapan kebahagiaan membanjiri pikiran dan perasaan Citra. Libur! Akhirnya, libur! Ya ampun, sudah enam bulan lamanya ia merindukan liburan, dan liburan itu akhirnya datang juga. Seperti mendapat kejutan di hari ulang tahun. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Akhirnya ia membuka jendela kayunya yang sudah renggang—bukan karena faktor cuaca atau semacamnya—tapi karena sudah terkikis waktu dan dimakan rayap. Masih senyam-senyum sendiri, ia menghirup napas dalam-dalam, membiarkan wajahnya disiram sinar matahari pagi. Alhamdulillah, pagi yang cerah di hari pertama liburan. 

Ia mengawali harinya dengan shalat subuh yang sangat terlambat. Biasanya saat libur ibu selalu membangunkannya untuk subuhan tepat waktu, namun setelah Citra naik kelas 5 semester lalu, ibu beranggapan Citra sudah cukup besar untuk belajar bangun pagi sendiri, sehingga ibu tidak lagi repot-repot membangunkannya. Dan Citra memang memegang tanggung jawabnya dengan baik, sampai hari ini. Yah, ia tidak akan mengulanginya lagi—semoga.

Setelah melakukan rutinitas pagi; shalat, merapikan kamar, mandi, dan sarapan, ia duduk berselonjor di ruang tamu sekaligus ruang keluarganya yang sempit. Kedua orang tuanya sudah pergi bekerja. Bapaknya adalah pegawai serabutan yang sering gonta-ganti pekerjaan, dan ibunya berjualan tempe di pasar. Bapak dan ibu selalu sibuk, jadi Citra sendirian di rumah, setengah melamun memikirkan kegiatan menyenangkan apa saja yang ingin dilakukannya dua minggu ke depan. Sambil melamun, ia berjalan ke luar ke teras, melayangkan pandang ke rumah-rumah di sekeliling rumahnya. Pandangannya terhenti di kerumunan orang di rumah tetangganya, Mbok Lasmi.

Mbok Lasmi adalah seorang janda tua yang hidup seorang diri. Beliau baru pindah ke rumah sebelah Citra minggu lalu, dan kemarin Mbok Lasmi mulai membuka usaha kecil berjualan lauk-pauk di pagi hari dan gorengan di sore harinya. Citra sendiri belum pernah mencoba masakan buatan Mbok Lasmi, namun ia sudah bertatap muka secara langsung pada hari pertama Mbok Lasmi menjadi tetangga Citra.
 
Mbok Lasmi berperawakan sedang; tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek; tidak gemuk, tapi juga tidak kurus. Meskipun keriput sudah menghiasi wajahnya, Citra tahu bahwa Mbok Lasmi pasti cantik sewaktu masih muda. Sekarang pun kecantikan itu masih terlihat, terutama saat beliau tersenyum—yang sayang sekali jarang dilakukannya. Meskipun begitu, terlihat dari pandangan mata dan tutur katanya bahwa beliau wanita yang ramah.
  
Lebih dari semua penampilan fisik Mbok Lasmi, ada sesuatu pada dirinya yang selalu membuat Citra sangat tertarik. Entah gerak-geriknya, atau kelembutan suaranya. atau mungkin aura yang dipancarkannya, Citra tak tahu pasti. Seperti melihat pemandangan yang sangat indah, membuat kita sulit untuk mengalihkan pandang sebelum pemandangan itu terusik oleh sesuatu. Sama halnya saat Citra memandangi Mbok Lasmi tengah melakukan sesuatu, ia tak bisa mengalihkan pandangannya sebelum beliau ganti mengerjakan hal lain atau hilang dari pandangan. Hal itu membuat Citra penasaran dengan Mbok Lasmi, mendorongnya untuk mengenal beliau lebih dekat.
  
Masih setengah melamun, Citra mendorong pagar besinya yang berkarat hingga terbuka, dan berjalan telanjang kaki menghampiri meja tempat Mbok Lasmi berjualan. Kerumunan orang mulai menipis seiring matahari yang kian meninggi, begitu pula dengan lauk jualan Mbok Lasmi yang tinggal sedikit. 

Arep tuku opo, nduk?” tanya Mbok Lasmi ramah begitu melihat Citra datang.

Citra tersentak, menyadari dirinya ternyata sudah berada di depan jualan Mbok Lasmi. Ia melayangkan pandang ke jajaran piring yang beberapa diantaranya sudah kosong. ”Eh...”

Opo?” tanya Mbok Lasmi lagi, ”tinggal sambal endhog sama mendoan.” 
 
”Eh..mboten, anu...” gagap Citra, ”saya mau membantu mbok” tambahnya cepat-cepat, tiba-tiba mendapat ide.

Mbantu opo?” tanya Mbok Lasmi bingung.
      
”Membantu mbok beres-beres jualan.” kata Citra cepat, ”Saya lagi libur.”

Mbok Lasmi tampak terkejut, ditawari bantuan seperti itu oleh seorang anak SD yang sedang libur. ”Lho, ono opo iki? Ndak pergi main sama teman-temanmu aja to, nduk?”

Citra menggeleng sambil berkata dengan sungguh-sungguh, ”Nggak. Saya nggak ada kerjaan, Mbok. Bapak sama ibu juga pergi. Saya mau membantu Mbok aja.”

Sementara Citra berkata seperti itu, pelanggan terakhir Mbok Lasmi ternyata telah membeli sisa lauk yang ada, menyisakan piring-piring kotor di atas meja. Mbok Lasmi memandang Citra sebentar. ”Ya sudah, nek kamu maunya begitu, ayo bantu mbok bawa piring-piring ini.”

Senang sekaligus sedikit heran dengan keberaniannya, Citra menumpuk piring-piring kotor itu lalu mengangkatnya, tidak berat. ”Dibawa ke mana, Mbok?”

”Dapur.” jawab Mbok Lasmi sambil sibuk membereskan meja dan tetek bengek peralatan, ”Mlebu wae, di belakang.”

Citra membawa piring-piring itu ke dapur sambil jelalatan melihat bagian dalam rumah Mbok Lasmi. Ruangan dalam rumah itu hanya ada satu, dari pintu langsung terlihat bagian belakang, namun ada sekat yang membatasi ruang depan dengan dapur. Tempat itu rapi dan bersih, tapi biasa saja; tidak ada perabotan yang menarik. Tentu saja, apa yang kau harapkan dari seorang janda tua yang hidup sendiri dan menyambung hidup dengan berjualan lauk-pauk? Hiasan dinding dari kepala rusa yang diawetkan?

Sambil mendengus geli membayangkan kemungkinan itu, dengan cekatan Citra mulai bekerja. Hidup dengan kedua orang tua yang sibuk membuat Citra—meskipun di usianya yang masih kecil—terbiasa mengerjakan segala pekerjaan rumah sendiri. Hanya dalam beberapa menit ia sudah selesai mencuci piring, dan tanpa bertanya atau disuruh ia sekalian membereskan pekerjaan dapur lain yang sepertinya belum sempat dilakukan Mbok Lasmi tadi pagi; membuang sampah dan membersihkan dapur.

Sekitar setengah jam kemudian ia sudah duduk nyaman di sofa reyot Mbok Lasmi di ruang depan—per-nya sudah mencuat kemana-mana—dengan segelas teh manis hangat di tangannya. Mbok Lasmi menyusul dengan segelas tehnya sendiri sejurus kemudian, duduk di kursi rotan yang sama reyotnya, di samping Citra.

”Makasih ya, nduk.” kata Mbok Lasmi. ”Kerjaan mbok jadi cepat selesai.”

”Sama-sama.” jawab Citra, tersenyum.

 Hening sejenak saat mereka menyeruput teh masing-masing. Citra mengerling Mbok Lasmi diam-diam, mengamatinya. Cantik, namun terlihat tidak bahagia, seperti ada beban berat di pundaknya, membayangi mata dan raut wajahnya. Lalu Citra sadar, ia belum pernah benar-benar hanya berdua dengan Mbok Lasmi sebelumnya.

”Mbok, kenapa pindah rumah ke sini?” tanya Citra, memulai pembicaraan.

Mbok Lasmi memandang ke luar jendela, menerawang. ”Dulu rumah Mbok di tengah sawah, nduk. Ndak punya tetangga. Biasanya Mbok jualan lauk di pasar yang jauh dari rumah, diantar suami Mbok naik sepeda, tapi terus suami Mbok seda.”

Jeda sebentar. Citra merasa agak salah tingkah, harus sampai ke topik ini, namun Mbok Lasmi melanjutkan, ”Susah nduk, setelah suami Mbok meninggal, Mbok ndak bisa naik sepeda. Terlalu jauh kalau harus jalan kaki dari rumah ke pasar. Terus teman Mbok menyarankan untuk tinggal di sini. Ini rumah teman Mbok, dekat ke mana-mana dan biaya kontraknya murah, jadi ya Mbok mau aja.”

Citra mengangguk-angguk sebagai respons. Lalu ia lanjut bertanya memancing, sedikit lancang, ”Anu, suami Mbok...?”

”Meninggal karena sakit, stroke.” sahut Mbok Lasmi singkat, mengerti maksud pertanyaan Citra yang tidak selesai. Beliau menyeruput tehnya lagi, pandangannya menerawang jauh, seperti mulai melamun. ”Orang yang baik, suami Mbok itu,” lanjutnya tiba-tiba. ”kaku dan kolot, tapi baik. Beliau orang Jawa tulen tapi juga pemeluk islam yang kuat; ndak mau ikut tradisi kejawen di kampung.” Mbok Lasmi menoleh singkat, memandang Citra penuh arti, ”Ngerti to, bangsane padusan; adus-adus sebelum ramadhan, yang semacam itu, beliau ndak mau ikut-ikutan. Dulu waktu kami masih tinggal di kampung, wong-wong kampung jadi suka ngomongin, soalnya kami ndak pernah ikut tradisi kejawen di sana, padahal kejawen di sana kuat. Tapi suami Mbok ndak peduli. Beliau ingin kami melaksanakan ajaran islam dengan benar. Dan Mbok setuju itu. Makanya Mbok selalu tahan diomongin orang.”

Mbok Lasmi setengah tersenyum, pikirannya sudah tak berada di tempatnya lagi, berkelana ke masa lalu. ”Yang terbaik, beliau itu. Mbok sangat bersyukur bisa menjadi istrinya, melayani dengan segenap jiwa Mbok sampai akhir hayatnya.”

Citra ikut melamun, membayangkan seperti apa rupa pria yang membuat Mbok Lasmi jatuh cinta setengah mati itu. Mungkin tidak tampan, tapi cukup simpatik dengan ketegasan dan kekuatan iman yang dimilikinya. Dan yang terpenting, tetap setia hingga tutup usia.

”Dulu Mbok dijodohkan, nduk, sama beliau.” lanjut Mbok Lasmi tanpa dipancing. ”Ndak kayak jaman sekarang, dulu jodoh-jodohan gitu yo biasa. Mbok percaya sama pilihan orang tua Mbok, jadi ya Mbok terima.”

Citra tiba-tiba teringat beberapa adegan sinetron yang kadang ia lihat di televisi, dimana seorang gadis ABG—diperankan artis blasteran—kabur dari rumah hujan-hujanan saat orang tuanya tiba-tiba menjodohkannya dengan seorang pria—juga blasteran—pemilik suatu perusahaan besar di Jakarta. Entah apakah zaman sekarang memang selalu seperti itu apabila terjadi perjodohan, atau sinetron-sinetron itu yang terlalu mengada-ada, Citra tidak tahu.

”Mbok percaya wong tuwa itu selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Lha ini buktinya, kami tetap bisa setia sampai umur segini.” kata Mbok Lasmi lagi. ”Ndak kayak artis-artis itu, le pacaran suwe banget, eh, menikah tiga tahun, njuk cerai,” beliau menggeleng-gelengkan kepalanya, ”ndak masuk akal.”

Citra mengangguk-angguk mengiyakan, meskipun ia sendiri tidak terlalu tahu karena ibu tidak memperbolehkannya menonton program infotainment. ”Jadi Mbok nggak tahu wajah calon suami Mbok sendiri?”

”Iya,” jawab Mbok Lasmi. ”ketemunya yo pas ijab-kabul kuwi.” Beliau terkekeh sebentar, kerutan di wajahnya tidak mengurangi kecantikannya. ”Tadinya Mbok sempat takut nek wong e elek, tapi ternyata guanteng tur apikan, lho. Alhamdulillah.”

Oh, jadi bayangan Citra tadi salah; ternyata almarhum suami Mbok Lasmi tampan. Citra jadi bertanya-tanya tentang sesuatu, namun takut mengutarakannya.

”Mbok,” ujar Citra, ragu-ragu, tapi akhirnya memberanikan diri. ”nggak punya anak?”

Mbok Lasmi terdiam. Demikian juga Citra, yang tiba-tiba merasa tidak enak. Setelah sepersekian detik yang canggung, akhirnya Mbok Lasmi menjawab, ”Ndak punya anak, nduk. Entah kenapa ndak dikasih sama Gusti Allah.”

”Maaf.” bisik Citra menyesal.

Ndak apa-apa, dengan begitu Mbok malah jadi bisa fokus merawat suami.” sahut Mbok Lasmi. Setelah itu raut wajahnya jadi berbayang lagi. Cahaya yang tadi muncul saat beliau mengenang masa lalunya telah hilang, membuat Citra jadi semakin menyesal.

Lalu jawaban itu muncul begitu saja, mendadak dan sangat jelas, seakan sudah ada sejak awal, hanya saja Citra tidak menyadarinya.

Mbok Lasmi pastilah kesepian.

Tanpa anak tanpa suami, hidup seorang diri di lingkungan yang baru, pasti membuat Mbok Lasmi sangat kesepian. Dan rasa itu—rasa ketertarikan yang tak bisa dijelaskan di dalam diri Citra—adalah rasa simpati sebagai reaksi dari sinyal-sinyal SOS yang dikuarkan Mbok Lasmi secara tidak sengaja, membuat Citra selalu ingin melihatnya, menghampirinya, mengenalnya lebih dekat, merengkuhnya.

Senang dengan datangnya pemahaman baru ini, Citra mendadak bersemangat. Ia tahu apa yang akan ia lakukan dua minggu ke depan selama liburan.

”Wah, wis jam loro,” ujar Mbok Lasmi tiba-tiba. ”Mbok kudu siap-siap jualan gorengan. Kamu pulang aja ya, nduk. Ndak baik rumah ditinggal kosong begitu.”

Citra mengangguk, menghabiskan tehnya yang sudah dingin dalam sekali teguk, lalu melompat ke lantai. ”Matur suwun, Mbok.”

Mbok Lasmi mengambil gelas Citra dan menaruhnya di dapur. ”Lho, mestinya Mbok yang matur suwun, sudah dibantuin.”

”Citra mau lho membantu Mbok lagi besok-besok, sampai libur selesai.” tawar Citra.

”Lha—”

”Nggak apa-apa, Mbok.” tegas Citra, menyela penolakan dari Mbok Lasmi. ”Citra memang mau dan ikhlas, kok.”

Diiringi desah pasrah dan gelengan kepala dari Mbok Lasmi, Citra melenggang ke arah pintu. Tangannya memegang kenop pintu yang setengah terbuka saat ia berkata, ”Oh ya, sebagai gantinya, Mbok bisa anggap Citra sebagai anak Mbok sendiri.”

Citra mendengar gerakan yang terhenti tajam di belakangnya, lalu menoleh sedikit. Dilihatnya Mbok Lasmi memunggunginya, hendak mempersiapkan bahan-bahan gorengan. Setelah beberapa detik, didengarnya Mbok Lasmi mendesah, ”Ngomong opo, kowe ki, nduk...”

Ada senyum dalam perkataan itu, Citra yakin.

Akhirnya, diiringi salam, ia menutup pintu.




   
-----------------------------------------------------------------------------------